Rabu, 08 Juli 2009

CONGESTIVE HEART FAILURE (CHF)

NURSING CARE OF CONGESTIVE HEART FAILURE (CHF)



















Di susun oleh :
A@ SOIM







SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN MUHAMMADIYAH
GOMBONG
2008
A. DEFINISI

Gagal jantung merupakan sindrom klinis yang memiliki berbagai bentuk dan gambaran klinis. Dalam mendiagnosanya, ibaratkan beberapa orang buta yang sedang meraba seekor gajah dari sisi yang berlainan.
Gagal jantung (heart failure)adalah suatu keadaan yang serius, dimana jumlah darah yang dipompa oleh jantung setiap menitnya (cardiac output, curah jantung) tidak mampu memenuhi kebutuhan normal tubuh akan oksigen dan zat-zat makanan.

B. ETIOLOGI
1. Infark miokard akut
2. Inflamasi miokard
3. Fungsi kontraksi abnormal akibat mutasi gen
4. Penyakit katup jantung
5. Hipertensi berat yang tidak diobati

C. GAMBARAN KLINIK

Gambaran klinis gagal jantung sering dipisahkan menjadi efek ke depan (forward) atau kebelakang (back ward), dengan sisi kanan dan kiri jantung sebagai titik awal pandang. Efek kedepan dianggap “hilir” dari miokardium yang melemah. Efek kebelakang dianggap “hulu” dari miokardium yang melemah.
Efek kedepan gagal jantung kiri :
1. Penurunan tekanan darah systemic
2. Kelelahan
3. Peningkatan kecepatan denyut jantung
4. Penurunan pengeluaran urine
5. Ekspensi volume plasma
Efek kebelakang gagal jantung kiri:
1. Peningkatan kongesti paru,terutama sewaktu berbaring
2. Dipsnea (sesak nafas)
3. Apabila keadaan memburuk, terjadi gagal jantung kanan
Efek kedepan gagal jantung kanan :
1. Penurunan aliran darah paru
2. Penurunan oksigenasi darah
3. Kelelahan
4. Penurunan tekanan darah sistemik (akibat penurunan pengisian jantung kiri) dan semua tanda-tanda gagal jantung kiri
Efek kebelakang gagal jantung kanan :
1. Peningkatan penimbunan darah dalam vena,edema pergelangan kaki dan tungkai
2. Distensi vena jugularis
3. Hepatomegali dan splenomegali
Penderita gagal jantung yang tidak terkompensasi akan merasakan lelah dan lemah jika melalukan aktivitas fisik karena otot-otot tidak mendapatkan jumlah darah yang cukup. Pembengkakan juga menyebabkan berbagai gejala, selain dipengaruhi oleh gaya gravitasi,lokasi,dan efek pembengkakan juga dipengaruhi oleh sisi jantung yang mengganggu.
Gagal jantung kanan cenderung mengakibatkan penggumpalan darah penggumpulan darah yang menyatu kebagian kanan jantung. Hal ini menyebabkan pembengkakan di kaki, pergelangan kaki, tungkai, hati, dan perut.
Ganguan jantung kiri menyebabkan pengumpulan cairan di dalam paru (edema pulmoner) yang menyebabkan sesak nafas yang hebat. Pada awalnya sesak nafas hanya terjadi saat melakukan aktivitas, tetapi sejalan dengan memburuknya penyakit, sesak nafas juga akan timbul pada saat penderita tidak melakukan aktivitas. Kadang sesak nafas terjadi pada malam hari ketika penderita sedang berbaring karena cairan bergerak kedalam paru – paru. Penderita sering terbangun dan bangkit untuk menarik nafas atau mengeluarkan bunyi mengi.





D. PATOFISIOLOGI

Mekanisme yang mendasari gagal jantung meliputi ganguan kemampuan kontraktilitas jantung, yang menyebabkan curah jantung lebih rendah dari curah jantung normal.
Frekuensi jantung adalah fungsi system saraf otonom.bila curah jantung berkurang,system saraf simpatis akan mempercepat frekuensi jantung untuk mempertahankan curah jantung. Bila mekanisme kompensasi ini gagal untuk mempertahankan perfusi jaringan yang memadai, maka volume sekuncup jantunglah yang menyesuaikan diri untuk mempertahankan curah jantung.
Volume sekuncup, jumlah darah yang dipompa pada setiap kontriksi tergantung pada 3 faktor : preload , kontraktilitas dan afterload
• Preload adalah sinonim dengan hokum Starling pada jantug yang menyatakan bahwa junlah darah yang mengisi jantung berbanding langsung dengan tekanan yang ditimbulkan oleh panjangnya regangan selaput jantung
• Kontraktilitas mengacu pada perubahan kekuatan kontraksi yang terjadi pada tingkat sel dan berhubungan dengan perubahan panjang serabut jantung dan kadar kalsium
• Afterload mengacu pada besarnya tekanan ventrikel yang harus dihasilkan untuk memompa darah melawan perbedaan tekanan yang ditimbulkan oleh tekanan arteriole
Pada gagal jantung, jika satu atau lebih dari ketiga fakror tersebut terganggu, hasilnya curah jantung berkurang. Kemudahan dalam menentukan pengukuran hemodinamika melalui prosedur pemantauan invasif telah mempermudah diagnosa gagal jantung kongestif dan mempermudah penerapan terapi farmakologis yang efektif.






E. PATHWAY

Gagal jantung kanan

Kongesti pada jaringan perifer

Asites dan edema

Kelebihan Volume Cairan

Gagal jantung kiri


Pean CO (Cardiac Output) Kongesti di paru-paru
 
Intoleransi Aktivitas Edema pulmo

Batuk dengan sputum kental, orthopnea

Kerusakan Pertukaran Gas

F. NCP (NURSING CARE PLAN)

1. Kelebihan Volume Cairan b/d. Gangguan mekanisme pengaturan
a. Definisi
“Kondisi peningkatan retensi cairan isotonik pada seorang individu” (Wilkinson, 2007 : 180)
b. Batasan Karakteristik
Subjektif
 Ansietas
 Nafas dangkal / dispnea

Objektif
 Bunyi napas abnormal
 Edema
 Oliguria
 Ortopnea
 Kongesti paru
c. Tujuan
Kelebihan volume cairan dapat dikurangi dibuktikan dengan keseimbangan cairan, elektrolit dan asam-basa, dan indikator hidrasi yang adekuat
d. Kriteria Hasil
Pasien akan :
 Mempertahankan tanda vital dalam batas normal untuk pasien
 Tidak mengalami pernapasan dangkal
 Hematokrit dalam batas normal (pria : 45-50 vol/100 ml dan wanita : 40-45 vol/100 ml)
e. Intervensi
Mandiri
 Pantau haluaran urine, catat jumlah dan warna saat hari dimana diuresis terjadi.
Rasional : Haluaran urine mungkin sedikit dan pekat (khususnya selama sehari) karena penurunan perfusi ginjal.
 Pantau/hitung keseimbangan pemasukan dan pengeluaran selama 24 jam
Rasional : terapi diuretik dapat disebabkan oleh kehilangan cairan tiba-tiba/berlebihan meskipun edema/asites masih ada.
 Timbang berat badan tiap hari
Rasional : Catat perubahan ada/hilangnya edema sebagai respons terhadap terapi
 Auskultasi bunyi napas, catat penurunan/bunyi tambahan, contoh krekles, mengi. Catat adanya dispnea, takipnea, ortopnea, dispnea nokturnal paroksimal, batuk persisten.
Rasional : kelebihan volume cairan sering menimbulkan kongesti paru. Gejala edema paru menunjukkan gagal jantung kiri akut. Gejala pernapasan pada gagal jantung kanan (dispnea, batuk, ortopnea) dapat timbul lambat tetapi lebih sulit membaik.
 Ukur lingkar abdomen sesuai indikasi
Rasional : pada gagal jantung kanan lanjut, cairan dapat berpindah ke dalam area peritoneal, menyebabkan meningkatnya lingkar abdomen (asites)
Kolaborasi
1. Pemberian obat sesuai indikasi
 Diuretik, contoh furosemid (lasix), bumetanide (bumex)
Rasional : meningkatkan laju aliran urine dan dapat menghambat reabsorpsi natrium/klorida pada tubulus ginjal
 Tiazid dengan agen pelawan kalium, contoh spironolakton (aldakton)
Rasional : meningkatkan diuresis tanpa kehilangan kalium berlebihan
 Tambahan kalium contoh K Dur
Rasional : mengganti kehilangan kalium sebagai efek samping terapi diuretik yang dapat mempengaruhi fungsi jantung.
2. Konsul dengan ahli gizi
Rasional : perlu memberikan diet yang dapat diterima pasien yang memenuhi kebutuhan kalori dalam pembatasan natrium.
3. Pantau foto thoraks
Rasional : menunjukan perubahan indikasi peningkatan/perbaikan kongestif paru

2. Intoleransi aktivitas b/d. Ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen
a. Definisi
”Suatu keadaan seorang individu yang tidak cukup mempunyai energi fisiologis atau psikologis untuk bertahan atau memenuhi kebutuhan atau aktivitas sehari-hari ang diinginkan.” (Wilkinson, 2007 : 2)

b. Batasan Karakteristik
Subjektif
 Ketidaknyamanan atau dispnea yang membutuhkan pengerahan tenaga
 Melaporkan keletihan atau kelemahan
Objektif
 Denyut jantung atau tekanan darah tidak normal sebagai respons terhadap aktivitas
 Perubahan EKG selama aktivitas yang menunjukkan aritmia atau iskemia
c. Tujuan
Mentoleransi aktivitas yang biasa dilakukan dan ditunjukkan dengan Daya Tahan, Penghematan Energi, dan Perawatan Diri : Aktivitas kehidupan Sehari-hari.
d. Kriteria Hasil
Pasien akan :
 Berpartisipasi dalam aktivitas fisik yang dibutuhkan dengan peningkatan memadai pada denyut jantung, frekuensi respirasi, dan TD dan pola ang dipantau dalam batas normal.
 Menampilkan aktivitas kehidupan sehari-hari (AKS) dengan beberapa bantuan (misalnya, eliminasi dengan bantuan ambulasi untuk ke kamar mandi)
e. Intervensi
Mandiri
 Periksa tanda vital sebelum dan segera setelah aktivitas, khususnya bila pasien menggunakan vasodilator, diuretik, penyekat beta.
Rasional : hipotensi ortostatik dapat terjadi dengan aktivitas karena efek obat (vasodilasi), perpindahan cairan (diuretik) atau pengaruh fungsi jantung.
 Catat respons kardiopulmonal terhadap aktivitas, catat takikardi, disritmia, dispnea, berkeringat, pucat
Rasional : penurunan/ketidakmampuan miokardium untuk meningkatkan volume sekuncup selama aktivitas, dapat menyebabkan peningkatan segera pada frekuensi jantung dan kebutuhan oksigen, juga peningkatan kelelahan dan kelemahan.
 Evaluasi peningkatan intoleransi aktivitas
Rasional : dapat menunjukkan peningkatan dekompensasi jantung daripada kelebihan aktivitas
Kolaborasi
 Implementasikan program rehabilitasi jantung / aktivitas
Rasional : peningkatan bertahap pada aktivitas menghindari kerja jantung/konsumsi oksigen berlebihan.

3. Kerusakan pertukaran gas b/d. Perubahan membran kapiler-alveolus
a. Definisi
”Kelebihan dan kekurangan oksigenasi dan /atau eliminasi karbondioksida di membran kapiler-alveolar.” (Wilkinson, 2007 : 185)
b. Batasan Karakteristik
Subjektif
 Dispnea
 Sakit kepala pada saat bangun
 Gangguan penglihatan
Objektif
 Ketidaknormalan frekuensi, irama, dan kedalaman pernapasan
 Diaforesis
 Hipoksia
 Gelisah
 Takikardi
c. Tujuan
Gangguan pertukaran gas akan terkurangi yang dibuktikan dengan status pernapasan : Pertukaran Gas dan Status Pernapasan : Ventilasi tidak bermasalah.

d. Kriteria Hasil
Pasien akan :
 Mempunyai fungsi paru dalam batas normal
 Tidak menggunakan pernapasan mulut
 Tidak mengalami napas dangkal atau ortopnea
e. Intervensi
Mandiri
 Auskultasi bunyi napas, catat krekels, mengi
Rasional : menyatakan adanya kongesti paru/pengumpulan sekret menunjukkan kebutuhan untuk intervensi lebih lanjut.
 Anjurkan pasien batuk efektif, napas dalam
Rasional : membersihkan jalan napas dan memudahkan aliran oksigen
 Pertahankan duduk di kursi/tirah baring dengan kepala tempat tidur tinggi 20-30 derajat, posisi semifowler. Sokong tangan dengan bantal.
Rasional : menurunkan oksigen/kebutuhan dan meningkatkan inflamasi paru maksimal.
Kolaborasi
 Berikan oksigen tambahan sesuai indikasi
Rasional : meningkatkan konsentrasi oksigen alveolar, yang dapat memperbaiki/menurunkan hipoksemia jaringan.
 Berikan obat sesuai indikasi :
Diuretik contoh furosemid (Lasik)
Rasional : menurunkan kongesti alveolar, meningkatkan perttukaran gas
Bronkodilator contoh aminofilin
Rasional : meningkatkan aliran oksigen dengan mendilatasi jalan napas kecil dan mengeluarkan efek diuretik ringan untuk menurunkan kongesti paru.




DAFTAR PUSTAKA

Doenges, Marilynn E., dkk. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan Edisi 3. Jakarta : EGC.
Pusat Pendidikan Tenaga Kesehatan Departemen Kesehatan. 1993. Proses Keperawatan pada Pasien dengan Gangguan Sistem Kardiovaskuler. Jakarta : EGC.
Wilkinson, Judith M. 2007. Buku Saku Diagnosa Keperawatan Edisi 7. Jakarta : EGC.
www.medicastore.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar