Rabu, 12 Agustus 2009

WATER BIRTH

Water Birth, Melahirkan Dalam Air




RASA sakit saat melahirkan adalah kodrat wanita. Kini rasa sakit itu dapat disiasati. Anda ingin melahirkan normal tapi tidak terlalu sakit? Anda bisa coba metode water birth, melahirkan di dalam air. Metode ini diyakini sebagai cara melahirkan dengan tingkat kesakitan jauh berkurang.
Adalah Oppie Andaresta, penyanyi, memilih melahirkan normal di dalam air awal Juli lalu. Pilihannya didasari oleh keinginannya melahirkan serba alamiah dan jauh dari stres. Oppie melahirkan di Klinik Bumi Sehat, di Mas Ubud, Nyuh Kuning, Ubud, Bali. Sebelum persalinan, hari-hari Oppie diisi dengan yoga, meditasi, latihan nafas dan berjalan-jalan di pantai Kuta.
Saat bukaan sudah sepuluh, kata Oppie, bidan memberi aba-aba Ok, satu kali lagi push, baby akan keluar. Saat itu, ia merasakan buah hatinya ‘lolos’ begitu saja tanpa merasakan sakit. Selanjutnya, bayi di tempelkan ke dadanya dan langsung memberi ASI.
Sama seperti Oppie, pesinetron, Natalie Margaretha mengaku proses persalinan awal November lalu sangatlah berbeda, dibandingkan ketika dia melahirkan anaknya terdahulu, dengan operasi cesar. Meski tak bisa membandingan rasa sakitnya, namun, Natalie mengaku merasa lebih rileks dan tak merasakan sakit pascapersalinan. Hari-hari sebelum persalinan, Natalie mengisinya dengan latihan terapi hipnobirthing yang diajarkan Lanny Kuswandi.
Secara umum ada dua pilihan melahirkan, yakni normal (pervaginam) dan cesar (perabdominam). Water birth adalah pilihan lain melahirkan secara normal. Di negara Eropa Timur, Amerika, Australia, dan beberapa negara Asia, cara ini menjadi pilihan ibu-ibu untuk melahirkan. Di Indonesia, water birth tergolong sangat baru. Di Jakarta, baru beberapa rumah sakit yang menyediakannya,
Menurut Dr. Ivan R. Sini, MD, FRANZCOG, GDRM, SpOG, Vice President Director Bundamedik, kelahiran dengan water birth sebenarnya bukanlah metode baru di dunia kebidanan dan kandungan. Metode ini muncul di Rusia tahun 1960-an, yang diperkenalkan olehy Igor Tjarkovsky. Selanjutnya berkembang di Perancis akhir tahun 60-an, dan Amerika tahun 1961.
Melahirkan di air tidak jauh berbeda dengan melahirkan normal pada tempat tidur. Hanya saja, proses kelahiran dibuat sefisiologis mungkin. Dalam hal ini, si ibu biasanya tidak begitu merasakan rasa sakit seperti ketika persalinan normal di atas tempat tidur.
Pada dasarnya, proses dan prosedur persalinan dalam air sama saja dengan proses normal lainnya. Hanya saja tempatnya berbeda, yakni dalam kolam yang di dalamnya berisi air.
Proses kelahiran di air tergolong sangat simpel. Pada pembukaan keenam, pasien dimasukkan kedalam kolam khusus, yang berisi airnya hangat. Air hangat ini membuat kulit vagina menjadi elastis sehingga proses kelahiran lebih mudah dan cepat,
Kolam berisi air hangat itu, tambah Lanny Kuswandi, praktisi relaksasi dan mantan bidan RS. Carolus, yang kerap mendampingi ibu-ibu melahirkan di dalam air, memberikan rasa nyaman, tenang, dan rileks. Sehingga membuat proses mengejan tidak terlalu berat.
“Air hangat juga mampu menghambat implus-implus saraf yang mengantarkan rasa sakit. Selain itu, vagina akan menjadi lebih elastis, dan lunak. Sehingga proses mengejan tidak perlu terlalu keras. Cukup pelan-pelan, bahkan bila lancar kemaluan tidak perlu dijahit,” kata Lanny.
Dr. Ivan menambahkan, saat proses persalinan, suami bisa membantu memberikan pijatan-pijatan di punggung istri, tujuannya agar merasa lebih rileks dan nyaman.Biasanya, proses persalinannya sendiri memakan waktu 1-2 jam. Selanjutnya, setelah bayi keluar, dokter atau bidan akan mengangkat bayi ke permukan dan langsung memberikan pada sang ibu untuk diberikan ASI.
Bayi yang dilahirkan melalui persalinan water birth dipastikan tidak akan mengisap air yang membuatnya sulit bernapas. “Karena ketika bayi akan lahir, ia masih bernapas dengan ari-ari (tali pusar) yang masih tersambung ke perut ibu. Jadi, tidak ada masalah saat bayi dilahirkan dalam air,” jelas Dr. Ivan.
Syarat Water Birth
Tidak semua rumah sakit melengkapi fasilitas persalinannya dengan metode water birth. Selain dibutuhkan tenaga medis yang terlatih, rumah sakit juga harus memilliki kolam bersalin berdesain khusus (birth pool).
Beberapa persyaratannya, selain kolam bersalin khusus, yang biasanya berukuran antara 1,6 x 1,2 atau 2 m. Volume air di dalam kolam berada di bawah pusar ibu, baik ketika proses melahirkan dengan duduk, berdiri atau sambil tiduran.
Airnya juga harus steril. Menurut Dr. Ivan, kolam yang sudah disterilisasi, diisi air yang suhunya disesuaikan dengan suhu tubuh, yaitu sekitar 37 derajat Celcius. Besarnya angka derajat itu memiliki kesamaan dengan air ketuban.
Hal ini agar bayi tidak merasakan perbedaan suhu yang ekstrem antara di dalam perut dengan di luar. Selain itu, agar bayi tidak mengalami hipotermia (suhu tubuh terlalu rendah) atau hipertermia (suhu tubuh terlalu tinggi).
Kata Dr. Ivan lagi, fasilitas pendukung lainnya adalah pompa pengatur, agar air tetap bersirkulasi. Di RS Bunda, tempat ia berpraktik, airnya menggunakan air suling, sehingga pasien tidak perlu takut jika terminum. Selain itu, RS Bunda juga menyajikan bebauan aromaterapi serta musik rileksasi.
Ada beberapa syarat untuk melakukan proses melahirkan melalui media air ini ada syaratnya. Pertama, proses kelahiran dikehendaki melalui jalan lahir normal. Kedua, tidak ada infeksi. Ketiga, posisi bayi dalam rahim pada kondisi normal, tidak terbalik (sungsang). Keempat, ibu tidak memiliki penyakit menular, Dan kelima, ketuban belum pecah sebelum masuk ke dalam kolam air.
WATER BIRTH MELAHIRKAN TANPA RASA SAKIT DAN MENYENANGKAN
[ image disabled ] Rasa sakit saat melahirkan merupakan kodrat wanita. Tapi jangan khawatir, rasa sakit itu kini sudah dapat “diakali”.

Para calon ibu kini dapat memilih proses melahirkan di dalam air (water birth) yang dapat mengurangi, bahkan menurut sebagian ibu- menghilangkan rasa sakit! Anak yang dilahirkan sehat, si ibu juga segar.

Di luar negeri seperti Rusia dan Australia, metode melahirkan di air cukup lama dipraktikkan, sementara di Indonesia baru dikenal sekitar setahun terakhir. Kendati metode melahirkan di air ini belum begitu populer di Indonesia, namun sejumlah tempat di Jakarta seperti Sam Marie Hospital dan sebuah klinik bersalin di Desa Ubud, Bali sudah melaksanakan proses melahirkan di air ini.

Liz Adianti (33 tahun) adalah ibu Indonesia yang pertama kali melakukannya, tepatnya pada Oktober 2006. Wanita yang bekerja sebagai karyawati sebuah operator seluler ini mengaku ketertarikannya dengan metode melahirkan ini. Diawali dari kekhawatirannya akan rasa sakit saat melahirkan normal, ia lantas mencari informasi hal apa yang dapat mengurangi rasa sakit tersebut.

[ image disabled ] "Sebenarnya saya sudah ingin melakukannya sejak kehamilan anak pertama, peralatannya pun sudah dibeli dan disiapkan bersama suami, tapi karena di Indonesia belum populer kami pun sulit mendapat perizinan medis dari rumah sakit. Akhirnya, saya baru bisa mewujudkannya saat kelahiran anak kedua," ungkap Liz.

Dia menambahkan, berkurangnya rasa sakit kemungkinan disebabkan ibu berendam dalam air hangat yang membuat rileks dan nyaman, sehingga rasa sakit dan stres pun berkurang. Hal itu dibenarkan dr T Otamar Samsudin SpOG (Spesialis Obstetri dan Ginekologi). Menurut dia, mengurangi rasa sakit adalah tujuan utamanya, sedangkan secara teknis melahirkan dalam air pada dasarnya sama seperti melahirkan normal.

Proses Melahirkan
Proses dan melahirkan dia air sama saja dengan melahirkan normal, hanya tempatnya yang berbeda. Dilakukan di dalam sebuah kolam cukup besar (berukuran 2 meter) yang terbuat dari plastik dengan benjolan-benjolan pada alasnya agar posisi ibu tidak merosot.

"Posisi saat akan melahirkan bisa sambil duduk, sambil nungging, atau terserah bagaimana nyamannya si ibu," ujarnya.

[ image disabled ] Selain kolam plastik, fasilitas pendukung lainnya adalah pompa pengatur agar air tetap bersirkulasi, water heater untuk menjaga air tetap hangat, serta termometer untuk mengukur suhu. Kolam yang sudah disterilisasi kemudian diisi air yang suhunya disesuaikan dengan suhu tubuh, yaitu sekitar 36-37°C.

"Ini bertujuan agar bayi tidak merasakan perbedaan suhu yang ekstrem antara di dalam perut dengan di luar, dan agar bayi tidak mengalami hipotermia," ungkap Otamar.

Selanjutnya ibu mengejan seperti biasa. Mengingat tempatnya di air, bayi yang baru keluar otomatis terendam dulu selama beberapa saat di dalam air (sekitar 5-10 detik). Ini tidak masalah karena suhu air hampir sama dengan suhu cairan ketuban tempat si bayi “berenang” sebelum dilahirkan.

"Itu sebabnya ketika baru keluar, si bayi tidak menangis, mungkin dia merasa seolah seperti belum lahir karena kondisinya sama antara di dalam dan di luar," tutur Otamar.

Risiko dan Prasyarat
Mengenai risiko, dokter yang juga berpraktik di beberapa rumah sakit ibukota ini mengatakan, melahirkan di air tetap ada batasan dan pertimbangan medis yang tidak diperkenankan. "Seperti panggul si ibu kecil, bayi lahir sungsang atau melintang dan ibu yang sedang dalam perawatan medis, penyakit herpes dan lain-lain," sebut Otamar.

Ibu yang mengidap penyakit herpes disarankan untuk tidak melahirkan dengan metode ini, karena kuman herpes tidak mati di dalam air sehingga dapat menular kepada bayi melalui mata, selaput lendir dan tenggorokan bayi.

Syarat lainnya, proses melahirkan di dalam air tidak bisa dilakukan sembarangan, kendati terlihat mudah. Pengawasan dari pihak medis tetap diperlukan untuk menjaga terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan.

[ image disabled ] Aspek higienitas juga memegang peranan penting karena bayi yang baru lahir rentan infeksi. Kolam plastik yang digunakan harus dipastikan benar-benar bersih dan steril. Selain itu, penggunaan air hangat juga bisa membunuh virus dan bakteri. Lantas bagaimana dengan kemungkinan air terminum oleh bayi? Dokter T Otamar Samsudin SpOG mengatakan, hal itu sebetulnya tidak masalah asalkan air dipastikan steril.

"Jika air terminum oleh si bayi, sebetulnya tidak masalah dan kita semua toh sudah biasa minum air. Bayi juga tidak akan terinfeksi karena airnya encer dan steril (air hangat). Yang berbahaya adalah kalau si bayi minum air ketuban karena bisa tersangkut di paru-parunya," pungkasnya. (berbagai sumber)

Keuntungan Melahirkan di Air
1. Rileks dan nyaman. "Rasanya seperti sehabis berenang saja, segar dan tidak berkeringat," kata ibu Liz Adiyanti.
2. Si jabang bayi bersih karena tidak banyak darah yang keluar.
3. Mengurangi rasa stres dan sakit.

Tips Melahirkan di Air
1. Pertama-tama yang penting kemauan dan keyakinan untuk melahirkan di air.
2. Mengikuti senam hamil saat kehamilan, untuk pernapasan dan kelenturan lubang vagina sehingga memudahkan kelahiran si bayi.
3. Untuk media kolamnya Anda tidak perlu khawatir, karena biasanya rumah sakit yang melayani melahirkan di air menyediakan fasilitas untuk itu. Dan untuk menjaga kesterilan, setiap ibu mendapat 1 kolam.
4. Menyiapkan data lengkap, seperti cek laboratorium.


Melahirkan dalam air, cepat dan tanpa rasa sakit
Written by Administrator
Thursday, 09 August 2007


Harus Diet untuk Mencairkan Darah
Setelah lega karena berhasil hamil, saya kembali mendapat masalah baru. Dokter menemukan bahwa kekentalan darah saya tinggi, sehingga jika dibiarkan, darah tidak dapat masuk ke dalam plasenta, dan janin dalam kandungan pun tidak akan mendapat suplai makanan sehingga mengancam kehidupannya.
Untuk mengatasi hal itu, saya harus menghindari makan makanan seperti seafood, telur asin, makanan bersantan, kulit dan ayam broiler. Saya hanya boleh makan daging, sayur-sayuran, dan ikan air tawar agar kadar kekentalan darah saya dapat turun. Saya tak masalah pantang makan beberapa jenis makanan, meski kadang-kadang saya rindu juga makan seafood, makanan kegemaran saya. Setiap hari, saya juga harus makan tomat, karena menurut dokter, jus tomat dapat menurunkan kadar kolesterol yang tinggi. Gel berwarna kuning yang menyelubungi biji tomat juga dapat menjaga sel-sel dan partikel kecil yang disimpan dalam plasma darah dan menghambat pembekuan darah. Pembekuan darah dapat menyebabkan kematian pada janin karena darah jadi tidak dapat mengalirkan makanan untuk janin.
Bersalin di Dalam Air
Pada malam tanggal 8 Februari 2007, saya keluar vlek. Saya pun masuk RS Sam Marie di bilangan Jalan Wijaya, Kebayoran Baru. Setelah mengecek kondisi saya, dokter menyatakan saya sudah pembukaan dua. Setelah menjalani pemeriksaan CTG (Cardiotocography, pemeriksaan untuk mengecek detak jantung janin di dalam kandungan, jarak kontraksi, dan lainnya yang berhubungan dengan kondisi sebelum persalinan, red), dokter memutuskan untuk melakukan observasi dan melihat perkembangan kondisi saya selama empat jam ke depan.
Dokter mengatakan saya akan melahirkan sekitar pukul 5 atau 6 pagi esok harinya. Tapi ternyata, itu hanyalah taktik dokter supaya saya tidak stres menunggu-nunggu saat persalinan. Saat itu saya memang panik, karena ini adalah kehamilan pertama saya. Beberapa jam kemudian, saya mulai merasakan kontraksi-kontraksi kecil. Dokter pun memberikan pilihan pada saya: jalan-jalan agar proses persalinan terjadi lebih cepat, atau tidur saja dan berisitirahat. Karena ingin cepat melahirkan, saya pun memilih untuk jalan-jalan di sekitar koridor rumah sakit ditemani oleh suami saya, Hadidjasa.
Memilih Water Birth
Salah satu dokter kenalan saya pernah menyarankan saya untuk melahirkan dengan metode water birth saja, jauh sebelum saya tahu mengenai metode persalinan tersebut. Menurut beliau, rasa sakit yang ditimbulkan dari persalinan di dalam air jauh lebih sedikit daripada proses persalinan lain.
Berdasarkan saran tersebut dan pertimbangan bahwa belum banyak orang yang melakukannya pada saat itu, saya akhirnya memutuskan untuk mencoba proses persalinan dalam air. Setelah beberapa kali kunjungan kehamilan di RS Sam Marie, saya lalu mengutarakan keinginan saya itu kepada Dr. Otamar Samsudin yang menangani kehamilan saya sejak awal dan kebetulan juga pencipta metode water birth di RS yang sama. Syukurlah beliau mendukung.
Persalinan Yang Cepat
Memasuki tanggal 9 Februari 2007, tepatnya pukul 24.00, saya merasakan kontraksi mulai sering terjadi dalam waktu yang berdekatan, sehingga saya akhirnya harus turun ke ruang bersalin sekitar pukul 01.32 dini hari. Kolam pun segera disiapkan untuk proses persalinan. Di ruang bersalin, saya merasakan kontraksi yang sangat hebat dan sakit sekali. Saya lalu masuk ke dalam kolam pada pukul 01.42.
Setelah berada di dalam kolam, sakitnya kontraksi berangsur –angsur hilang, tetapi saat itu saya merasa seperti kekurangan oksigen dan ingin pingsan. Saya sampai sempat mengatakan pada perawat yang membantu saya bahwa saya tidak sanggup lagi. Perawat terus memberi saya semangat dan mengatakan bahwa saya tidak boleh merasa tidak sanggup. Saya lalu diberi segelas teh hangat agar lebih bertenaga dan tetap terjaga sampai proses persalinan selesai.
Selama tiga menit saya berada di dalam kolam menjelang proses persalinan. Air hangat yang diisikan ke dalam kolam semakin tinggi sampai mencapai batas perut saya, membuat saya lebih relaks. Pukul 01.54 dokter mulai melakukan observasi dan menyuruh saya mengejan sebanyak 5 kali. Tiga menit kemudian, dokter memberitahu bahwa kepala bayi sudah kelihatan, dan saya tinggal mengejan sedikit lagi untuk dapat mengeluarkannya.
Pukul 02.04, kepala bayi sudah keluar sempurna, dan dokter pun memberi saya aba-aba untuk mengejan secara teratur. Pukul 02.07, bayi laki-laki kami, Rayzard Barransya, lahir ke dunia. Prosesnya begitu cepat, sampai-sampai saya tidak merasakan sakitnya mengeluarkan seorang bayi dari rahim saya. Saya malah sempat tidak percaya ketika dokter menyodorkan Rayzard agar dapat saya gendong. Saya pikir hanya di film-film saja wanita yang baru melahirkan diizinkan untuk menggendong bayinya. Ternyata itu juga terjadi pada saya, dan saya merasa sangat lega dan bahagia.
Sampai saat ini, jika ditanya seperti apa sakitnya melahirkan, saya akan menjawab tidak tahu. Saya takjub dengan proses persalinan dalam air yang saya jalani, yang sama sekali tidak mendatangkan rasa sakit. Rayzard yang lahir dengan berat 2,9 kg dan panjang 49 cm pun kini senang bermain di dalam air. Di samping semua itu, saya bersyukur karena berdasarkan hasil pemeriksaan USG terakhir, kista yang semula saya derita ternyata sudah lenyap tak berbekas.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar