Rabu, 08 Juli 2009

Penyakit Jantung Koroner

Penyakit Jantung Koroner
1. Pengertian
Jantung adalah pusat peredaran darah di dalam dada yang terus menerus memompakan darah ke seluruh bagian tubuh selama hidup seseorang.
Tugas utama jantung adalah memompakan darah merah yang kaya akan oksigen dan nutrisi, melalui arteri besar (disebut aorta) ke seluruh bagian tubuh. Bila oksigen telah diserap oleh jaringan tubuh, pembuluh darah balik (vena) mengalirkan darah yang miskin oksigen dan berwarna biru kembali ke jantung.
Penyakit Jantung Koroner (PJK) adalah jenis gangguan pada jantung yang paling sering ditemui dan penyebab kematian nomor satu di Indonesia. Kondisi ini terjadi ketika arteri koronaria, pembuluh darah yang mensuplai darah kaya oksigen ke organ jantung, menyempit atau tersumbat oleh adanya suatu plak.
Penumpukan plak ini mengurangi ruang gerak dari aliran darah. Kurangnya aliran darah dapat menyebabkan otot jantung ‘kelaparan’ dan dapat menimbulkan nyeri dada. Apabila aliran darah tersumbat total dapat terjadi serangan jantung, biasanya disebabkan oleh terbentuknya bekuan darah yang menutupi plak pada dinding pembuluh darah yang sudah pecah.
2. Penyebab Penyakit Jantung Koroner
Faktor resiko untuk penyakit jantung coroner bisa dibagi menjadi dua:
1. Faktor yang tidak bisa kita kendalikan
● Keturunan
● Umur, makin tua resiko makin besar
● Jenis kelamin, pria mempunyai resiko lebih tinggi dari pada wanita (wanita resikonya meningkat sesudah menopause)
2. Faktor yang bisa kita kendalikan
● Merokok
● Tekanan darah tinggi
● Kadar lemak yang tinggi dalam darah
● Kurang olah raga
● Diabetes yang tidak terkendali
● Stres
● Kegemukan

3. Tanda dan Gejala
Sering tanpa gejala
Keberadaan penyakit jantung koroner biasanya diawali dengan gejala yang khas yang dikenal sebagai Angina Pectonis, yaitu rasa berat atau tertekan atau tidak enak di daerah dada yang timbul terutama saat beraktifitas atau ketika mengalami stress emosional, dan keluhan ini akan berkurang atau hilang setelah penderita beristirahat. Tidak jarang penderita merasakannya sebagai sebagai sesak nafas.
Keluhan angina tidak hanya bisa dirasakan di daerah dada, tetapi juga dapat dijumpai di daerah bahu leher (seperti tercekik), rahang (rasa ngilu), punggung (rasa pegal) sampai ke ulu hati sehingga kelainan PJK sering dianggap sakit maag atau kelainan yang lain.
Rasa nyeri dada yang berlangsung lebih lama (> 20 menit), disertai keringat dingin, pusing merupakan gejala serangan jantung. Serangan jantung berpotensi berbahaya karena dapat terjadi kehilangan kesadaran atau lebih fatal lagi dapat menyebabkan kematian.
Penting diketahui bahwa cukup banyak penderita PJK tidak mempunyai gejala yang khas seperti disebutkan di atas. Penderita tidak mempunyai keluhan sama sakali dan kelihatan sehat sebelumnya, tetapi secara tiba-tiba mendapat serangan jantung sampai kematian mendadak. Karena itu deteksi dini merupakan cara terbaik untuk menghindari penyakit yang paling sering berakibat fatal ini.
4. Anatomi Fisiologi
Arteri koronaria keluar dari aorta (pembuluh darah utama yang besar), kemudian bercabang dua menjadi arteri koronaria kiri dan kanan yang berdiameter lebih kecil yaitu- 3-4 milimeter. Keduanya melewati permukaan jantung, saling bertemu di bagian belakang dan hampir membentuk lingkaran. Karena bentuknya menyerupai mahkota (crown), maka para dokter jaman dulu menyebutnya arteri koronaria (coronary artery).
Arteri koronaria bentuknya sama dengan arteri (pembuluh nadi) lain, namun tetap berbeda karena darah hanya dapat mengalir melalui pembuluh ini ke jantung di antara dua denyutan, yaitu saat rileks. Ketika otot jantung berkontraksi, tekanannya terlalu besar sehingga darah tidak dapat melewati otot jantung. Ini berarti jantung memerlukan jaringan kerja yang efisien dari pembuluh darah halus tersebut (arteri koronaria) pada otot jantung untuk mendapatkan darah yang diperlukan.



5. Patofisiologi
Ada dua penyebab utama terjadinya PJK adalah proses aterosklerosis atau
ateroma dan proses trombosis.
a. Aterosklerosis
Penyakit jantung koroner disebabkan oleh terbentuknya plak di dalam arteri pembuluh darah jantung. Plak terdiri atas kolesterol yang berlebihan, kalsium, dan bahan lain di dalam pembuluh darah yang lama kelamaan menumpuk di dalam dinding pembuluh darah jantung (arteri koronaria) serta arteri di tempat lain. Proses ini disebut dengan pengerasan arteri atau atherosclerosis atau ateroma. Pada sebagian besar orang, plak mungkin saja sudah mulai terbentuk di masa kecil dan makin menumpuk sepanjang hidup.
Merokok, tekanan darah tinggi, dan kadar kolesterol tinggi merupakan faktor resiko utama terjadinya penyakit jantung koroner.
b. Trombosis
Trombosis adalah istilah medis untuk pembekuan darah, suatu proses alamiah untuk menghentikan perdarahan jika kita mengalami luka. Jika terjadi ateroma, dinding pembuluh darah tidak licin lagi, dan di tempat yang ada kerusakan ini sel-sel trombosit (untuk pembekuan darah) akan berkumpul menutupi kerusakan tersebut. Bekuan darah ini disebut dengan trombus. Jika kerusakannya kecil tidak terlalu berbahaya. Namun jika pembuluh darah menjadi sempit akibat ateroma, pembekuan darah sekecil apapun akan mengganggu aliran darah. Hal ini yang dapat menyebabkan nyeri dada atau angina.Pada serangan jantung, prosesnya sedikit berbeda. Timbunan lemak dalam pembuluh darah bukan hanya berisi lemak, namun juga jaringan bekas luka akibat adanya kolesterol. Ini akan membentuk fibrous cap (tutup fibrosa) di atas timbunan yang lebih keras daripada dinding pembuluh darah itu sendiri. Bila ada tekanan tiba-tiba dapat mengakibatkan kerusakan pada dinding pembuluh darah yang lebih parah. Akibatnya, timbul bekuan darah yang lebih besar, yang bisa menyumbat pembuluh darah itu (disebut sebagai proses trombosis), sehingga darah tidak bisa mencapai otot jantung, dan mengakibatkan kematian pada sebagian otot jantung.
Manifestasi PJK disebabkan oleh ketidakseimbangan antara kebutuhan O¬2 miokardium dengan masukannya. Masukan O2 untuk miokardium sebetulnya tergantung O2 yang dapat diambil oleh darah, jadi dipengaruhi oleh Hb, paru-paru dan O2 dalam udara pernapasan. Dikenal 2 keadaan ketidakseimbangan masukan terhadap kebutuhan O2 yaitu hipoksemia (iskemia) yang ditimbulkan oleh kelainan vaskuler dan hipoksia (anoksia) yang disebabkan kekurangan O2 dalam darah.
Pada PJK, arteri koronaria menjadi sempit (seperti pipa air yang tersumbat dalamnya) sehingga otot-otot jantung kekurangan suplai darah dan oksigen.
PJK terutama disebabkan oleh proses aterosklerosis dan dapat pula disebabkan oleh karena spasme atau kelainan congenital.
6. Manifestasi klinis
1. Palpitasi merupakan manifestasi PJK meskipun tidak spesifik.
2. Sesak nafas mulai dengan nafas yang terasa pendek sewaktu melakukan aktivitas yang cukup berat. Tetapi makin lama makin bertambah meskipun melakukan aktivitas ringan.
3. Angina pectoris yang spesifik merupakan gejala utama dan khas bagi PJK
4. Bila dapat dibuktikan adanya iskemia, tapi tidak timbul AP pada waktu itu, maka keadaan itu disebut iskemia tak bergejala.
7. Pemeriksaan Diagnostik
a. Enzim/Isoenzim jantung: untuk menunjukkan kerusakan miokard.
b. EKG: untuk menunjukkan adanya iskemia atau tidak
c. Pemantauan EKG 24 Jam (Holter): untuk mengobservasi nyeri
d. Foto dada: untuk menunjukkan dekompensasi jantung atau komplikasi paru.
e. PCO2 kalium dan laktat miokard: untuk mengetahui peningkatan PCO2 kalium
dan laktat miokard selama serangan angina.
f. Kolesterol/trigliserida serum: untuk mengetahu ada penigkatan atau tidak.
g. Pacu stres-takikardi atrial: untuk menunjukkan perubahan segmen ST.
h. Katerisasi jantung daengan angiografi: diindikasikan pada pasien dengan iskemia
yang diketahui dengan angina atau nyeri dada tanpa kerja.
i. Injeksi Ergonovine (Ergotrate) pasien yang mengalami angina saat istirahat menunjukkan hiperplastik pembuluh koroner.






8. Fokus Pengkajian
a. Aktivitas/istirahat
Gejala: - Pola hidup monoton, kelemahan
- Kelelahan, perasaan tidak berdaya setelah beraktivitas
- Nyeri dada bila bekerja
Tanda: -Dispnea saat kerja/istirahat
b. Sirkulasi
Gejala: - Riwayat penyakit jantung, hipertensi, kegemukan, masalah TD, DM, penyakit
arteri koroner
Tanda: - Takikardi, disritmia
- TD normal, disritmia
- Bunyi jantung: mungkin normal S4 lambat atau murmur sistolik transien lambat (disfungsi otot papilaris) mungkin ada saat nyeri.
- Kulit membran mukosa lembab, dingin, pucat karena adanya vasokontriksi.
c. Makanan/cairan
Gejala: - Mual, nyeri ulu hati/epigastrium saat makan
- Diet tinggi kolesterol/lemak, garam, kafein, minuman keras
Tanda: - Ikat pinggang sesak, distensi gaster, penambahan BB dengan cepat
d. Eliminasi
Gejala penurunan berkemih, urin berwarna gelap, berkemih, malam hari,
diare/konstipasi.
e. Hygene
Gejala: Kelemahan melakukan tugas perawatan
f. Integritas ego
Gejala: stressor kerja, keluarga, lain-lain
Tanda: ketakutan, mudah marah
g. Nyeri/ketidaknyamanan
Gejala: - Nyeri dada substernal anterior yang menyebar ke rahang, leher, bahu, dan
ekstremitas atas, angina akut kronis, nyeri abdomen kanan atas, sakit pada
otot, tidak tenang, gelisah
Tanda: - Wajah berkerut, meletakkan pergelangan tangan pada mid sternum, memijit
tangan kiri, tegangan otot, gelisah
- Takikardi, perubahan TD
h. Pernapasan
Gejala: - Dispnea saat aktivitas, tidur, duduk, takipnea
- Riwayat merokok
Tanda: Meningkat pada frekuensi/irama dan gangguan kedalaman
f. Penyuluhan/pembelajaran
Gejala: - Riwayat keluarga sakit jantung, hipertensi, stroke, diabetes
- Penggunaan/kesalahan penggunaan obat jantung, hipertensi atau obat yang dijual bebas.
- Penggunaan alcohol, penggunaan narkotik
(Marilyn E. Doenges, Mary Francs Moorhouse, Alice C. Geissler)
9. Diagnosa Keperawatan
a. Penurunan curah jantung b.d iskemia ventrikuler
b. Nyeri kronis b.d iskemia jaringan sekunder terhadap sumbatan arteri koroner
c. Perfusi jaringan kardiopulmoner b.d gangguan aliran arteri
d. Pola nafas tidak efektif b.d kekurangan O2
e. Intoleransi aktivitas b.d kelemahan fisik
10. Intervensi
a. Penurunan curah jantung b.d iskemia ventrikuler
Tujuan: - mempertahankan curah jantung yang memuaskan
- menunjukkan status sirkulasi, seperti: TD, denyut jantung dbn (dalam
batas normal
Intervensi:
- Observasi TTV (frek jantung, TD)
Rasional: takikardi dapat terjadi karena nyeri, cemas, hipoksemia, dan
menurunya curah jantung.
- Ausultasi bunyi napas dan bunyi jantung. Dengarkan murmur.
Rasional: Terjadinya murmur dapat menunjukkan katup karena nyeri dada.
b. Nyeri akut b.d iskemia jaringan sekunder terhadap sumbatan arteri koroner
Tujuan: - agar nyeri berkurang/hilang: menunjukan menurunya tegangan, rileks.
Intervensi:
- Kaji skala nyeri
Rasional: nyeri sebagai pengalaman subjektif dan harus digambarkan oleh
pasien.
- Berikan suasana yang nyaman
Rasional: aktivitas yang meningkatkan kebutuhan O2 miokardia dapat
mencetuskan nyeri dada.
- Bantu teknik relaksasi dan destraksi
Rasional: membantu dalam penurunan respon nyeri
- Kolaborasi: berikan analgesik
Rasional: untuk membantu menurunkan nyeri hebat
c. Ansietas b.d rsa takut akan kematian
Tujuan: menyatakan masalah tentang efek penyakit pada pola hidup, posisi dalam
keluarga dan mayarakat
Intervensi:
- Dorong keluarga dan teman untuk menganggap pasien seperti sebelumnya
Rasional: meyakinkan pasien bahwa peran dalam keluarga dan kerja tidak
berubah.
- Tingkatkan ekspresi perasaan dan takut (menolak, depresi and marah)
Rasional: perasaan tidak diekspresikan dapat menimbulkan kekacauan internal
dan efek gambaran diri.
- Berikan sedatif, transqulizer sesuai indikasi
- Rasional: untuk membantu pasien rileks sampai secara fisik mampu untuk membuat strategi koping adekuat.
d. Pola nafas tidak efektif b.d kekurangan O2
Tujuan: - mempertahankan pola napas normal
- kebutuhan O2 terpenuhi


Intervensi:
- Auskultasi bunyi napas
Rasional: berapa derajat spasme otot bronkusterjadi dengan obstrusi jalan
napas dan tdk dapat dimanifestasikan adventisus
- Evaluasi frekuensi pernapasan dan kedalaman
Rasional: takipnea biasanya ada pada beberapa derajat dan dapat ditemukan
pada penerimaan/selama adanya nafas tambahan.
- Lihat kulit dan membran mukosa untuk adanya sianosis
Rasional: Kurangnya O2 menyebabkan sianosis
- Posisikan semi fowler
Rasional: peningkatan kepala tempat tidur mempermudah funsi pernapasan
dengan menggunakan gravitasi
e. Intoleransi aktivitas b.d kelemahan fisik
Tujuan: Dapat beraktivitas secara mandiri
Intervensi:
- motivasi pasien untuk beraktivitas; lakukan aktivitas ringan
Rasional: meningatkan toleransi terhadap kemajuan aktivitas dan mencegah
kelemahan
- berikan bantuan sesuai kebutuhan
Rasional: penghematan energi












Pathway
Aterosklerosis + Trombosis

Plak fibrosa
di arteri koronaria

Ateroma
(plak fibrosa komplek)

Penebalan pembuluh darah

Trombosis

Embolisme

Spasme arteri koroner Disritmia &
kegagalan jantung
Oklusi
Fgs ventrikel
Aliran darah terhambat
Kontraksi
Suplai O2 (-)
gerakan dinding2
Kelemahan segmen iskemik

Hipokinetik

Volume stroke
Metabolisme anaerob
CO
Asam laktat
Ventrikel kiri
Cemas Sesak nafas



DAFTAR PUSTAKA

1. Trisnohadi, B. Hanafi, Buku Ajar Penyakit Dalam, Jilid I edisi ke III,FKUI, Jakarta,
1996
2. www.apotiksehat.com
3. Marylin Doenges; Mary Frances Moorhouse; Alice C. Geissler, Rencana Asuhan
Keperawatan
4. Judith M. Wilkinson, Nanda Nic-Noc, EGC
5. Faqih Ruhyanudin S.Kep, Askep Pada Klien Dengan Gangguan Kardiovaskuler, 2006,
UMM, Press Malang

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar