Rabu, 08 Juli 2009

Maligna Prostat Hiperplasi ( MPH )

A. Konsep Dasar
1. Pengertian
Maligna Prostat Hiperplasi ( MPH ) adalah pembesaran ganas kelenjar prostat, disebabkan oleh karena hiperplasi beberapa atau semua komponen prostat meliputi jaringan kelenjar / jaringan fibromuskuler yang bersifat ganas yang menyebabkan penyumbatan uretra pars prostatika ( Lab / UPF Ilmu Bedah RSUD dr. Sutomo, 1994 : 1993 ).


2. Etiologi
Penyebab yang pasti dari terjadinya MPH sampai sekarang belum diketahui. Namun yang pasti kelenjar prostat sangat tergantung pada hormon androgen. Faktor lain yang erat kaitannya dengan MPH maupun BPH adalah proses penuaan.
Karena etiologi yang belum jelas maka melahirkan beberapa hipotesa yang diduga timbulnya hiperplasi prostat antara lain :
1). Dihydrotestosteron
Peningkatan 5 alfa reduktase dan reseptor androgen menyebabkan epitel dan stroma dari kelenjar prostat mengalami hiperplasi .
2). Perubahan keseimbangan hormon estrogen - testoteron
Pada proses penuaan pada pria terjadi peningkatan hormon estrogen dan penurunan testosteron yang mengakibatkan hiperplasi stroma.
3). Interaksi stroma - epitel
Peningkatan epidermal gorwth factor atau fibroblast growth factor dan penurunan transforming growth factor beta menyebabkan hiperplasi stroma dan epitel.
4). Berkurangnya sel yang mati
Estrogen yang meningkat menyebabkan peningkatan lama hidup stroma dan epitel dari kelenjar prostat.
5). Teori sel stem
Sel stem yang meningkat mengakibatkan proliferasi sel transit ( Roger Kirby, 1994 : 38 ).

Penatalaksanaan
Modalitas terapi MPH adalah :
1). Watchful (observasi)
Yaitu pengawasan berkala pada klien setiap 3 – 6 bulan kemudian setiap tahun tergantung keadaan klien
2). Medikamentosa
Terapi ini diindikasikan pada MPH dengan keluhan ringan, sedang, dan berat tanpa disertai penyulit serta indikasi terapi pembedahan tetapi masih terdapat kontraindikasi atau belum “well motivated” Obat yang digunakan berasal dari: phitoterapi (misalnya: Hipoxis rosperi, Serenoa repens, dll), gelombang alfa blocker dan golongan supresor androgen. Pada Keganasan diberikan obat-obat Antineoplasma seperti Oncovin.
3). Pembedahan
Dilakukan pada :
a). Klien yang mengalami retensi urin akut atau pernah retensi urin akut.
b). Klien dengan residual urin  100 ml.
c). Klien dengan penyulit.
d). Terapi medikamentosa tidak berhasil.
e). Flowmetri menunjukkan pola obstruktif.

B. Asuhan Keperawatan
Data yang perlu dikumpulkan dari klien meliputi :
1). Identitas klien
Merupakan biodata klien yang meliputi : nama, umur, jenis kelamin, agama, suku bangsa / ras, pendidikan, bahasa yang dipakai, pekerjaan, penghasilan dan alamat. Jenis kelamin dalam hal ini klien adalah laki - laki berusia lebih dari 50 tahun dan biasanya banyak dijumpai pada ras Caucasian (Donna, D.I, 1991 : 1743 ).
2). Keluhan utama
Keluhan utama yang biasa muncul pada klien MPH pasca TURP adalah nyeri yang berhubungan dengan spasme buli - buli. Pada saat mengkaji keluhan utama perlu diperhatikan faktor yang mempergawat atau meringankan nyeri ( provokative / paliative ), rasa nyeri yang dirasakan (quality), keganasan / intensitas ( saverity ) dan waktu serangan, lama, kekerapan (time).
3). Riwayat penyakit sekarang
Kumpulan gejala yang ditimbulkan oleh MPH dikenal dengan Lower Urinari Tract Symptoms ( LUTS ) antara lain : hesitansi, pancar urin lemah, intermitensi, terminal dribbling, terasa ada sisa setelah selesai miksi, urgensi, frekuensi dan disuria (Sunaryo, H, 1999 : 12, 13).
Perlu ditanyakan mengenai permulaan timbulnya keluhan, hal-hal yang dapat menimbulkan keluhan dan ketahui pula bahwa munculnya gejala untuk pertama kali atau berulang.
4). Riwayat penyakit dahulu
Adanya riwayat penyakit sebelumnya yang berhubungan dengan keadaan penyakit sekarang perlu ditanyakan . Diabetes Mellitus, Hipertensi, PPOM, Jantung Koroner, Dekompensasi Kordis dan gangguan faal darah dapat memperbesar resiko terjadinya penyulit pasca bedah ( Sunaryo, H, 1999 : 11, 12, 29 ). Ketahui pula adanya riwayat penyakit saluran kencing dan pembedahan terdahulu sera adanya tumor pada organ lain serta pembesaran kelanjar lainnya
5). Riwayat penyakit keluarga
Riwayat penyakit pada anggota keluarga yang sifatnya menurun seperti : Hipertensi, Diabetes Mellitus, Asma perlu digali. Disamping itu riwayat adanya tumor/kanker perlu mendapat perhatian serius
6) Pola – pola fungsi kesehatan
a). Pola persepsi dan tata laksana hidup sehat
Timbulnya perubahan pemeliharaan kesehatan karena tirah baring selama 24 jam pasca TURP. Adanya keluhan nyeri karena spasme buli - buli memerlukan penggunaan anti spasmodik sesuai terapi dokter (Marilynn. E.D, 2000 : 683).
b). Pola nutrisi dan metabolisme
Klien yang di lakukan anasthesi SAB tidak boleh makan dan minum sebelum saluran cerna baik
c). Pola eliminasi
Pada klien dapat terjadi hematuri setelah tindakan TURP. Retensi urin dapat terjadi bila terdapat bekuan darah pada kateter. Sedangkan inkontinensia dapat terjadi setelah kateter di lepas (Sunaryo, H, 1999: 35)
d). Pola aktivitas dan latihan
Adanya keterbatasan aktivitas karena kondisi klien yang lemah dan terpasang traksi kateter selama 6 – 24 jam. Pada paha yang dilakukan perekatan kateter tidak boleh fleksi selama traksi masih diperlukan.
e). Pola tidur dan istirahat
Rasa nyeri dan perubahan situasi karena hospitalisasi dapat mempengaruhi pola tidur dan istirahat.
f). Pola kognitif perseptual
Sistem Penglihatan, Pendengaran, Pengecap, peraba dan Penghidu tidak mengalami gangguan pasca TURP.
g). Pola persepsi dan konsep diri
Klien dapat mengalami cemas karena ketidaktahuan tentang perawatan dan komplikasi pasca TURP.
h). Pola hubungan dan peran
Karena klien harus menjalani perawatan di rumah sakit maka dapat mempengaruhi hubungan dan peran klien baik dalam keluarga tempat kerja dan masyarakat.
i). Pola reproduksi seksual
Tindakan TURP dapat menyebabkan impotensi dan ejakulasi retrograd ( Sunaryo, H, 1999 : 36
j). Pola penanggulangan stress
Stress dapat dialami klien karena kurang pengetahuan tentang perawatan dan komplikasi pasca TURP. Gali adanya stres pada klien dan mekanisme koping klien terhadap stres tersebut.
6). Pemeriksaan penunjang
a). Laboratorik
Setiap penderita pasca TURP harus di cek kadar hemoglobinnya dan perlu diulang secara berkala bila urin tetap merah dan perlu di periksa ulang bila terjadi penurunan tekanan darah dan peningkatan nadi. Kadar serum kreatinin juga perlu diulang secara berkala terlebih lagi bila sebelum operasi kadar kreatininnya meningkat. Kadar natrium serum harus segera diperiksa bila terjadi sindroma TURP. Bila terdapat tanda septisemia harus diperiksa kultur urin dan kultur darah ( Tim Keperawatan RSUD. dr. Soetomo, 1997 : 21 ).
b). Uroflowmetri
Yaitu pemeriksaan untuk mengukur pancar urin. Dilakukan setelah kateter dilepas ( Lab / UPF Ilmu bedah RSUD dr. Soetomo, 1994 : 114).

Diagnosa keperawatan
Berdasarkan analisa data yang diperoleh maka dapat dirumuskan diagnosa keperawatan pada klien MPH sebagai berikut :
1). Nyeri ( akut ) berhubungan dengan iritasi mukosa buli–buli : reflek spasme otot sehubungan dengan penekanan prostat
( Marilynn, E.D, 2000 : 683 )
2). Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan kateter di buli – buli.
3). Kurang pengetahuan yang berhubungan dengan kurang informasi tentang rutinitas pasca operasi, gejala untuk dilaporkan, perawatan di rumah dan intruksi evaluasi .
( Susan, M . T, 1998 : 609,610 )
7). Retensi urin berhubungan dengan obstruksi urin
8). Resiko tinggi disfungsi seksual berhubungan dengan kondisi penyakit.
(Barbara, C.L, 1996: 339,341)


Retensi urin berhubungan dengan obstruksi sekunder terhadap penekanan praostat
1). Tujuan
Retensi urin teratasi.
2). Kriteria hasil
Eliminasi urin kembali normal, menunjukkan perilaku peningkatan kontrol buli-buli.
3). Rencana tindakan dan rasional
a). Awasi masukan dan haluaran serta karakteristiknya.
Rasional: deteksi dini terjadinya retensi urin.
b). Kolaborasi dalam mempertahankan irigasi secara konstan selama 24 jam pertama.
Rasional: mencuci buli-buli dari bekuan darah dan debris untuk mempertahankan patensi kateter / aliran urin.
c). Dorong pemasukan 3000 ml / hari sesuai toleransi.
Rasional: mempertahankan hidrasi adekuat dan perfusi ginjal untuk aliran urin.
d). Setelah kateter diangkat, terus pantau gejala-gejala retensi.
Rasional: deteksi dini terjadinya retensi.

b. Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan kateter di buli - buli.
1). Tujuan
Infeksi dicegah.
2). Kriteria hasil
Mencapai waktu penyembuhan, tidak mengalami tanda infeksi.
3). Rencana tindakan dan rasional
a). Pertahankan sistem kateter steril, berikan perawatan kateter reguler dengan sabun dan air, berikan salep antibiotik disekitar sisi kateter.
Rasional: mencegah pemasukan bakteri dan infeksi / sepsis lanjut.
b). Ambulasi dengan kantung drainase dependen.
Rasional: menghindari reflek balik urin dapat memasukkan bakteri ke dalam buli - buli.
c). Awasi tanda dan gejala infeksi saluran perkemihan.
Rasional: mendeteksi infeksi sejak dini.
d). Berikan antibiotik sesuai indikasi.
Rasional: kemungkinan diberikan secara profilaktik berhubungan dengan peningkatan resiko pada prostatektomi.

c. Nyeri (akut) berhubungan dengan iritasi mukosa buli-buli: reflek spasme otot sehubungan dengan prosedur bedah dan / atau tekanan dari traksi.
1). Tujuan
Nyeri hilang / terkontrol.
2). Kriteria hasil
Klien melaporkan nyeri hilang / terkontrol, menunjukkan ketrampilan relaksasi dan aktivitas terapeutik sesuai indikasi untuk situasi individu. Tampak rileks, tidur / istirahat dengan tepat.
3). Rencana tindakan dan rasional
a) Kaji nyeri, perhatikan lokasi, intensitas ( skala 0 - 10 ).
Rasional: nyeri tajam, intermitten dengan dorongan berkemih / masase urin sekitar kateter menunjukkan spasme buli-buli, yang cenderung lebih berat pada pendekatan TURP ( biasanya menurun dalam 48 jam ).
4). Pertahankan patensi kateter dan sistem drainase. Pertahankan selang bebas dari lekukan dan bekuan.
Rasional: mempertahankan fungsi kateter dan drainase sistem, menurunkan resiko distensi / spasme buli - buli.
5). Tingkatkan pemasukan sampai 3000 ml/hari sesuai toleransi.
Rasional: menurunkan iritasi dengan mempertahankan aliran cairan konstan mukosa buli - buli.
6). Berikan tindakan kenyamanan ( sentuhan terapeutik, pengubahan posisi, pijatan punggung ) dan aktivitas terapeutik. Dorong tehnik relaksasi termasuk latihan napas dalam, visualisasi dan pedoman imajinasi.
Rasional: menurunkan tegangan otot, memfokusksn kembali perhatian dan dapat meningkatkan kemampuan koping.
7). Berikan rendam duduk atau lampu penghangat bila diindikasikan.
Rasional: meningkatkan perfusi jaringan dan perbaikan edema serta meningkatkan penyembuhan ( pendekatan perineal ).
8). Kolaborasi dalam pemberian antispasmodik, contoh:
Oksibutinin klorida ( Ditropan ), B dan O supositoria.
Rasional: relaksasi otot, untuk menurunkan spasme dan nyeri.
Propanteli bromida ( Pro-Bantanin ).
Rasional: menghilangkan spasme buli-buli oleh kerja antikolinergik. Biasanya dihentikan 24-48 jam sebelum perkiraan pengangkatan kateter untuk meningkatkan kontrol kontraksi buli-buli.


d. Kurang pengetahuan yang berhubungan dengan kurang informasi tentang rutinitas pasca operasi, gejala untuk dilaporkan, perawatan di rumah dan intruksi evaluasi.
1). Tujuan
Meningkatkan pengetahuan klien.
2). Kriteria hasil
Klien dan / atau keluarga mengungkapkan mengerti tentang rutinitas pasca operasi, gejala yang harus dilaporkan, perawatan di rumah, intruksi evaluasi serta demonstrasi ulang perawatan kateter dan latihan perineal.
3). Rencana tindakan dan rasional
a). Pertegas perlunya asupan cairan oral yang adekuat 3000 ml / hari kecuali kontra indikasi.
Rasional: hidrasi yang optimal membantu menegakkan kembali tonus otot buli – buli setelah pencabutan kateter dengan merngsang miksi, pengenceran urin dan menurunkan kerentanan infeksi saluran kemih dan pewmbentukan bekuan darah.
b). Ajarkan perawatan kateter :
(a). Cuci meatus urinarius dengan sabun dan air 2x / hari.
(b). Tingkatkan frekuensi pembilasan jika tampak jelas drainase di sekitar tempat pemasangan kateter.
Rasional: membantu mengurangi resiko infeksi saluran kencing.
c). Pertegas pembatasan aktivitas antara lain:
(1). Hindari mengedan saat BAB, tingkatkan asupan diit tinggi serat atau gunakan pencahar jika ada indikasi.
(2). Jangan gunakan supositoria atau enema.
(3). Hindari duduk dengan kaki tergantung.
(4). Hindari mengangkat benda berat dan aktivitas yang berat.
(5). Hindari hubungan seksual hingga diperbolehkan ( biasanya 6 - 8 minggu setelah pembedahan ).
Rasional: mengurangi resiko perdarahan internal.
d). Anjurkan klien melakukan hal berikut:
(1). Berjalan lama.
(2). Menggunakan tangga.
Rasional: aktivitas ini tidak menghalangi penyembuhan tempat pembedahan.
e). Jelaskan harapan untuk mengontrol urin ketika dicabut:
(1). Tetesan, frekuensi, urgensi mungkin terjadi pada awal tetapi secara bertahap.
(2). Latihan perineal ( bokong tegang, tahan dan lepaskan selama 10 - 20 menit tiap jam ) dapat membantu mempercepat memulihkan kontrol urin.
(3). Lakukan latihan sesuai toleransi, hindari latihan yang membutuhkan kekuatan otot dan rencanakan waktu istirahat sering.
(4). Berkemih sesegera mungkin, mencegah retensi urin.
(5). Menghindari kafein dan alkohol dapat membantu mencegah masalah.
(6). Hematuri transien adalah normal dan seharusnya menurun dengan peningkatan asupan cairan.
Rasional: Kesukaran untu melanjutkan pola miksi normal dapat berhubungan dengan trauma leher buli-buli, ISK, atau iritasi kateter. Drainase akan menurunkan kontrol otot. Kafein sebagai diuretik ringan membuatnya lebih sukar mengontrol urin. Alkohol meningkatkan sensasi terbakar.
f). Diskusikan nama obat, dosis, jadwal penggunaan, tujuan dan efek samping.
Rasional: klien mengetahui nama, dosis, jadwal, tujuan dan efek samping obat yang diresepkan.
g). Tinjau tanda dan gejala komplikasi:
(1). Ketidakmampuan berkemih lebih dari 6 jam.
(2). Menggigil, nyeri punggung dan demam.
(3). Peningkatan hematuri.
Rasional: deteksi awal memungkinkan intervensi cepat untuk meminimalkan keparahan komplikasi.
(a). Ketidakmampuan berkemih menunjukkan ISK.
(b). Merupakan gejala ISK.
(c). Adanya perdarahan.















DAFTAR PUSTAKA

Alif, S., 1995. Benigne Prostate Hiperplasia, Makalah. Surabaya.
Doenges, M.E., Marry, F..M and Alice, C.G., 2000. Rencana Asuhan Keperawatan : Pedoman Untuk Perencanaan Dan Pendokumentasian Perawatan Pasien. Jakarta, Penerbit Buku Kedokteran EGC.

1999. Maligna Prostat Hiperplasi. Surabaya, Airlangga University Press.

Ignatavicus, D.D and Marilyn, F.B., 1991. Medical Surgical Nursing : A Nursing Procces Approach. International Edition. Philadelpia, W.B Saunders Company.

Kirby, R, John F.P, Michael, K, Andrew, F.P and Louis, J.D., 1994. Shared Care For Prostatic Disease. Oxford, ISIS Medical Media.

Long, B.C., 1996. Perawatan Medikal Bedah : Suatu Pendekatan Proses Keperawatan. Jakarta, Penerbit Buku Kedokteran EGC.

Lab / UPF Ilmu Bedah, 1994. Pedoman Diagnosis Dan Terapi. Surabaya, Fakultas Kedokteran Airlangga / RSUD. dr. Soetomo.


Surabaya Post. Tanggal 7 Juni 2001. Hal. 20. Kolom 2, MPH, Pembesaran Prostat Yang Tak Terelakkan.

Tucker, S.M., Marry, M.C, Eleanor, V, Paquette, M and Fyfe, W., 1998. Standar Perawatan Pasien : Proses Keperawatan, Diagnosis Dan Evaluasi. Volume III. Jakarta, Penerbit Buku Kedokteran EGC.

Tim Keperawatan RSUD. dr. Soetomo, 1997. Standar Asuhan Keperawatan Penyakit Bedah. Surabaya, Bidang Perawatan RSUD. Dr. Soetomo.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar