Jumat, 14 Agustus 2009

KTI HERNIA ABDOMINALIS

BAB I
KTI HERNIA ABDOMINALIS
By.A@ SOIM H
KONSEP DASAR
A. Pengertian
Hernia adalah merupakan protusi atau penonjolan isi suatu rongga melalui defek atau bagian lemah dari dinding rongga bersangkutan ( Syamsul Hidayat, 2000 ).
Hernia adalah merupakan protusi abnormal organ organ jaringan atau bagian organ melalui struktur secara normal berisi bagian ini ( Ester, 2001 ).
Menurut Mansjoer (2000) yang dimaksud dengan hernia abdominalis adalah penonjolan isi perut dari rongga yang normal melalui suatu defek pada fasia dan muskulo aponeurotik dinding perut, baik secara congenital atau didapat yang member jalan keluar pada setiap alat tubuh selalu yang biasa melalui dinding tersebut. Lubang itu dapat timbul karena lubang embrional yang tidak menutup atau melebar akibat tekanan rongga perut yang meninggi.
Hernia inguinalis yaitu terjadi penonjolan dibawah inguinal. Hernia ini dibagi menjadi 2 bagian yaitu:
1) Hernia inguinalis lateralis ( indirek )
Hernia yang melalui annulus inguinalis intennus yang terletak disebuah lateral vasa epigastrika inferior, memutari kanalis inguinalis dan keluar ke rongga perut melalui annulus inguinalis eksternus.
2) Hernia inguinalis medialis ( direk )
Hernia yang melalui dinding inguinal postyro medial dan vasa digastrica inverior daerah yang dibatasi segitiga hessel bach
Hernioplasti adalah memperkecil annulus inguinalis internus dan memperkuat dinding belakang kanalis inguinalis.
Kesimpulannya hernia adalah penonjolan isi suatu rongga melalui jaringan ikat tipis yang lemah (defek) pada dinding rongga itu. Dimana dinding rongga yang lemah itu membentuk suatu kantong dengan pintu berupa cincin.
B. Etiologi
Menurut Syamsul Hidayat (1998) dan Mansjoer (2000) faktor yang dipandang berperan kausual pada heria inguinalis adalah:
1. Adanya prosesus abdominalis yang terbuka
2. Pada bayi atau anak dapat terjadi karena kelainan bawaan yaitu berupa tidak menutupnya prosesus vaginalis peritoneum sebagai akibat proses penururnan testis ke skrotum
3. Annulus inguinalis yang cukup besar
4. Tekanan intra abdomen yang meningkat secara kronik seperti batu kronik, hipertropi prostat, konstipasi, asites
5. Kelemahan dinding perut dan degenerasi jaringan ikat karena usia lanjut.
6. Kehamilan multipara dan obesitas
7. Asites atau seringnya mengangkat benda yang berat
8. Sering mengejan
9. Kelemahan otot abdomen yang disebabkan oleh pembedahan



C. Patofisiologi
Secara garis besar hernia terdiri dari cincin, kantung dan isi hernia (misalnya usus atau jaringan penyangga usus). Faktor-faktor tertentu misalnya: batuk kronik, mengangkat beban berat dan lain sebagainya. Sehingga usus masuk ke dalam cincin. Hernia sering dialami oleh laki-laki dari pada wanita ini terjadi karena adanya proses perkembangan alat reproduksi pria dan wanita semasa janin. Pada janin laki-laki, testis (buah pelir) turun dari rongga perut menuju skrotum kantung kemaluan pada bulan ke tujuh hingga ke delapan usia kehamilan. Lubang yang berupa saluran itu akan menutup menjelang kelahiran atau sebelum anak mencapai satu tahun.
(http:/www.kompas.com/kesehatan/news).
Tempat-tempat yang utama untuk menunjukan kelemahan itu (tempat terjadinya hernia) seperti inguinalis, saluran femoral, umbilikus dan jaringan perut yang lama bekas operasi yang cenderung terletak pada isi rongga perut untuk bisa terjebak didalamnya yang tersering adalah terjepitnya usus halus, usus besar, omentum /isi perut yang lain (Robin & Kumar, 1995:266).
Kanalis inguinalis adalah kanal yang normal pada fetus bulan ke 8 kehamilan terjadi desenden testis melalui kanal tersebut akan menarik perineum ke daerah skrotum sehingga terjadi penonjolan peritoneum yang disebut prosesus vaginalis peritonei. Pada bayi yang sudah lahir umumnya prosesus telah mengalami obliterasi sehingga isi rongga tidak dapat melalui rongga tersebut. Namun dalam beberapa hal kanalis tidak menutup karena testis kiri turun terlebih dahulu, maka kanalis kanan lebih sering terbuka, bila kanalis kiri terbuka biasanya yang kanan juga terbuka. Dalam keadaan normal kanalis yang terbuka akan menutup pada usia 2 bulan. Prosesus terbuka terus maka akan timbul hernia inguinalis lateralis konginetal.
Pada orang tua, kanalis tersebut telah menutup namun karena merupakan lakus memoris resisten, maka pada keadaan yang menyebabkan tekanan intra abdomen meningkat (kehamilan, batuk kronis, pekerjaan mengangkat beban berat, mengejan seperti: defekasi, miksi, missal akibat hypertropi prostat) kanal tersebut dapat terbuka kembali dan dapat menyebabkan hernia inguinalis lateralis akuista. Pada orang yang mempunyai riwayat gagal jantung dapat mengalami hernia karena adanya bendungan dan tekanan pembuluh darah akibat arus balik darah dari jantung yang mengakibatkan edema pembuluh darah organ pencernaan menjadi tekanan intra abdomen sehingga rongga disekitar akan terdesak dan keluar lewat anus inguinalis internus yang terbuka lebar.

Syamsul Hidayat (1998) dan Mansjoer (2000)








D. PATHWAY
Faktor Penyebab

Konginetal penekanan tekanan kelemahan otot dinding
Intra abdomen perut di trigonum
Prosesus vaginalis Ke sel Bach
Terbuka kerusakan nervus illio inguinalis
dan nervus illio femoralis

ISI ABDOMEN TURUN relaksasi otot kanalis
inguinalis lebih vertical
disebelah vasa epigastrica interior
melalui annulus inguinalis lateral internus
kanalis inguinalis lateralis
hernia inguinalis lateral

Pre operasi pembedahan

Kondisi hernia prosedur kurang kelemahan fisik kurang
Pra dan post informasi informasi
Nyeri Operasi
Kurang
Ansietas pengetahuan



Haluaran urin Berlebihan trauma jaringan tempat masuknya kuman

E. Manifestasi klinis
Menurut Syamsul Hidayat (1998) gejala timbul hernia inguinalis lateral (pre operasi), yaitu:
1. Adanya penurunan burut/kelingsir atau benjolan di selangkangan/kemaluan
2. Benjolan bisa mengecil atau menghilang
3. Bila menangis atau mengejan dan mengangkat beban berat akan timbul benjolan
4. Rasa nyeri pada benjolan atau mual dan muntah bila sudah terjadi komplikasi
Menurut Long (1996) gejala kronis yang mungkin muncul setelah dilakukan operasi, yaitu:
1. Nyeri
2. Peradangan
3. Edema
4. Perdarahan
5. Pembengkakan skrotum setelah perbaikan hernia inguinalis indirek
6. Retensi urine
7. Ekimosis pada dinding abdomen bawah atau bagian paha
Komplikasi yang mungkin dapat terjadi pada kasus hernia menurut mansjoer dkk (2000), yaitu:
a. Hernia ireponibilis (inranserata)
Terjadi perlengketan antara isi hernia dengan dinding kantung hernia sehingga isi hernia tidak dapat dimasukkan lagi. Pada keadaan ini belum terjadi gangguan penyaluran isi usus.
b. Hernia strangulate
Terjadi penekanan terhadap cincin hernia akibat makin banyaknya usus yang masuk, keadaan ini menyebabkan gangguan aliran usus diikuti dengan gangguan vaskuler (proses strangulasi)
F. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan hernia menurut syamsul hidayat dan Jung (2004) dengan tindakan sebagai berikut:
a. Konservatif
Perubahan konservatif terbatas pada tindakan melakukan reposisi dan pemakaian penyangga yaitu memepertahankan hernia yang telah direposisi. Reposisi ini tidak dilakukan pada hernia strauguiata. Pemakaian bantalan penyangga hanya bertujuan menahan hernia yang telah direposisi dan tidak pernah menyembuhkan sehingga harus dipakai seumur hidup. Sebaiknya cairan tidak dilanjutkan karena mempunyai komplikasi, antara lain: merusak kulit dan tonus otot dinding di daerah yang tertekan sedangkan straugulasi tetap mengancam
b. Operatif
Pengobatan operatif merupakan satu-satunya cara pengobatan pada hernia yang rasional. Indikasi sudah begitu didiagnosis dan ditegakkan, ada dua jenis tindakan operatif, yaitu:
1. Hernioplasty
Pada hernioplasty dilakukan tindakan mempekecil annulus inguinalis

2. Herniotomy
Pada herniotomi dilakukan pembedahan kantong hernia sampai lehernya, kantong dibuka dan isi hernia dibebaskan kalau ada perlengketan kemudian direposisi kantung hernia dijahit ikat setinggi mungkin kalau dipotong.
Menurut Aswadi (2000) penatalaksanaan hernia yang terbaik adalah operasi dengan menutup lubang jalan hernianya. Bila bagian dinding perut yang lemah dipotong dan dijahit maka disebut hernioraphi. Bila seluruh kantung hernia dipotong misalnya pada hernia inkarserata yang telah menjadi gangrene maka disebut hernioraphy. Bila dinding perut yang lemah itu ditempati dengan fasia dari fasia otot perut maka disebut hernioplastik.
G. Pemeriksaan Penunjang
Sebenarnya diagnosa hernia sudah dapat ditegakkan sebelum adanya keluhan mengenai adanya benjolan disertai bumi berleguk, yang hilang dan timbul. Dapat dibuktikan dengan pemeriksaan fisik meliputi inspeksi, palpasi, maupun auskultasi. Namun guna memastikan hernia yang tidak tidak dapat dilakukan dengan pemeriksaan fisik dapat dilakukan pemeriksaan penunjang yaitu :
1. Pemeriksaan Diagnostik
a. Pemeriksaan peritopenium
Yaitu pemeriksaan dengan pemotretan perut mau inguinal pada posisi arah terbaik setelah dimasukkan gas oksigen kedalam rongga peritoneum melalui jarum yang disuntukkan pada dinding depan abdomen.
b. Herniografhi
Yaitu dengan menggunakan kontras lipipol guna menentukan tepat atau tidaknya kantung hernia.
c. Tes Laboratorium
a) sel darah putih : lebih dari 20.000/ml
b) sel darah merah : mungkin meningkat (13-16 gr/dl)
c) elektrolit serum : hipokalemi mungkin ada (normal 3,6-5,5
mmol)
d) kultur : organisme mungkin teridentifikasi dari darah
eksudat
H. Fokus pengkajian
a. Pola pernafasan
Adanya pernafasan normal, tidak ada suara tambahan dan tidak terdapat cuping hidung
b. Pola nutrisi
Ada mual dan muntah, penurunan nafsu makan selama sakit, lidah kotor, dan rasa pahit pada saat makan, sehingga dapat mempengaruhi status nutrisi.
c. Pola eliminasi
Adanya kebiasaan dalam BAB akan terjadi konstipasi, mengalami kesulitan defekasi adanya inkontinentia atau retensi urine.
d. Pola personal hygine
Pasien belum mampu melaksanakan personal hygine dengan baik sehingga pasien belum terlihat bersih dan segar.
e. Pola istirahat tidur
Kebiasaaan tidur akan terganggu dikarenakan adanya nyeri sehingga pasien merasa gelisah saat tidur.
f. Pola intoleransi aktivitas
Pasien akan terganggu aktivitasnyaakibat adanya kelemahan fisik serta pasien akan mengalami keterbatasan gerak akibat penyakitnya.
g. Pola berpakaian
Pasien akan lebih sering terlihat menggunakan selimut dan baju yang tipis karena kondisi pasien yang lemah dan sering demam.
h. Pola temperatur tubuh
Pasien akan mengalami perubahan suhu jika terjadi komplikasi.
i. Pola aman dan nyaman
Pasien mengalami perubahan cara berjalan, terdapat nyeri seperti tertusuk-tusuk jarum, semakin memburuk dengan batuk, bersin membengkokan badan
j. Pola komunikasi
Adanya kondisi kesehatan mempengaruhi komunikasi terhadap hubungan interpersonal dan peran serta mengalami tambahan dalam menjalankan perannya selama sakit
k. Pola spiritual
Pasien hanya dapat berdo’a di tempat tidur dan pasien menjalankan sholat lima waktu atau tidak.


l. Pola rekreasi
Pasien hanya dapat melihat atau mengetahui sesuatu hanya disekitar ruangan dimana pasien dirawat
m. Pola bekerja
Pasien lebih sering berbaring sehingga pekerjaan tidak dilakukan.
n. Pola belajar
Perubahan kondisi kesehatan dan gaya hidup akan mempengaruhi pengetahuan dan kemampuan dalam merawat diri.

(Djumadi, 2005)
I. Diagnosa Keperawatan
1. Post operasi
a. Resiko kekurangan volume cairan b.d haluaran urin berlebihan
b. Nyeri b.d trauma jaringan
c. Resiko terhadap infeksi b.d port de entry
d. Defisit perawatan diri b.d kelemahan
e. Kurang pengetahuan b.d kurangnya paparan informasi
J. INTERVENSI
Pada diagnosa keperawatan yang pertama yaitu kekurangan volume cairan, resiko dengan tujuan akhir yaitu keseimbangan cairan ditandai indicator sebagai berikut: frekuensi nadi dan irama dalam batas normal, mempertahankan urine output sesuai/dalam batas normal, serum dan pH urin dalam batas normal, elektrolit serum (N, K, Ca, Mg) dalam batas normal. Dengan ketentuan 1-5: berat, substansial, sedang, ringan atau tidak ada gangguan. (NOC, 2007:174)
Intervensinya yaitu fluid manajemen, monitor hidrasi, monitor TTV, kolaborasi pemberian cairan IV, anjurkan pasien untuk banyak minum, anjurkan keluarga untuk membantu pasien minum. (NIC, 2007:180)
Pada diagnosa keperawatan yang kedua yaitu Nyeri Akut dengan tujuan akhir kontrol nyeri ditandai dengan indikator sebagai berikut: skala nyeri berkurang ( skala 4 ), pasien mengungkapkan nyeri berkurang, pasien rileks, klien mampu beristirahat atau tiduran dengan tepat. Dengan ketentuan 1-5: ekstrem, berat, sedang, ringan, atau tidak ada.(NOC, 2007:341)
Intervensinya yaitu manajemen nyeri: kaji nyeri secara komprehensif, pertahankan istirahat dengan posisi supinasi, ajarkan teknik relaksasi, ciptakan lingkungan yang tenang, kolaborasi medis pemberian analgetik.(NIC, 2007:342)
Pada diagnosa yang ketiga yaitu Resiko terhadap infeksi dengan tujuan akhir pengendalian infeksi ditandai dengan indikator sebagai berikut: terbebas dari tanda-tanda infeksi, menunjukkan hygene pribadi yang adekuat, melaporkan hygiene pribadi yang adekuat. Dengan ketentuan 1-5: tidak pernah, jarang, kadang-kadang, sering, konsisten menunjukkan. (NOC,2007:262)
Intervensinya yaitu perlindungan terhadap infeksi: pantau tanda/gejala infeksi, pantau hasil laboratorium, instruksikan untuk menjaga hygine pribadi, ajarkan pada keluarga tanda dan gejala infeksi dan kapan harus melaporkan ke pusat kesehatan, kolaborasi pemberian antibiotik bila diperlukan. (NIC, 2007:264)
Pada diagnosa keempat yaitu Defisit perawatan diri dengan tujuan akhir menunjukkan perawatan diri aktivitas kehidupan sehari-hari ditandai dengan indikator sebagai berikut: mandi, oral hygiene, berpakaian. Dengan ketentuan 1-5: ketergantungan, membutuhkan bantuan orang lain atau alat bantu, membutuhkan bantuan orang lain, mandiri dengan bantuan alat bantu, mandiri sepenuhnya. (NOC, 2007:420)
Intervensinya yaitu bantuan perawatan diri, mandi, hygine mulut, berpakaian; kaji membrane mukosa oral, dan kebersihan tubuh setiap hari, beri dukungan untuk latihan mandi sendiri, libatkan keluarga dalam perawatan diri pasien, berikan bantuan sampai pasien mampu secara penuh untuk melakukan perawatan diri, pantau tingkat kekuatan dan toleran terhadap aktivitas, berikan kemampuan dengan mempertahankan lingkungan yang baik, motivasi keluarga untuk membantu perawatan diri pasien.(NIC, 2007:421)
Diagnosa yang kelima yaitu kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya paparan informasi dengan tujuan akhir menunjukkan pengetahuan penyakit, dibuktikan dengan indicator sebagai berikut indikator sebagai berikut: mengenal bagaimana proses pemulihan pasca operasi; mengenal perawatan pasca operasi, mampu member perawatan mandiri setelah pulang ke rumah. Dengan ketentuan 1-5: tidak ada, terbatas, cukup, banyak, atau luas.(NOC, 2007: 273)
Rencana tindakan keperawatan yaitu: mengajarkan miring kanan, kiri, duduk dan berjalan; memonitor tanda-tanda vital; anjurkan untuk tidak mengangkat beban yang berat; anjurkan untuk tidak mengejan; anjurkan perawatan luka dirumah; anjurkan cara mendeteksi tanda tanda infeksi; motivasi untuk makan makanan yang bergizi; motivasi pada pasien untuk melakukan tirah baring ( miring kanan dan kiri ).(NIC, 2007:274)
K. Implementasi
Implementasi yang dilakukan berdasarkan Intervensi yang muncul pada diagnosa sesuai dengan tujuan akhir yang diharapkan. Pada diagnosa pertama implementasinya yaitu fluid manajemen, monitor hidrasi, monitor TTV, kolaborasi pemberian cairan IV, anjurkan pasien untuk banyak minum, anjurkan keluarga untuk membantu pasien minum.
Pada diagnosa kedua, implementasinya yaitu manajemen nyeri: kaji nyeri secara komprehensif, pertahankan istirahat dengan posisi supinasi, ajarkan teknik relaksasi, ciptakan lingkungan yang tenang, kolaborasi medis pemberian analgetik.
Pada diagnosa ketiga implementasinya yaitu perlindungan terhadap infeksi: pantau tanda/gejala infeksi, pantau hasil laboratorium, instruksikan untuk menjaga hygine pribadi, ajarkan pada keluarga tanda dan gejala infeksi dan kapan harus melaporkan ke pusat kesehatan, kolaborasi pemberian antibiotik bila diperlukan.
Pada diagnosa keempat implementasinya yaitu bantuan perawatan diri, mandi, hygine mulut, berpakaian; kaji membrane mukosa oral, dan kebersihan tubuh setiap hari, beri dukungan untuk latihan mandi sendiri, libatkan keluarga dalam perawatan diri pasien, berikan bantuan sampai pasien mampu secara penuh untuk melakukan perawatan diri, pantau tingkat kekuatan dan toleran terhadap aktivitas, berikan kemampuan dengan mempertahankan lingkungan yang baik, motivasi keluarga untuk membantu perawatan diri pasien.
Pada diagnosa kelima implementasinya yaitu mengajarkan miring kanan, kiri, duduk dan berjalan; memonitor tanda-tanda vital; anjurkan untuk tidak mengangkat beban yang berat; anjurkan untuk tidak mengejan; anjurkan perawatan luka dirumah; anjurkan cara mendeteksi tanda tanda infeksi; motivasi untuk makan makanan yang bergizi; motivasi pada pasien untuk melakukan tirah baring ( miring kanan dan kiri )
L. Evaluasi
Evaluasi diambil berdasarkan data setelah dilakukan implementasi. Evaluasi pada diagnosa pertama yaitu keseimbangan cairan ditandai dengan, frekuensi nadi dan irama dalam batas normal, mempertahankan urine output sesuai/dalam batas normal, serum dan pH urin dalam batas normal, elektrolit serum (N, K, Ca, Mg) dalam batas normal.
Evaluasi pada diagnose kedua yaitu kontrol nyeri ditandai dengan skala nyeri berkurang ( skala 4 ), pasien mengungkapkan nyeri berkurang, pasien rileks, klien mampu beristirahat atau tiduran dengan tepat.
Evaluasi pada diagnosa ketiga yaitu pengendalian infeksi ditandai dengan, terbebas dari tanda-tanda infeksi, menunjukkan hygene pribadi yang adekuat, melaporkan hygiene pribadi yang adekuat.
Evaluasi pada diagnosa keempat yaitu menunjukkan perawatan diri aktivitas kehidupan sehari-hari ditandai dengan indikator sebagai berikut: mandi, oral hygiene, berpakaian.
Evaluasi pada diagnosa kelima yaitu kurangnya paparan informasi dengan tujuan akhir menunjukkan pengetahuan penyakit, dibuktikan dengan indikator sebagai berikut indikator sebagai berikut: mengenal bagaimana proses pemulihan pasca operasi; mengenal perawatan pasca operasi, mampu member perawatan mandiri setelah pulang ke rumah.














BAB II
RESUME KEPERAWATAN

A. Pengkajian
Pengkajian dilakukan pada hari rabu tanggal 20 Mei 2009 pukul 13.00 WIB oleh Fauzi Nur Cahyo di Ruang Inayah RS PKU MUHAMMADIYAH GOMBONG.
1. Identitas Pasien
Pasien bernama Tn. M umur 59 tahun, agama islam, jenis kelamin laki-laki, status sudah menikah, pendidikan terakhir tidak tamat SD, alamat rangkah 02/03 Buayan, suku/bangsa Jawa/Indonesia, pekerjaan petani. Pasien masuk tanggal 19 Mei 2009 pukul 22.00 WIB, nomor rekam medik 159.644 dengan diagnosa medis post operasi hernia inguinalis lateralis.
2. Riwayat Keperawatan
Pasien masuk RS PKU MUHAMMADIYAH GOMBONG dengan keluhan utama pasien mengatakan nyeri pada perut sebelah kiri sampai genetalia. Pasien masuk tanggal 19 mei 2009 pukul 22.00 WIB dengan keluhan nyeri, skrotum membesar, terdapat benjolan pada skrotum dan pada inguinal. Tanda-tanda vital: tekanan darah 140/90mmHg, nadi 84x/menit, respirasi rate 24x/menit, suhu 36,50C. Pasien mendapat terapi injeksi acram 2x1 40 ml, injeksi antram inoualgin 3x1, ceftriaxon 1x1 gr, cinam 2x1 0,75 gr.
Pasien mendapatkan tindakan operasi tanggal 20 Mei 2009 dengan spinal anestesi pukul 10.45 WIB dan selesai pukul 12.15 WIB. Pasien mengatakan sejak pagi tanggal 20 Mei 2009 sampai sore masih puasa. Pasien diperbolehkan makan tanggal 20 Mei 2009 pukul 21.00 WIB. Pasien makan bubur halus dan pasien minum belum adekuat 1 – 2 gelas. Didapatkan tanda – tanda vital: TD 130/80 mmhg, nadi 90x/menit, respirasi rate 26x/menit, suhu 36,70 C
Pasien mengatakan tidak ada anggota keluarga yang menderita penyakit yang sama seperti yang dialami pasien saat ini. Pasien mempunyai riwayat keturunan hipertensi tetapi tidak ada keluarga yang mempunyai penyakit menurun seperti diabetes mellitus, hepatitis, asma, dll.
3. Fokus Pengkajian
Personal hygiene sebelum sakit pasien mengatakan biasa mandi 2x sehari, dengan keramas 2x seminggu. Saat dikaji pasien hanya diseka istri 2x sehari dan belum keramas.
Pola istirahat sebelum sakit pasien mengatakan biasa tidur 7 sampai 8 jam perhari. Saat dikaji pasien tidurnya sering terbangun dan hanya tidur 5 jam perhari.
Pola gerak dan keseimbangan sebelum sakit pasien mengatakan tidak ada masalah dengan geraknya, saat dikaji gerak pasien terbatas.
Pola berpakaian sebelum sakit pasien mengatakan dapat memakai pakaian sendiri, saat dikaji pasien mengenakan pakaian dibantu keluarga.
Pola temperatur sebelum sakit pasien tidak ada masalah dengan suhu badnnya, saat dikaji suhu badan pasien dalam batas normal 36,5 0 C.
Pola kebutuhan aman dan nyaman sebelum sakit pasien mengatakan merasa aman dan nyaman, saat dikaji pasien mengatakan tidak nyaman karena nyeri pada luka operasi.
Pola belajar sebelum sakit pasien mengatakan mendengarkan berita atau infirmasi lewat televisi.
Pengkajian fokus berdasarkan komponen kesehatan, Hasil pemeriksaan fisik adalah keadaan umum baik, kesadaran compos mentis, tanda-tanda vitalnya adalah tekanan darah 130/80 mmHg, nadi 90x/menit, respirasi rate 26x/menit, dan suhu 36,70C.
Pemeriksaan head to toe kepala mesosepal, rambut beruban, lurus, agak berminyak. Mulut mukosa lembab, tidak ada stomatiis, fungsi pengecapan baik, gigi agak kotor, lidah bersih.
Abdomen: inspeksi, abdomen datar, terdapat luka post operasi hernioplasty pada abdomen sebelah kiri dengan sayatan horizontal dan, auskultasi peristaltik 15x/menit, palpasi ada nyeri tekan, perkusi bunyi timpani. Genetalia tidak ada kelainan dan terpasang DC, kulit turgor kulit baik, kulit lembab
Ekstremitas: superior, akral teraba hangat, CRT < 2 detik, kuku pendek dan sedikit kotor, tidak ada edema, terpasang infuse RL 20 tpm, dapat bergerak dengan baik. Inferior: akral teraba hangat, tidak ada edema, dapat bergerak dengan baik.
Pada tanggal 20 Mei 2009 dilakukan pemeriksaan laboratorium dengan hasil Hematologi yaitu: Haemoglobin 12,6gr% (normal 12-18 gr%), Leukosit 7.600/m3 (normal 4000-10.000/m3), Ureum 40 mgr/dl (normal 10-50 mgr/dl), Albumin 3,36 mg/dl (normal 3,6-5,4 mg/dl), Kalium 3,41 mmol/l (normal 3,6-5,5), Kreatinin 0,9 mgr/dl (normal 0,5-1,1 mgr/dl), Golongan darah A, Gula Darah Sewaktu 119 mgr/dl (normal 100-130 mgr/dl), Faktor pembekuan 6 menit (normal 1-6 menit).
Pada tanggal 20 Mei 2009 diberi terapi injeksi acran 2x1 amp, injeksi antrain 3x1 500 mg, bactesin 2x1 0,25 gr. Pada tanggal 21 mei 2009 diberi terapi cifrofloxacin 2x1 500 mg, mefinal 3x1 500mg, non flamin 1x1 50 mg, cortidex 3x1.
B. Analisa Data
Pada tanggal 20 Mei 2009 pukul 12.00 WIB diperoleh data subyektif yaitu pasien mengatakan tidak tahu tentang perawatan post operasi. Sedangkan data obyektifnya adalah pasien dan keluarga bertanya tentang perawatan post operasi, pemulihan dan perawatan pasca operasi. Dari data tersebut penulis menyimpulkan diagnosa keperawatan yang timbul adalah kurangnya pengetahuan tentang aktivitas yang harus dilakukan setelah operasi berhubungan dengan kurangnya pemahaman terhadap informasi.
Pada tanggal 20 Mei 2009 pukul 12.00WIB diperoleh data subjektif pasien mengatakan masih lemas, pusing, takut untuk bergerak. Sedangkan data objektif pasien terlihat lemah, pembatasan gerak karena bed rest, nyeri, pasien tidak mampu ke kamar mandi, Dari data tersebut penulis menyimpulkan diagnosa keperawatan deficit perawatan diri berhubungan dengan pembatasan gerak karena kelemahan.
Pada tanggal 20 Mei 2009 pukul 12. 00 WIB diperoleh data subjektif pasien mengatakan ada luka operasi perut sebelah kiri. Sedangkan data obyektif yaitu terdapat luka post operasi hernioplasty hari ke-1 di abdomen kiri bawah dan tengah, terdapat balutan luka sepanjang 15 cm, tekanan darah 140/90 mmHg, nadi 90 x/menit, respirasi rate 22 x/menit, suhu 36,6C, respirasi 20X/menit. Sedangkan data subyektif tidak terkaji. Dari data tersebut penulis menyimpulkan diagnosa keperawatan resiko tinggi infeksi berhubungan dengan port de entry microorganisme.
Pada tanggal 21 Mei 2009 pukul 08.00 WIB diperoleh data subyektif yaitu pasien mengatakan nyeri di perut sebelah kiri bekas operasi, nyeri timbul jika bergerak nyeri hilang jika tiduran, nyeri seperti di tusuk tusuk, nyeri pada sekitar luka dan abdomen dengan skala 6 dan waktu 5 menit. Sedangkan data obyektifnya adalah gangguan tidur, wajah terlihat kusut, pucat, gerakan melindungi, ekspresi wajah kesakitan dengan tekanan darah 140/90 mmHg, nadi 90 x/menit, respirasi rate 26 x/menit, suhu 36,6C, ada luka operasi. Dari data tersebut penulis menyimpulkan diagnosa keperawatan yang timbul adalah nyeri akut berhubungan dengan terputusnya kontinuitas jaringan atau trauma jaringan.
Prioritas Diagnosa Keperawatan
Berdasarkan diagnosa keperawatan yang muncul pada pasien, penulis membuat prioritas diagnosa menurut Maslow adalah sebagai berikut:
1. Nyeri berhubungan dengan terputusnya kontinuitas jaringan atau trauma jaringan.
2. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya paparan informasi.
3. Resiko infeksi berhubungan dengan port de entry microorganisme.
4. Defisit perawatan diri berhubungan dengan pembatasan gerak karena kelemahan
C. Intervensi, Implementasi, Evaluasi
1. Nyeri akut yang harus dilakukan karena berhubungan dengan terputusnya kontinuitas jaringan atau trauma jaringan.
Tujuannya yaitu setelah dilakukan tindakan keperawatan nyeri dapat berkurang, dibuktikan indikator sebagai berikut (dengan ketentuan 1-5: ekstrem, berat, sedang, ringan, tidak ada): skala nyeri berkurang; awal 3, tujuan 5; pasien mengungkapkan nyeri berkurang; awal 3, tujuan 5; pasien rileks; awal 3, tujuan 1; klien mampu beristirahat dengan tepat; awal 2, tujuan 4.
Rencana tindakan keperawatan yaitu manajemen nyeri: monitor keadaan umum pasien, pantau nyeri secara komprehensif, seperti: lokasi, karakter, skala dan durasi, pertahankan posisi supine untuk istirahat, ajarkan tekhnik distraksi relaksasi, ciptakan lingkungan yang tenang, kolaborasi medis pemberian analgetik.
Tindakan keperawatan yang sudah dilakukan pada tanggal 20 Mei 2009 pukul 12.00 WIB adalah menerima pasien dari IBS dan memonitor keadaan umum dengan hasil Memonitor tanda-tanda vital dengan hasil: tekanan darah 130/90 mmHg, nadi 80x/menit, respirasi rate 20x/menit, suhu 36,70C.
Pada tanggal 21 Mei 2009 pada pukul 08.00 WIB dilakukan memonitor keadaan umum dan tanda-tanda vital dengan hasil keadaan umum cukup tekanan darah 140/90 mmHg, nadi 90 x/menit, respirasi rate 26 x/menit suhu 36,60C. Pada pukul 08.15 WIB memantau nyeri dengan hasil nyeri seperti ditusuk tusuk, nyeri disekitar luka dan perut dengan skala 6 dan waktu 5 menit. Pada pukul 08.30 WIB mengajarkan tekhnik distraksi relaksasi dengan hasil pasien paham dengan apa yang dianjurkan. Pada pukul 08.50 WIB memberikan obat oral yaitu cifrofloxacin, mefinal, cortidex diminum tanpa alergi. Pada pukul 11.00 WIB melakukan terapi relaksasi dan distraksi dengan hasil pasien tampak tenang, nyeri berkurang skala 5 dan tampak rileks. Pada pukul 11.15 WIB memberikan lingkungan yang tenang dengan hasil pasien dapat beristirahat dengan tenang. Pada pukul 13.00 WIB memonitor tanda-tanda vital dengan hasil tekanan darah 140/90 mmHg, nadi 90 x/menit, respirasi rate 24 x/menit, suhu 36,60C. Pada pukul 13.30 memberikan lingkungan yang tenang dengan hasil pasien dapat beristirahat. Pada pukul 14.00 WIB memberikan obat oral dengan hasil pasien minum obat mefinal dan cortidex.
Evaluasi pada hari selasa tanggal 21 Mei 2009 pukul 14.00 WIB data subyektif pasien mengatakan masih nyeri, nyeri timbul jika untuk bergerak dan tak terduga nyeri berkurang jika istirahat, nyeri seperti ditusuk tusuk, nyeri disekitar luka denga skala 5 dan waktu 5 menit. Data obyektifnya pasien terlihat meringis kesakitan dan tampak gelisah dengan tekanan darah 140/90 mmHg, nadi 90 x/menit, respirasi rate 90 x/menit, suhu 36,70C. Hal ini berarti masalah belum teratasi, dibuktikan dengan indikator sebagai berikut: skala nyeri berkurang; awal 3, tujuan 5, akhir 3; pasien mengungkapkan nyeri berkurang; awal 3, tujuan 5, akhir 3; pasien rileks; awal 3, tujuan 1, akhir 2; klien mampu beristirahat dengan tepat; awal 2, tujuan 4, akhir 3.
Intervensi selanjutnya yaitu memonitor keadaan umum pasien, pantau nyeri secara komprehensif, anjurkan untuk menggunakan tekhnik distraksi relaksasi dan kolaborasi pemberian obat.
Pada tanggal 22 Mei 2009 pukul 07.45 WIB mengobservasi keadaan pasien dengan hasil cukup baik tetapi masih lemas. Pada pukul 08.00 WIB memonitor tanda-tanda vital dengan hasil tekanan darah 130 mmHg, nadi 84 x/menit, respirasi rate 22 x/menit, suhu 36,70C. pada pukul 08.15 WIB mengobservasi nyeri dengan hasil nyeri seperti ditusuk-tusuk di daerah luka dengan skala 4 dan waktu 4 menit. Pada pukul 08.30 WIB memberikan obat oral dengan hasil pasien minum obat cifrofloxacim, mefinal, cortidex. Pada pukul 09.00 WIB mengobservasi apakah tekhnik distraksi relaksasi masih digunakan dengan hasil pasien mengatakan masih dan berhasil mengalihkan nyeri.
Evaluasi pada tanggal 22 Mei 2009 data subyektif pasien mengatakan nyeri berkurang,nyeri timbul jika untuk duduk,nyeri berkurang ketika istirahat atau berbaring,nyeri seperti dicubit,skala nyeri 3. Data obyektif pasien tampak rileks, wajah ceria, tidak terjadi gangguan tidur (wajah tidak pucat), TD 130/80 mmhg, nadi 80x/menit, respirasi 20x/menit, suhu 36,50C. Masalah nyeri teratasi sebagian. Rencana selanjutnya monitor kondisi pasien, motivasi pasien untuk menggunakan teknik distraksi relaksasi jika nyeri timbul.
2. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya paparan informasi
Tujuan dilakukan tindakan keperawatan diharapkan pasien dan keluarga pengetahuannya bertambah, dibuktikan indikator sebagai berikut (dengan ketentuan 1-5: tidak ada, terbatas, cukup, banyak, atau luas): mengenal bagaimana proses pemulihan pasca operasi; awal 1, tujuan 4; mengenal perawatan pasca operasi; awal 1, tujuan 4; mampu member perawatan mandiri setelah pulang ke rumah; awal 1, tujuan 3.
Rencana tindakan keperawatan yaitu: mengajarkan miring kanan, kiri, duduk dan berjalan; memonitor tanda-tanda vital; anjurkan untuk tidak mengangkat beban yang berat; anjurkan untuk tidak mengejan; anjurkan perawatan luka dirumah; anjurkan cara mendeteksi tanda tanda infeksi; motivasi untuk makan makanan yang bergizi; motivasi pada pasien untuk melakukan tirah baring ( miring kanan dan kiri ).
Tindakan keperawatan yang dilakukan pada tanggal 20 Mei 2009 pukul 12.30 memonitor tanda-tanda vital dengan hasil Memonitor tanda-tanda vital dengan hasil: tekanan darah 130/90 mmHg, nadi 80x/menit, respirasi rate 20x/menit, suhu 36,70C. Pada pukul 13.00 WIB memberikan injeksi acran 40 mg dan injeksi novalgin/antram 40 mg. Pada pukul 13.15 memantau tanda-tanda vital dengan hasil tekanan darah 130/90 mmHg, nadi 78x/menit, respirasi rate 20x/menit, suhu 36,70C. Pada pukul 13.30 mengajarkan pasien miring kanan dan miring kiri dengan hasil pasien paham dengan apa yang diajarkan, memotifasi pasien untuk miring kanan dan kiri dengan hasil pasien menyatakan mau melakukan, memotifasi pasien untuk makan-makanan yang bergizi dengan hasil pasien dan keluarga mengerti apa yang disampaikan.
Evaluasi dilakukan pada tanggal 20 Mei 2009 pukul 14.00 WIB data subyektif klien mengatakan cukup paham mengenai perawatan post operasi di RS dan periode pemulihan pasca operasi. Data obyektifnya pasien dan keluarga masih bertanya tentang perawatan mandiri setelah pulang ke rumah. Hal ini berarti masalah belum teratasi dibuktikan dengan indicator sebagai berikut: mengenal bagaimana proses pemulihan pasca operasi; awal 1, tujuan 4, akhir 3; mengenal perawatan pasca operasi; awal 1, tujuan 4, akhir 3; mampu memberi perawatan mandiri setelah pulang ke rumah; awal 1, tujuan 3, akhir 1.
Intervensi selanjutnya yaitu berikan pendidikan kesehatan dan bantu untuk berlatih miring, duduk dan berjalan, anjurkan pasien untuk tidak mengejan.
Pada tanggal 21 Mei 2009 pada pukul 07.30 membantu latihan duduk dengan hasil pasien sudah bisa duduk tetapi belum bias lama. Pada pukul 09.30 WIB memberikan pendidikan kesehatan nutrisi pasca operasi dengan hasil keluarga dan pasien mengikuti dengan antusias serta memahami apa yang disampaikan. Pada pukul 10.00 WIB memotivasi dan membantu pasien miring kanan kiri dan duduk dengan hasil pasien mau berusaha dan mencoba. Pada pukul 10.15 WIB membantu pasien memakaikan baju dengan hasil pasien belum bisa duduk maksimal, pakaian diganti pasien mampu mengancingkan bajunya. Pada pukul 10.30 WIB menganjurkan pasien untuk mengejan dengan hasil pasien paham dengan apa yang disampaikan. Pada pukul 12.00 WIB memberikan diit dengn hasil pasien menghabiskan makanan yang disediakan RS.
Evaluasi dilakukan pada tanggal 21 Mei 2009 pukul 14.00 WIB data subyektif klien mengatakan sudah paham tentang pemulihan pasca operasi dan perawatan post operasi di rumah sakit. Sedangkan data obyektif pasien dan keluarga masih bertanya tentang mengganti balutan jika dirumah dan takut terkena infeksi. Hal ini berarti masalah belum teratasi dibuktikan dengan indicator sebagai berikut: mengenal bagaimana proses pemulihan pasca operasi; awal 1, tujuan 4, akhir 3; mengenal perawatan pasca operasi; awal 1, tujuan 4, akhir 3; mampu memberi perawatan mandiri setelah pulang ke rumah; awal 1, tujuan 3, akhir 1. Intervensi selanjutnya yaitu: anjurkan perawatan luka dengan prinsip antiseptik, ajarkan cara identifikasi tanda-tanda infeksi, anjurkan untuk tidak mengejan dan mengangkat benda berat selama proses pemulihan.
Pada tanggal 22 Mei 2009 pukul 09.30 memotivasi pasien dan membantu pasien untuk berjalan dengan hasil pasien mau berlatih, namun masih lemas. Pada pukul 10.30 mengganti balutan sesuai instruksi dokter dan memberikan perawatan luka dengan hasil luka bersih tidak ada pus dan tidak ada tanda-tanda infeksi. Pada pukul 10.45 mengajarkan perawatan luka dirumah kepada pasien dan keluarga dengan hasil keluarga dan pasien memhami apa yang disampaikan. Pada pukul 11.00 mengajarkan cara mendeteksi tanda tanda infeksi dengan hasil keluarga dan pasien memahami. Pada pukul 11.30 menganjurkan untuk tidak mengejan dan mengangkat benda berat selama proses penyembuhan dengan hasil pasien mengerti dan memahami.
Evaluasi dilakukan pada tanggal 22 Mei 2009 pada pukul 13.00 WIB dengan data subyektif pasien mengatakan sudah paham tentang proses pemulihan pasca operasi dan perrawatan pasca operasi, badannya sudah tidak kaku. Data obyektifnya pasien mampu duduk dengan mandiri serta jalan-jalan disekitar ruangan dengan bantuan keluarga, minum 5-6 gelas sehari. Hal ini masalah teratasi. Dibuktikan dengan indicator: dibuktikan dengan indicator sebagai berikut: awal 1, tujuan 4, akhir 4; mengenal perawatan pasca operasi; awal 1, tujuan 4, akhir 4; mampu memberi perawatan mandiri setelah pulang ke rumah; awal 1, tujuan 3, akhir 3.
Intervensi selanjutnya motivasi pasien untuk latihan mobilisasi dan makan dan minum secara adekuat.
3. Resiko infeksi berhubungan denga port de entri microorganisme
Tujuannya yaitu setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan tidak terjadi infeksi sekunder, dibuktikan indikator sebagai berikut (dengan ketentuan 1-5: tidak pernah, jarang, kadang-kadang, sering, konsisten menunjukkan): tidak ada tanda-tanda infeksi (kemerahan, bengkak, panas, nyeri dan keluarnya purulen) serta luka jahitan bersih dan kering; awal 1, tujuan 4; menunjukkan hygine pribadi yang adekuat; awal 2, tujuan 4 ; melaporkan tanda/gejala infeksi serta mengikuti prosedur pemantauan; awal 1, tujuan 4. Rencana tindakan keperawatan pantau tanda/gejala infeksi (missal: suhu tubuh, denyut jantung, penampilan luka, suhu kulit, lesi kulit), pantau hasil laboratorium (hasil-hasil yang berbeda, protein serum, albumin, leukosit), instruksikan untuk menjaga hygien pribadi untuk melindungi tubuh terhadap infeksi, monitor tanda-tanda vital, amati luka dari tanda-tanda infeksi, lakukan perawatan luka dengan tehnik aseptic dan gunakan kassa steril untuk merawat dan menutup luka, cuci tangan sebelum dan sesudah melakukan tindakan, ajarkan pada pasien dan keluarga tanda atau gejala infeksi, kolaborasi pemberian antibiotik.
Tindakan keperawatan yang sudah dilakukan pada tanggal 20 Mei 2009 pukul 13.00 WIB adalah mengkaji keadaan umum pasien dengan hasil keadaan umum baik dan kesadaran compos mentis. Memonitor tanda-tanda vital dengan hasil tekanan darah 130/80 mmHg, nadi 80x/menit, respirasi rate 22x/menit, suhu 36,60C. Pada pukul 15.45 WIB melepas infus RL 20 tetes per menit pada ekstremitas atas dengan hasil luka bekas tusukan jarum bersih dan tidak terjadi tromboflebitis.
Evaluasi dilakukan pada tanggal 20 Mei 2009 pukul 17.00 WIB data obyektif terdapat luka post operasi hari ke-1, dan tanda-tanda vital hasil tekanan darah 130/80 mmHg, nadi 80x/menit, respirasi rate 22x/menit, suhu 36,60C. Hal ini masalah belum teratasi, dibuktikan dengan indicator sebagai berikut: tidak ada tanda-tanda infeksi (kemerahan, bengkak, panas, nyeri dan keluarnya purulen) serta luka jahitan bersih dan kering; awal 1, tujuan 4, akhir 1; menunjukkan hygine pribadi yang adekuat; awal 2, tujuan 4, akhir 3; melaporkan tanda/gejala infeksi serta mengikuti prosedur pemantauan; awal 1, tujuan 4, akhir 1. Intervensi selanjutnya pantau tanda-tanda infreksi, pertahankan tehnik aseptik setiap mengganti balutan, cuci tangan sebelum dan sesudah tindakan dan kolaborasi pemberian antibiotik.
Pada tanggal 21 Mei 2009 pukul 08.00 WIB dilakukan memonitor tanda-tanda vital dengan hasil tekanan darah 140/80 mmHg, nadi 90x/menit, respirasi rate 26x/menit, suhu 36,60C. Pada pukul 08.20 WIB mengajarkan pada pasien teknik mencuci tangan yang benar dengan hasil pasien memahami apa yang disampaikan perawat. Pukul 08.30 WIB memberikan obat antibiotic cifrofloxacin tablet 500 mg dengan hasil pasien minum tanpa alergi, mengganti balutan dan mengangkat jahitan selang seling dengan hasil luka bersih dan kering, balutan kering, tidak terdapa pus dan kemerahan. Pukul 13.00 WIB memonitor tanda-tanda vital dengan hasil tekanan darah 140/90 mmHg, nadi 90 x/menit, respirasi rate 26x/menit dan suhu 36,6 0C.
Evaluasi pada hari selasa tanggal 21 Mei 2009 pukul 14.00 WIB data obyektif luka masih tertutup, tanda-tanda vital dengan hasil tekanan darah 140/90 mmHg, nadi 90 x/menit, respirasi rate 26 x/menit dan suhu 36,6 0C. Hal ini masalah belum teratasi, dengan dibuktikan indicator sebagai berikut tidak ada tanda-tanda infeksi (kemerahan, bengkak, panas, nyeri dan keluarnya purulen) serta luka jahitan bersih dan kering; awal 1, tujuan 4, akhir 2; menunjukkan hygine pribadi yang adekuat; awal 2, tujuan 4, akhir 3; melaporkan tanda/gejala infeksi serta mengikuti prosedur pemantauan; awal 1, tujuan 4, akhir 1. Intervensi selanjutnya pantau tanda-tanda infreksi, pertahankan tehnik aseptik setiap mengganti balutan, cuci tangan sebelum dan sesudah tindakan dan kolaborasi pemberian antibiotik.
Pada tanggal 22 Mei 2009 pukul 08.30 WIB dilakukan tindakan memonitor tanda-tanda vital dengan hasil tekanan darah 130/80 mmHg, nadi 80 x/menit, respirasi rate 20 x/menit, suhu 36,6 0C. Pada pukul 08.30 memberikana obat antibiotic cifrofloxacin 500 mg dengan hasil pasien minum tanpa alergi. Pada pukul 09.15 WIB mengganti balutan luka dengan hasil luka bersih dan kering tidak ada pus dan kemerahan. Pada pukul 13.00 WIB memonitor tanda-tanda vital dengan hasil tekanan darah 130/80 mmHg, nadi 80 x/menit, respirasi rate 20 x/menit, dan suhu 36,6 0C.
Evaluasi pada hari rabu tanggal 22 Mei 2009 pukul 13.00 WIB dengan data obyektif luka bersih dan kering serta tidak ada pus dan kemerahan, tanda-tanda vital tekanan darah 130/80 mmHg, nadi 80x/menit, respirasi 20x/menit, suhu 36,5 C. Hal ini masalah sudah teratasi, dibuktikan dengan indicator sebagai berikut tidak ada tanda-tanda infeksi (kemerahan, bengkak, panas, nyeri dan keluarnya purulen) serta luka jahitan bersih dan kering; awal 1, tujuan 4, akhir 4; menunjukkan hygine pribadi yang adekuat; awal 2, tujuan 4, akhir 3; melaporkan tanda/gejala infeksi serta mengikuti prosedur pemantauan; awal 1, tujuan 4, akhir 3. Intervensi selanjutnya pantau tanda-tanda infeksi, pertahankan tehnik aseptik setiap mengganti balutan, cuci tangan sebelum dan sesudah tindakan dan kolaborasi pemberian antibiotik.
4. Defisit perawatan diri berhubungan dengan pembatasan gerak karena bedrest
Tujuannya yaitu setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan defisit perawatan diri berkurang dibuktikan, indikator sebagai berikut (dengan ketentuan 1-5: ketergantungan, membutuhkan bantuan orang lain atau alat bantu, membutuhkan bantuan orang lain, mandiri dengan bantuan alat bantu, mandiri sepenuhnya) : mandi; awal 3, tujuan 1; hygine mulut; awal 2, tujuan 1; berpakaian; awal 2, tujuan 1.
Rencana tindakan keperawatan yaitu: bantuan perawatan diri, mandi, hygine mulut, berpakaian; kaji membrane mukosa oral, dan kebersihan tubuh setiap hari, beri dukungan untuk latihan mandi sendiri, libatkan keluarga dalam perawatan diri pasien, berikan bantuan sampai pasien mampu secara penuh untuk melakukan perawatan diri, pantau tingkat kekuatan dan toleran terhadap aktivitas, berikan kemampuan dengan mempertahankan lingkungan yang baik, motivasi keluarga untuk membantu perawatan diri pasien.
Tindakan keperawatan yang dilakukan pada tanggal 20 Mei 2009 pukul 13.40 WIB memotivasi keluarga untuk membantu dalam perawatan diri pasien dengan hasil keluarga mau membantu. Pada pukul 13.50 WIB memantau tingkat kekuatan pasien dengan hasil kondisi pasien masih lemah.
Evaluasi dilakukan pada tanggal 20 Mei 2009 pukul 14.00 WIB Data subyektifnya pasien mengatakan masih lemas, pusing, takut untuk bergerak. Data objektifnya pasien terlihat lemah dan pasien diseka oleh keluarga. Hal ini berarti masalah belum teratasi dibuktikan dengan indicator sebagai berikut: mandi; awal 3, tujuan 1, akhir 3; hygine mulut; awal 2, tujuan 1, akhir 2; berpakaian; awal 2, tujuan 1, akhir 2.
Intervensi selanjutnya bantu aktivitas sampai pasien mampu mandiri, kaji kekuatan pasien, motivasi keluarga untuk selalu membantu dalam kebutuhan pasien.
Pada hari kamis tanggal 21 Mei 2009 pukul 07.30 WIB mengobservasi membrane mukosa dan membersihkan tubuh dengan hasil kulit lembab, mukosa oral dalam batas normal, gigi kotor. Pada pukul 07.45 membantu menggosok gigi dengan hasil pasien menggosok gigi sendiri. Pada pukul 10.15 WIB membantu pasien memakai baju dengan hasil pasien belum bias duduk maksimal, pakaian diganti, pasien mampu mengancingkan bajunya.
Evaluasi dilakukan pada tanggal 21 Mei 2009 pada pukul 14.00 WIB dengan data subyektif data subyektif klien mengatakan mandi masih diseka 2x sehari, belum keramas. Data obyektif rambut masih tampak berminyak, gigi bersih.Hal ini berarti masalah belum teratasi. Dengan dibuktikan indicator sebagai berikut: mandi; awal 3, tujuan 1, akhir 3; hygine mulut; awal 2, tujuan 1, akhir 2; berpakaian; awal 2, tujuan 1, akhir 2. Intervensi selanjutnya yaitu bantu perawatan diri pasien, motivasi pasien pentingnya melakukan perawatan diri.
Pada tanggal 22 Mei 2009 pada pukul 07.30 menanyakan pada keluarga apakah pasien sudah diseka dan menggosok gigi dengan hasil pasien sudah diseka dan menggosok gigi sendiri.
Evaluasi dilakukan pada tanggal 22 Mei 2009 pada pukul 13.00 WIB dengan data subjektif pasien mengatakan mandi masih diseka dan dibantu oleh keluarga, data obyektifnya kuku pendek dan bersih, rambut masih tampak kotor, gigi bersih. Masalah deficit perawatan diri: mandi/hygine teratasi sebagian dengan dibuktikan indikator sebagai berikut: mandi; awal 3, tujuan 1, akhir 3; hygine mulut; awal 2, tujuan 1, akhir 2; berpakaian; awal 2, tujuan 1, akhir 2.
Rencana selanjutnya dorong dan Bantu klien melakukan perawatan diri dan memotivasi pasien pentingnya melakukan perawatan diri


BAB III
PEMBAHASAN

Pembahasan tentang asuhan keperawatan yang berjudul Asuhan Keperawatan pada Tn.M dengan Gangguan Sistem Pencernaan: Post Operasi Hernioplasty hari ke-1 di Ruang Inayah RS PKU Muhammadiyah Gombong yang telah penulis laksanakan dengan metode pemecahan masalah secara alamiah dan pendekatan proses keperawatan. Hal-hal yang dibahas meliputi pengertian dari diagnosa, alasan diagnosa ditegakkan, alasan memprioritaskan masalah, rasionalisasi, kekuatan dan kelemahan dalam pelaksanaan rencana tindakan serta bagaimana hasil evaluasi dari masalah keperawatan.
1. Nyeri akut berhubungan dengan inkontinuitas jaringan.
Nyeri adalah Pengalaman sensori serta emosi yang tidak menyenangkan dan meningkat akibat adanya kerusakan jaringan yang actual atau potensial, digambarkan dalam istilah seperti kerusakan, awitan yang tiba – tiba atau perlahan dari intensitas ringan sampai berat dengan akhir yang dapat di antisipasi atau di ramalkan dan durasinya kurang dari enam bulan (Wilkinson, J.M, 2007:338).
Masalah nyeri didukung oleh adanya laporan secara verbal atau dengan isyarat, menunjukan dan mengungkapkan masalahnya secara verbal (Wilkinson, J.M, 2007:338).
Masalah nyeri didukung juga dengan adanya batasan karakteristik yaitu gangguan tidur, wajah terlihat kusut, pucat, gerakan melindungi, ekspresi wajah kesakitan, merintih, perubahan tekanan darah, pernafasan, dan nadi (Wilkinson, J.M, 2007:339).
Diagnosa ini muncul dengan melihat data pada tanggal 21 Mei 2009 pukul 07.45 WIB. Data subyektif pasien mengatakan nyeri di perut sebelah kiri.nyeri timbuljika bergerak, nyeri berkurang jika tiduran,nyeri seperti di tusuk – tusuk,nyeri disekitar luka dan perut, skala 6, waktu timbul 5 menitan. Data obyektif pasien mengalami gangguan tidur (sering terbangun), wajah terlihat kusut, gerakan melindungi nyeri, ekspresi wajah kesakitan, TD : 140/90 mmhg, Nadi 90x/menit, respirasi 26x/menit, terdapat luka operasi.
Penulis mengangkat diagnosa nyeri akut berhubungan dengan inkontinuitas jaringan sebagai prioritas pertama karena yang dirasakan oleh pasien jika segera tidak ditangani akan mengganggu aktivitas pasien dan kesembuha pasien. Selain itu diagnosa ini diprioritaskan pertama karena merupakan keluhan utama pasien dan nyeri post operasi jika tidak ditangani dikhawatirkan akan mengganggu proses penyembuhan, menimbulkan masalah baru, dan membuat ketidaknyamanan.
Dari hasil data tersebut penulis merencanakan intervensi sebagai berikut: Monitor kondisi umum pasien, pantau nyeri secara komprehensif, pertahankan posisi supine untuk istirahat, ajarkan teknik distraksi relaksasi, ciptakan lingkungan yang nyaman, kolaborasi medis pemberian analgetik.
Tindakan yang dilakukan untuk mengurangi nyeri meliputi :
a. Monitor kondisi umum pasien
Adalah memantau kondisi pasien dalam jangka waktu tertentu untuk mengetahui tingkat kesadaran dan kekuatan. Memonitor kondisi umum pasien dilakukan untuk mengetahui sejauh mana kondisi pasien dan membantu mengevaluasi apakah intervensi yang di berikan membuahkan hasil (Doengoes,2000:75).
Kekuatan tindakan ini adalah untuk mengetahui seberapa jauh perkembangan kondisi pasien setelah di berikan tindakan keperawatan.Kelemahan tindakan ini adalah sulit dilakukan pada pasien dengan kondisi cemas berlebihan dan kurang terbuka.
b. Pantau nyeri secara komprehansif
Adalah memantau nyeri yang dilakukan secara terus menerus. Memantau nyeri secara komprehansif dilakukan untuk mengetahui seberapa berat nyeri yang terjadi, tempat terjadi, karakter, skala, durasi (Wilkinson,2007:342).
Kekuatan tindakan ini adalah untuk membantu mengevaluasi nyeri.Kelemahan tindakan ini adalah Kelemahan dari tindakan ini adalah pasien kurang terbuka dan pasif ketika diberi penjelasan.
c. Ajarkan teknik distraksi dan relaksasi
Adalah tindakan mengalihkan perhatian seseorang dari nyeri dan merelaksasikan otot – otot untuk mengatasi nyeri. Mengajarkan teknik distraksi relaksasi dilakukan untuk membantu mengurangi nyeri.
Kekuatan tindakan ini adalah membantu mengurangi nyeri dengan tehnik non farmakologi dan membantu pasien menjadi lebih rileks.Kelemahan tindakan ini adalah sulit dilakukan pada pasien dengan nyeri kronis dan nyeri hebat.
d. Ciptakan lingkungan yang tenang
Adalah memberikan lingkungan sekitar yang kondusif bagi proses keperawatan dan kesembuhan pasien. Menciptakan lingkungan yang tenang dilakukan untuk memberikan ketenangan pada pasien.
Kekuatan tindakan ini adalah membantu menenangkan pasien pada kondisi tegang atau nyeri sehingga pasien dapat beristirahat tanpa terganggu. Kelemahan tindakan ini adalah tidak dapat dilakukan jika keadaan lingkungan rumah sakit tidak mendukung, dan pasien gelisah berlebihan.
e. Kolaborasi medis pemberian analgetik
Adalah berkolaborasi dengan dokter untuk memberikan obat analgetik yang tepat pada pasien. Analgetik yang di berikan adalah Mefinal 3 x 500mg, mengandung asam mefenamat: menghilangkan rasa sakit dan nyeri
Keuntungan pemberian analgetik dilakukan untuk memberikan obat pengurang rasa nyeri.
Hasil evaluasi yang dilakukan pada tanggal 21 Mei 2009 Pukul 14.00 WIB dengan data subyektif : pasien mengatakan masih nyeri,nyeri timbul jika untuk bergerak, nyeri berkurang jika untuk istirahat, nyeri seperti ditusuk – tusuk, nyeri disekitar luka, skala nyeri 5. Data obyektif pasien terlihat masih merintih kesakitan, gelisah, muka kusut, TD : 140/90 mmhg,nadi 90x/menit, respirasi 26x/menit, suhu 36,60C. Masalah nyeri belum teratasi. Rencana selanjutnya monitor kondisi umum pasien, pantau nyeri secara komprehensif, anjurkan untuk menggunakan teknik distraksi relaksasi, kolaborasikan pemberian obat.
Hasil evaluasi selama penulis melakukan asuhan keperawatan pada tanggal 22 Mei 2009 Pukul 13.00 WIB, didapatkan data subyektif pasien mengatakan nyeri berkurang, nyeri timbul jika untuk duduk, nyeri berkurang ketika istirahat atau berbaring, nyeri seperti dicubit, skala nyeri 3. Data obyektif pasien tampak rileks, wajah ceria, tidak terjadi gangguan tidur (wajah tidak pucat), TD 130/80 mmhg, nadi 80x/menit, respirasi 20x/menit, suhu 36,50C. Masalah nyeri teratasi sebagian. Rencana selanjutnya monitor kondisi pasien, motivasi pasien untuk menggunakan tehnik distraksi relaksasi jika nyeri timbul.
2. Kurang pengetahuan tentang aktivitas yang dilakukan setelah operasi berhubungan dengan kurangnya pemahaman terhadap informasi.
Defisit pengetahuan adalah tidak ada atau kurangnya informasi pengetahuan tentang topik yang spesifik (Wilkinson, J.M, 2007:270)
Kurang pengetahuan adalah suatu keadaan dimana seorang individu atau kelompok mengalami defisiensi pengetahuan kognitif atau ketrampilan psikomotor berhubungan dengan kondisi atau rencana pengobatan (Carpenito, 2000:223)
Masalah kurang pengetahuan didukung oleh adanya laporan secara verbal/nonverbal, menunjukan dan mengungkapkan masalahnya secara verbal, tidak mengikuti instruksi yang diberikan secara akurat, serta tidak mengerjakan instruksi (Wilkinson, J.M, 2007:270)
Masalah kurang pengetahuan didukung juga dengan adanya batasan karakteristik yaitu menyatakan kurang pengetahuan atau meminta informasi, menyampaikan secara tidak tepat perilaku sehat yamg diinginkan dan kurang integrasi rencana tindakan kedalam kegiatan sehari-hari (Carpenito, 2000:223).
Diagnosa ini muncul dengan melihat data pada tanggal 20 Mei 2009 pukul 12.30 WIB. Data subyektif pasien mengatakan kaku bergerak serta takut untuk minum banyak karena khawatir jahitannya akan lepas, pasien juga mengatakan badannya pegal-pegal, kaku, lemas . Data obyektif pasien hanya tiduran, terdapat luka post operasi hari ke-1, pasien tidak tahu tentang tindakan yang dilakukan post operasidan periode pemulihan.
Penulis mengangkat diagnosa kurang pengetahuan tantang aktivitas yang dilakukan setelah operasi berhubungan dengan kurangnya pemahaman terhadap informasi sebagai prioritas kedua karena yang dirasakan oleh pasien jika tidak segera ditangani akan mengganggu aktivitas pasien dan kesembuhan pasien. Selain itu diagnosa ini diprioritaskan kedua karena merupakan keluhan kedua pasien dan kurang pengetahuan tantang aktivitas yang dilakukan setelah operasi apabila tidak ditangani akan menghambat penyembuhan pasien karena seharusnya pasien post operasi hari ke-1 sudah dapat melakukan miring kanan – miring kiri mandiri sedangkan pasien belum dapat melakukan aktivitas secara manidiri. Aktivitas yang dilakukan setelah operasi yaitu pada hari ke-1 pasien latihan nafas dalam, hari ke-2 pasien latihan ambulasi dini bisa dengan miring kanan dan miring kiri, untuk hari selanjutnya pasien belajar duduk ditempat tidur, kemudian latihan berdiri disekitar tempat tidur dan hari selanjutnya latihan berjalan. Selain itu yang harus diperhatikan setelah operasi yaitu nutrisi yang dikonsumsi untuk mempercepat proses penyembuhan luka.
Dari hasil data tersebut penulis merencanakan intervensi sebagai berikut: kaji tingkat pengetahuan pasien, identifikasi kemungkinan penyebab dan jelaskan kondisi tentang klien, diskusikan perubahan gaya hidup yang mungkin digunakan untuk mencegah komplikasi, diskusikan tentang terapi dan pilihannya, latih rentang mobilisasi, motivasi pasien untuk melakukan instruksi dari tim medis, tanyakan kembali pengetahuan klien tentang penyakit, prosedur perawatan dan pengobatan.
Tindakan yang dilakukan untuk mengatasi kurang pengetahuan meliputi:
a. Mengkaji tingkat pengetahuan pasien
Adalah menanyakan pengetahuan pasien tentang keadaan. Mengkaji tingkat pengetahuan pasien dilakukan untuk mengetahui pembuatan rencana individu mengidentifikasi secara verbal kesalahpahaman dan memberikan penjelasan serta untuk mempermudah dalam memberikan penjelasan (Doenges, 2000:95)
Kekuatan tindakan ini adalah untuk mengetahui seberapa jauh pemahaman pasien tentang aktivitas yang harus dilakukan setelah operasi. Kelemahan tindakan ini adalah pasien yang kurang terbuka dalam mengungkapkan pemahaman tentang aktivitas yang harus dilakukan setelah operasi.
b. Mengidentifikasi kemungkinan penyebab dan menjelaskan kondisi tentang klien
Adalah kegiatan yang dilakukan untuk mencari penyebab dan memberikan penjelasan pada pasien tentang kondisinya. Mengidentifikasi kemungkinan penyebab dan menjelaskan kondisi pasien dilakukan untuk mengurangi tingkat kecemasan pasien terhadap kondisinya.
Kekuatan tindakan ini adalah pasien menjadi tahu tentang penyebab dan kondisinya saat ini sehingga pasien dapat lebih tenang dan tidak cemas dalam menghadapi penyakitnya serta dapat mempercepat proses penyembuhan pasien. Kelemahan tindakan ini adalah sulit diilakukan pada pasien yang mengalami cemas yang berlebihan.
c. Mendiskusikan perubahan gaya hidup yang mungkin dilakukan untuk mencegah komplikasi
Adalah berdiskusi dengan pasien tentang pencegahan komplikasi dengan merubah gaya hidup. Mendiskusikan perubahan gaya hidup yang mungkin dilakukan untuk mencegah komplikasi/ kekambuhan dilakukan untuk memberikan penjelasan kepada pasien untuk menghindari pekerjaan atau aktivitas yang dapat meningkatkan resiko terjadi kekambuahn dan komplikasi (Doenges, 2000: 95)
Keuntungan dari tindakan ini adalah meningkatkan tingkat pengetahuan pasien tentang aktivitas atau pekerjaan yang harus dihindari untuk mencegah kekambuhan atau komplikasi. Kelemahan dari tindakan ini adalah pasien kurang terbuka dan pasif ketika diberi penjelasan.
d. Melatih mobilisasi pasien
Adalah memberikan pelatihan gerak pada pasien setelah operasi. Melatih mobilisasi dilakukan untuk mencegah kekakuan sendi, kontraktur dan kelelahan otot serta meningkatkan kembalinya aktivitas sehari-hari secara dini. (Doenges, 2000:965)
Keuntungan dari tindakan ini adalah untuk mengetahui seberapa jauh kemampuan pasien dalam melakukan aktivitas setelah operasi. Kelemahan dari tindakan ini adalah pasien masih takut jahitannnya akan lepas apabila untuk melakukan latihan aktivitas sehingga dapat menghambat dalam latihan gerak.

e. Motivasi pasien untuk melakukan latihan gerak setelah operasi.
Adalah tindakan memberikan dorongan atau support pada pasien agar melakukan gerak. Memotivasi pasien untukm melakukan latihan gerak setelah operasi dilakukan karena mobilisasi setelah operasi sangat penting dan sangat dibutuhkan untuk mempercepat prosese penyembuhan. Kemandirian akan meningkatkan motivasi dan penurunan perasaan pasien tidak berdaya.
Kekuatan dari tindakan ini adalah pasien mau melakukan latihan mobilisasi. Kelemahan tindakan ini adalah pasien masih tergantung pada keluarga sehingga terjadi penurunan kemandirian.
Hasil evaluasi hari rabu tanggal 20 Mei 2009 pukul 14.00WIB data subyektif klien mengatakan cukup paham mengenai perawatan post operasi dan periode pemulihan, pasien juga mengatakan badannya kaku. Data obyektifnya pasien post operasi hari ke-1 alih baring masih dibantu karena takut, pasien tidak melaksanakan instruksi yang diberika perawat untuk ambulasi dini, minum belum adekuat 1-2 gelas sehari.Keluarga dan pasien masih bertanya tentang perawatan mandiri setelah pulang kerumah. Hal ini berarti masalah belum teratasi. Intervensi selanjutnya yaitu kaji kemampuan alih baring pasien, motifasi latihan mobilisasi, anjurkan untuk minum secara adekuat. Berikan pendidikan kesehatan nutrisi pasca operasi, anjurkan pasien untuk tidak mengejan.
Hasil evaluasi hari kamis tanggal 21 Mei 2009 pukul 14.00 WIB data subyektif pasien mengatakan sudah paham tentang pemulihan pasca operasi,dan porawatan post operasi di rumah sakit.Pasien juga mengatakan badanya masih kaku, pasien juga mengatakan akan berlatih bergerak sesuai yang telah diajarkan. Data obyektifnya pasien terlihat mampu miring kanan dan miring kiri dengan mandiri serta mampu duduk ditempat tidur masih dengan bantuan keluarga.pasien dan keluarga masih bertanya tentang mengganti balutan di rumah, dan takut terkena infeksi Hal ini berarti masalah belum teratasi. Intervensi selanjutnya latih kemampuan mobilisasi pasien, motivasi pasien untuk melatih mobilisasi,ajarkan perawatan luka dengan prinsip antiseptic, ajarkan cara identifikasi tanda – tanda infeksi, anjurkan untuk tidak mengrjan dan mengangkat benda yang berat selama proses pemulihan.
Hasil evaluasi hari jum`at tanggal 22 Mei 2009 pukul 13.00 WIB dengan data subyektif pasien mengatakan sudah paham tentang proses pemulihan pasca operasi dan perrawatan pasca operasi, badannya sudah tidak kaku. Data obyektifnya pasien mampu duduk dengan mandiri serta jalan-jalan disekitar ruangan dengan bantuan keluarga, minum 5-6 gelas sehari. Hal ini masalah teratasi. Intervensi selanjutnya motivasi pasien untuk latihan mobilisasi dan makan dan minum secara adekuat.

3. Resiko infeksi berhubungan dengan port de entri microorganism
Resiko tinggi infeksi yaitu peningkatan resiko untuk terinfeksi oleh organisme patogen (NANDA, 2006:121).
Faktor resiko meliputi prosedur invansif, tidak cukup pengetahuan dalam menghindari paparan patogen, trauma, destruksi jaringan dan peningkatan paparan lingkungan, rupture membrane amnioptik, agen parmasetikal (misal imunosupresan), malnutrisi, peningkatan paparan lingkungan terhadap patogen, pertahanan sekunder tidak adekuat, pertahanan primer tidak adekuat misal trauma jaringan, penurunan gerak sillia, cairan tubuh statis, dan penyakit kronis (NANDA, 2006:121).
Diagnosa ini dirumuskan karena pada pasien terdapat luka operasi hernioraplasty hari ke-1, di abdomen kiri bawah. Data yang berdokumentasikan tetapi tidak mendukung diagnosa resiko tinggi infeksi berhubungan dengan ketidakadekuatan pertahanan primer: prosedur invasif adalah warna cairan drain merah kecokelatan. Pembedahan itu sendiri merupakan trauma pada jaringan lunak dan struktur yang sebelumnya tidak mengalami cidera mungkin akan terpotong atau mengalami kerusakan selama tindakan operasi (Price, 1995:1193) sehingga merupakan adanya jalan masuk untuk kuman atau bakteri.
Pada bab pembahasan ini, penulis mengangkat diagnosa resiko tinggi infeksi menjadi prioritas ke-3 karena jika dibandingkan dengan defisit perawatan diri, resiko tinggi infeksi lebih mempengaruhi perubahan status kesehatan pasien. Meskipun pada resiko tinggi infeksi hanya tanda dan gejala yang muncul sebagai faktor resiko tetapi jika intervensi keperawatan tidak diberikan maka resiko terseburt bisa menjadi aktual (Priharjo R, 1996:172).
Rencana keperawatan yang dibuat antara lain Rencana tindakan keperawatan pantau tanda/gejala infeksi (misal: suhu tubuh, denyut jantung, penampilan luka, suhu kulit, lesi kulit), pantau hasil laboratorium (hasil-hasil yang berbeda, protein serum, albumin, leukosit), instruksikan untuk menjaga hygien pribadi untuk melindungi tubuh terhadap infeksi, monitor tanda-tanda vital, amati luka dari tanda-tanda infeksi, lakukan perawatan luka dengan tehnik aseptic dan gunakan kassa steril untuk merawat dan menutup luka, cuci tangan sebelum dan sesudah melakukan tindakan, ajarkan pada pasien dan keluarga tanda atau gejala infeksi, kolaborasi pemberian antibiotik.
Implementasi yang dilakukan penulis yaitu:
a. Memonitor tanda-tanda vital
Adalah tindakan mengukur tekanan darah, nadi, respirasi dan suhu. Memonitor tanda-tanda vital dilakukan untuk mengetahui keadaan pasien. Pada diagnosa resiko tinggi infeksi difokuskan pada monitor suhu pasien. Didapatkan suhu pasien 36,6 0C berarti tidak terjadi peningkatan suhu tubuh. Peningkatan suhu tubuh dapat menandakan adanya proses infeksi yaitu demam lebih dari 38 0C segera setelah pembedahan dapat menandakan infeksi luka atau pembentukan tromboflebitis. Demam 38,3 0C disertai menggigil, kelelahan, takipnea, takhikardia dan hipotensi menandakan syok septik. Peningkatan 4 sampai 7 hari setelah pembedahan sering menandakan abses (Doenges, 1999:502).
Kekuatan tindakan ini adalah pemeriksaan tanda-tanda vital yang dilakukan tiga kali perhari dapat memantau keadaan pasien secara terus menerus. Jika terjadi perbaikan atau keadaan pasien memburuk dapat diketahui dengan cepat dan segera dilakukan tindakan yang tepat. Kelemahan tindakan ini adalah dapat mengganggu istirahat pasien.
b. Mengobservasi tanda-tanda infeksi
Adalah tindakan yang dilakukan untuk mengetahui apakah ada tanda – tanda infeksi. Memonitor tanda-tanda infeksi dengan memonitor adanya kemerahan, edema, dan panas serta bau tidak enak dari luka. Jika diketahuai adanya tanda-tanda infeksi dapat dilakukan pengobatan lebih dini sehingga dapat mencegah infeksi lebih lanjut. Adanya edema, eritema dan bau tidak enak dapat menandakan timbulnya infeksi lokal atau nekrosis lokal atau nekrosis jaringan yang dapat mempersulit penyembuhan (Doenges, 1999:774).
Kekuatan dari tindakan ini adalah dapat mendeteksi terjadinya gangguan penyembuhan luka. Kelemahan dari tindakan ini adalah hal ini tidak dapat dilakukan setiap saat karena seringnya membuka balutan dapat meningkatkan frekuensi sering terpapar dengan lingkungan.
c. Mengganti balutan luka dengan teknik aseptik
Adalah mengganti balutan dengan menggunakan kasa steril dan alat – alat steril. Mengganti balutan luka dengan teknik steril dilakukan karena dengan teknik steril dapat meminimalkan kesempatan introduksi bakteri sehingga dapat menurunkan resiko tinggi infeksi (Doenges, 1999:79)
Kekuatan tindakan ini adalah dapat memberikan rasa nyaman pada pasien dan meminimalkan infeksi. Kelemahan tindakan ini adalah pasien terasa nyeri saat dilakukan perawatan luka.
d. Mencuci tangan sebelum dan sesudah melakukan tindakan
Adalah tindakan membersihkan tangan untuk mencegah pertukaran kuman. Mencuci tangan sebelum dan sesudah melakukan tindakan dapat menurunkan kontaminasi selang sehingga bakteri tidak menyebar terutama ke daerah luka pada akhirnya dapat menurunkan resiko infeksi (Doenges, 1999:874).
Kekuatan tindakan ini adalah mudah dilakukan tetapi manfaatnya besar salah satunya untuk mencegah kontaminasi silang. Kelemahan tindakan ini adalah cuci tangan yang hanya dilakukan oleh perawat tidak menjamin berkurangnya penyebaran kuman. Cuci tangan harus dilakukan oleh semua pihak yang berhubungan langsung dengan pasien.
e. Kolaborasi pemberian antibiotik
Antibiotik yang diberikan adalah ciprofloxacin 2 x 500 mg, mengandung antibiotik yang bekerja untuk pengobatan infeksi yang disebabkan oleh bakteri yang sensitif. (ISO, 2007:8).
Kekuatan tindakan ini adalah pemberian antibiotik melalui peroral sehingga tidak terjadi trauma jaringan karena tusukan jarum dan tidak terdapat jalan masuk mikroorganisme.
Evaluasi dilakukan pada tanggal 20 Mei 2009 pukul 17.00 WIB data obyektif terdapat luka post operasi hari ke-1, dan tanda-tanda vital hasil tekanan darah 130/80 mmHg, nadi 80x/menit, respirasi rate 22x/menit, suhu 36,60C. Hal ini masalah belum teratasi, dibuktikan dengan indicator sebagai berikut: tidak ada tanda-tanda infeksi (kemerahan, bengkak, panas, nyeri dan keluarnya purulen) serta luka jahitan bersih dan kering; awal 1, tujuan 4, akhir 1; menunjukkan hygine pribadi yang adekuat; awal 2, tujuan 4, akhir 3; melaporkan tanda/gejala infeksi serta mengikuti prosedur pemantauan; awal 1, tujuan 4, akhir 1. Intervensi selanjutnya pantau tanda-tanda infreksi, pertahankan tehnik aseptik setiap mengganti balutan, cuci tangan sebelum dan sesudah tindakan dan kolaborasi pemberian antibiotik.
Evaluasi pada hari selasa tanggal 21 Mei 2009 pukul 14.00 WIB data obyektif luka masih tertutup, tanda-tanda vital dengan hasil tekanan darah 140/90 mmHg, nadi 90 x/menit, respirasi rate 26 x/menit dan suhu 36,6 0C. Hal ini masalah belum teratasi, dengan dibuktikan indicator sebagai berikut tidak ada tanda-tanda infeksi (kemerahan, bengkak, panas, nyeri dan keluarnya purulen) serta luka jahitan bersih dan kering; awal 1, tujuan 4, akhir 2; menunjukkan hygine pribadi yang adekuat; awal 2, tujuan 4, akhir 3; melaporkan tanda/gejala infeksi serta mengikuti prosedur pemantauan; awal 1, tujuan 4, akhir 1. Intervensi selanjutnya pantau tanda-tanda infreksi, pertahankan tehnik aseptik setiap mengganti balutan, cuci tangan sebelum dan sesudah tindakan dan kolaborasi pemberian antibiotik.
Evaluasi pada hari rabu tanggal 22 Mei 2009 pukul 13.00 WIB dengan data obyektif luka bersih dan kering serta tidak ada pus dan kemerahan, tanda-tanda vital tekanan darah 130/80 mmhg, nadi 80x/menit, respirasi 20x/menit, suhu 36,5 C. Hal ini masalah sudah teratasi, dibuktikan dengan indicator sebagai berikut tidak ada tanda-tanda infeksi (kemerahan, bengkak, panas, nyeri dan keluarnya purulen) serta luka jahitan bersih dan kering; awal 1, tujuan 4, akhir 4; menunjukkan hygine pribadi yang adekuat; awal 2, tujuan 4, akhir 3; melaporkan tanda/gejala infeksi serta mengikuti prosedur pemantauan; awal 1, tujuan 4, akhir 3. Intervensi selanjutnya pantau tanda-tanda infeksi, pertahankan tehnik aseptik setiap mengganti balutan, cuci tangan sebelum dan sesudah tindakan dan kolaborasi pemberian antibiotik.
4. Defisit perawatan diri mandi/ hygine berhubungan dengan kurang atau penurunan motivasi.
Defisit Perawatan Diri: mandi/hygine adalah kerusakan kemampuan dalam memenuhi aktivitas mandi/kebersihan diri secara mandiri (NANDA, 2006:180)
Masalah defisit perawatan diri: mandi/hygine didukung dengan tidak mampu dalam membasuh bagian atau seluruh tubuh, menyediakan sumber ai mandi, mengambil perlengkapan mandi, masuk dan keluar kamar mandi, mengatur suhu dan aliran air mandi (NANDA, 2006:180)
Defisit perawatan diri pada post operasi hernioplasty terjadi karena adanya luka yang menyebabkan pasien takut untuk bergerak, pasien takut jahitan lukanya lepas. Pasien merasa takut untuk menggerakan ekstremitas bawah sehingga pasien hanya tiduran dan ADL dibantu oleh keluarga. Hal ini mengakibatkan penurunan dalam aktifitas perawatan diri (boswick, 1997:123).
Saat dilakukan pengkajian pada tanggal 20 Mei 2009 pukul 12.00 WIB pasien mengatakan lemas,masih pusing, pasien mengatakan mandi diseka, belum keramas. Data obyektif rambut pasien tampak kotor dan berminyak, gigi kotor. Melihat hal itu penulis mengangkat diagnosa deficit perawatan diri: mandi/hygine berhubungan dengan kurang atau penurunan motivasi.
Masalah ini diprioritaskan ketiga karena pasien mengatakan lemas dan pusing tetapi takut jahitannya lepas apabila untuk bergerak, sehingga masalah ini tidak harus segera ditangani, karena masalah ini hanya akan mempengaruhi kenyamanan pasien.
Rencana keperawatan yang dibuat penulis yaitu kaji tingkat kemampuan pasien dalam perawatan diri, kaji kebutuhan perawatan diri pasien, bantu perawatan diri pasien, motivasi pasien pentingnya melakukan perawatan diri.
Tindakan yang dilakukan yaitu:
a. Mengkaji tingkat kekuatan dan toleransi pasien dalam perawatan diri
Adalah menyimpulkan kondisi pasien saat ditanya atau dilihat apakah kondisi pasien dalam kondisi lemah atau kuat. Hal ini dilakukan untuk mengetahui kemampuan dan ketidakmampuan pasien dalam melakukan perawatan diri (NIC, 2007:420)
Kekuatan tindakan ini adalah penulis lebih focus dalam memberikan tindakan keperawatan yaitu tindakan yang tidak bisa dilakukan mandiri supaya pasien tidak mempunyai ketergantungan pada orang lain. Kelemahan dari tindakan ini adalah belum bisa mengetahui secara tepat ketidakmampuan pasien Karena pasien mengatakan takut jahitannya lepas apabila untuk bergerak.

b. Mengkaji kebutuhan perawatan diri klien
Adalah tindakan yang dilakukan untuk mengetahui perawatan yang dibutuhkan oleh pasien. Penulis melakukan tindakan ini dengan tujuan mengetahui apa saja kebutuhan perawatan diri klien yang dibutuhkan saat itu. Kekuatan tindakan pasien ini akan bersifat kooperatif dan mau menceritakan semua kebutuhannya. Kelemahannya pasien merasa malu jika digali lebih dalam tentang personal hygine tetapi setelah dijelaskan pasien lebih terbuka.
c. Membantu menggosok gigi
Adalah kegiatan membantu menyiapkan alat dan membantu melakukan gosok gigi. Penulis melakukan tindakan ini karena perawatan dasar penting untuk mempertahankan hygine yang baik saat pasien dapat melakukan sendiri (NIC, 2007:420)
Selain itu penulis membantu pasien juga bertujuan untuk meminimalkan timbulnya masalah baru, karena gigi yang kotor merupakan tempat berkembangnya kuman sehingga dapat menimbulkan penyakit apabila tidak dijaga kebersihannya,dan bisa mengurangi nafsu makan.
Kekuatan dari tindakan ini adalah pasien sangat kooperatif dan mau menggosok gigi. Kelemahan dari tindakan ini pasien masih sangat memerlukan dorongan atau motvasi untuk melakukan personal hygine secara mandiri.

d. Memotivasi pasien untuk melakukan perawatan diri
Adalah memberikan dorongan atau suport agar pasien mau melakukan perawatan diri. Penulis melakukan tindakan ini karena perawatan diri sangat penting dan sangat dibutuhkan. Kemandirian akan meningkatkan motivasi dan penurunan perasaan pasien tidak berdaya.
Kekuatan dari tindakan ini adalah pasien mau melakukan perawatan diri. Kelemahan tindakan ini adalah pasien masih tergantung pada keluarga sehingga terjadi penurunan kemandirian
e. Memotivasi keluarga untuk membantu perawatan diri pasien
Adalah memberikan dorongan atau motivasi pada keluarga agar mau memberikan perawatan pada pasien. Penulis melakukan tindakan ini karena bantuan keluarga untuk melakukan perawatan diri klien sangat dibutuhkan. Selanjutnya perawatan diri pasien juga sangat dibutuhkan. Kemudian, kemandirian akan meningkatkan motivasi dan menurunkan perasaan tidak berdaya. Bantuan keluarga dalam melakukan perawatan diri akan meningkatkan rasa percaya dan meningkatkan keakraban (NIC, 2007:420).
Kekuatan dari tindakan ini adalah keluarga pasien sangat bersemangat mau membantu kebutuhan pasien. Kelemahan dari tindakan ini adalah pasien sangat tergantung pada keluarga sehingga terjadi penurunan kemandirian.
Hasil evaluasi pada tanggal 20 Mei 2009 pukul 14.00WIB data subyektif klien mengatakan selama dirumah sakit mandi hanya diseka 2x sehari, belum keramas dan gosok gigi. Data obyektif rambut tampak berminyak. Hal ini berarti masalah belum teratasi. Intervensi selanjutnya yaitu bantu perawatan diri pasien, motivasi pasien pentingnya melakukan perawatan diri.
Hasil evaluasi hari rabu tanggal 21 Mei 2009 pukul 14.00 WIB data subyektif data subyektif klien mengatakan mandi masih diseka 2x sehari, belum keramas. Data obyektif rambut masih tampak berminyak, gigi bersih.Hal ini berarti masalah belum teratasi. Intervensi selanjutnya yaitu bantu perawatan diri pasien, motivasi pasien pentingnya melakukan perawatan diri.
Hasil evaluasi selama penulis melakukan asuhan keperawatan pada tanggal 22 Mei 2009 pukul 14.00 WIB dengan data subjektif pasien mengatakan mandi masih diseka dan dibantu oleh keluarga, data obyektifnya kuku pendek dan bersih, rambut masih tampak kotor, gigi bersih. Masalah deficit perawatan diri: mandi/hygine teratasi sebagian. Rencana selanjutnya dorong dan Bantu klien melakukan perawatan diri dan memotivasi pasien pentingnya melakukan perawatan diri
Diagnosa keperawatan yang tidak muncul pada pasien sesuai dengan konsep dasar adalah:
1. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan haluaran urine berlebihan.
Kekurangan volume cairan adalah kondisi seseorang individu yang berisiko mengalami dehidrasi vakuler seluler atau intraseluler.( Wilkinson, 2007:179).
Dengan batasan karakteristiknya adalah penyimpangan yang mempengaruhi akses untuk pemasukan atau absorbsi cairan (misalnya imobilitas fisik), usia lanjut, kelebihan berat badan, defisit pengetahuan yang berhubungan dengan volume cairan, kehilangan cairan melalui rute yang tidak normal (misalnya selang kateter), pengobatan diuretik.( Wilkinson, 2007:179).
Diagnosa ini tidak muncul karena saat dikaji pada pasien tidak muncul tanda tanda kekurangan volume cairan.









DAFTAR PUSTAKA


Anmonim, 2005. HERNIA TERDAPAT PADA http//www.republiku.co.id
Diakses pada tanggal 20 mei 2009
Boughman. H. 2000. Keperawatan Medikal Bedah. Buku Saku untuk Brunner and Seddarth. Alih Bahasa:Yasmin Asih. EGC:Jakarta
Corwin, E.J. 2000. Buku Saku Patofisiologi, Alih bahasa Braham. U. EGC: Jakarta
Doenges, M.E. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan: Pedoman untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Pasien, Alih bahasa I Made Kariasa, Ni Made Sumarwati. EGC: Jakarta
Ester, Monica, 2002. Keperawatan Medikal Bedah Pendekatan Sistem Gastrointestinal. EGC: Jakarta
ISO. 2007. Informasi Spesialite Obat Indonesia. Ikatan Sarjana Farmasi Indonesia.
Mansjoer, A. 2000. Kapita Selekta Kedokteran, Edisi ketiga Jilid 2. Media Aesculapius: Jakarta
NANDA, 2006. Diagnosa Keperawatan. PSIK-FK UGM: Yogyakarta
Oswari, E. 2000. Bedah Dan Keperawatannya. FKUI: JAKARTA
Price, S. A Wilson, M.L. 2005. Patofisiologi Konsep klinis Proses - proses Penyakit.
Edisi 6. EGC. JAKARTA
Syamsul Hidayat, R. Jung. W.D. 2004. Buku Ajar Ilmu Bedah. Edisi Revisi.
EGC:Jakarta
Wilkinson, J.M, 2007. Buku Saku Diagnosis Keperawatan dengan Intervensi NIC dan
Kriteria Hasil NOC. EGC: Jakarta

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar