Jumat, 03 Juli 2009

KURANG KALORI PROTEIN

KEKURANGAN KALORI DAN PROTEIN ( K K P )

A. PENDAHULUAN
Kebutuhan protein bagi manusia dapat ditentukan dengan cara menghitung jumlah protein yang diganti dalam tubuh. Kebutuhan protein bagi seorang dewasaadalah 1 gram untuk setiap kg BB setiap hari. Untuk anak-anak yang sedang tunbuh, diperlukan protein dalam jumlah yang lebih banyak, yaitu 3 gram untuk setiap kg BB-nya. Sebaiknya untuk orang dewasa 1/5 dari porsi protein yang diperlukan haruslah protein yang berasal dari hawan. Sedangkan untuk anak-anak 1/3 dari jumlah protein yang mereka perlukan.
Malnutrisi energi protein merupakan keadaan tidak cukupnya masukan protein dan kalori yang dibutuhkan oleh tubuh atau dikenal dengan nama marasmus dan kwasiokor.
Kwasiokor disebabkan oleh ekurangan protein baik dari segi kualitas maupun segi uantitas, sedangkan marasmus disebabkan oleh kekurangan kalori dan protein
B. ETIOLOGI
1. Factor Sosial
- Pantangan makanan tertentu dan turun temurun
- Ketersediaan pangan tingkat rumah tangga,
- Ketersediaan pelayanan kesehatan
- Pola asuh yang tidak memadai.
- Perceraian pada wanita sebagai single parent yang mencari nafkah sendiri
- Banyak anak
- Suami pencari nafkah tunggal
- Para pria dengan pendapatan kecil tetapi banyak istri dan anak
- Peraturan tempat kerja
2. Faktor diet
3. Kepadatan penduduk
- Jumlah penduduk bertambah, lapangan kerja tidak memadai (kemiskinan)
- Marasmus banyak dijumpai di kota dengan hygene buruk karena pertambahan
jumlah penduduk yang sangat cepat
- Kwasiokor banyak dijumpai di pedesaan karena kebiasaan pemberian makanan
tambahan Berupa tepung terutama pada anak yang tidak mendapat/sedikit mendapat
ASI
4. Faktor infeksi
- Adanya interaksi sinergi antara malnutrisi dan infeksi
- Malnutrisi (daya tahan menurun)
- Malnutrisi disertai infeksi punya dampak yang lebih berat
5. Faktor kemiskinan
6. Faktor lain: bawaan sejak lahir
C. AKIBAT KEKURANGAN KALORI DAN PROTEIN
1. Kwasiokor
Kwashiorkor adalah suatu sindrom yang diakibatkan defisiensi protein yang berat. Istilah ini pertama kali digunakan oleh Cecily Williams bagi kondisi tersebut yang diderita oleh bayi dan anak balita. Nama ini berasal dari daerah di Pantai Emas, Afrika yang berarti anak terlantar
Defisiensi ini sangat parah, meskipun konsumsi energi atau kalori tubuh mencukupi kebutuhan. Biasanya, kwashiorkor ini lebih banyak menyerang bayi dan balita pada usia enam bulan sampai tiga tahun. Usia paling rawan terkena defisiensi ini adalah dua tahun. Pada usia itu berlangsung masa peralihan dari ASI ke pengganti ASI atau makanan sapihan. Pada umumnya, kandungan karbohidrat makanan tersebut tinggi, tapi mutu dan kandungan proteinnya sangat rendah.Ciri-ciri anak menderita kwashiorkor adalah:
Hambatan pertumbuhan
Perubahan pada pigmen rambut dan kulit
Edema
Otot-otot berkurang dan melemah
Moon face
Gangguan psikomotor
Anak apatis
Tidak nafsu makan
Tidak gembira
Suka merengek (cengeng)
Kulit mengalami pigmentasi, kering, bersisik, pecah-pecah, dermatosis,
Rambut mengalami depigmentasi seperti rambut jagung, kusam, mudah rontok,
Anemia
Pembesaran hati
Kwashiorkor dianggap ada hubungannya dengan marasmus marasmick. Ini adalah satu kondisi terjadinya defisiensi, baik kalori, maupun protein. Cirinya adalah dengan penyusutan jaringan yang hebat, hilangnya lemak subkutan, dan juga ditambah dehidrasi.

Patofisiologi
Terjadinya kwasiokor dapat diawali oleh fator makanan yang kadar proteinya kurang dari kebutuhan tubuh sehingga akan kekurangan asam amino esensial dalam serum yang diperlukan dalam pertumbuhan dan perbaikan sel. Kemudian produksi albumin dalam hati pun berkurang, sehingga berbagai kemungkinan terjadi hipoproteinemia yang dapat menyebabkan edema dan akhirnya menyebaban asites, gangguan mata, kulit dan lain-lain.


2. Marasmus
Marasmus ialah suatu bentuk kurang kalori-protein yang berat. Marasmus adalah sindrom yang disebabkan oleh dfisisensi makanan sumber energi (kalori). Penyakit yang terjadi bukannya akibat kurangnya protein dalam makanan tetapi juga disertai rendahnya kadar kalori dalam makanan. Marasmus pada umumnya merupakan penyakit pada bayi karena terlambat diberi makanan tambahan.
Penyakit ini dapat terjadi karena:
1) Masukan makanan yang kurang
Marasmus terjadi akibat masukan kalori yang sedikit, pemberian makanan yang tidak
sesuai dengan yang dianjurkan akibat dari ketidaktahuan orang tua si anak; misalnya
pemakaian secara luas susu kaleng yang terlalu encer.
2) Infeksi
Infeksi yang berat dan lama menyebabkan marasmus, terutama infeksi enteral misalnya
infantil gastroenteritis, bronkhopneumonia, pielonephritis dan sifilis kongenital.
3) Kelainan struktur bawaan
Misalnya: penyakit jantung bawaan, penyakit Hirschprung, deformitas palatum,
palatoschizis, micrognathia, stenosis pilorus, hiatus hernia, hidrosefalus, cystic fibrosis
pancreas.
4) Prematuritas dan penyakit pada masa neonatus
Pada keadaan-keadaan tersebut pemberian ASI kurang akibat reflek mengisap yang kurang
kuat.
5) Pemberian ASI
Pemberian ASI yang terlalu lama tanpa pemberian makanan tambahan yang cukup.
6) Gangguan metabolik
Misalnya: renal asidosis, idiopathic hypercalcemia, galac-tosemia, lactose intolerance.
7) Tumor hypothalamus
Jarang dijumpai dan baru ditegakkan bila penyebab marasmus yang lain telah disingkirkan.
8) Penyapihan
Penyapihan yang terlalu dini disertai dengan pemberian makanan yang kurang akan
menimbulkan marasmus.
9) Urbanisasi
Urbanisasi mempengaruhi dan merupakan predisposisi untuk timbulnya marasmus;
meningkatnya arus urbanisasi diikuti pula perubahan kebiasaan penyapihan dini dan
kemudian diikuti dengan pemberian susu manis dan susu yang terlalu encer akibat dari
tidak mampu membeli susu; dan bila disertai dengan infeksi berulang, terutama gastro
enteritis akan menyebabkan anak jatuh dalam marasmus.
Marasmus berpengaruh jangka terhadap mental dan fisik yang sukar diperbaiki. Marasmus adalah penyakit kelaparan dan terdapat banyak diantara kelompok sosial-ekonomi rendah dan lebih banyak daripada kwasiokor.
Gejalanya :
Badan kurus kering
Pertumbuhan terhambat,
Lemak dibawah kulit berkurang, jaringan subkutan hilang
Otot-otot berkurang dan melemah,
Anak terlihat apatis dan seperti sudah tua.
Perubahan pada kulit, rambut dan pembesaran hati,
Dehidrasi,
Kelaparan
Ubun-ubun cekung pada bayi
Letargi
Oleh karena itu keadaan gizi masyarakat merupakan manifestasi keadaan kesejahteraan rakyat.

Patofisiologi Sebenarnya malnutrisi merupakan suatu sindrom yang terjadi akibat banyak faktor. Faktor-faktor ini dapat digolongkan atas tiga faktor penting yaitu :
Tubuh sendiri (host),
Agent (kuman penyebab),
Environment (lingkungan).
Memang faktor diet (makanan) memegang peranan penting tetapi faktor lain ikut menentukan. Dalam keadaan kekurangan makanan, tubuh selalu berusaha untuk mempertahankan hidup dengan memenuhi kebutuhan pokok atau energi. Kemampuan tubuh untuk mempergunakan karbohidrat, protein dan lemak merupakan hal yang sangat penting untuk mempertahankan kehidupan; karbohidrat (glukosa) dapat dipakai oleh seluruh jaringan tubuh sebagai bahan bakar, sayangnya kemampuan tubuh untuk menyimpan karbohidrat sangat sedikit, sehingga setelah 25 jam sudah dapat terjadi kekurangan.
Akibatnya katabolisme protein terjadi setelah beberapa jam dengan menghasilkan asam amino yang segera diubah jadi karbohidrat di hepar dan di ginjal. Selama puasa jaringan lemak dipecah jadi asam lemak, gliserol dan keton bodies. Otot dapat mempergunakan asam lemak dan keton bodies sebagai sumber energi kalau kekurangan makanan ini berjalan menahun. Tubuh akan mempertahankan diri jangan sampai memecah protein lagi setelah kira-kira kehilangan separuh dari tubuh.

Gambaran klinis
Marasmus sering dijumpai pada usia 0 - 2 tahun. Keadaan yang terlihat mencolok adalah hilangnya lemak subkutan, terutama pada wajah. Akibatnya ialah wajah si anak lonjong,berkeriput dan tampak lebih tua (old man face). Otot-otot lemah dan atropi, bersamaan dengan hilangnya lemak subkutan maka anggota gerak terlihat seperti kulit dengan tulang. Tulang rusuk tampak lebih jelas. Dinding perut hipotonus dan kulitnya longgar. Berat badan turun menjadi kurang dari 60% berat badan menurut usianya. Suhu tubuh bisa rendah karena lapisan penahan panas hilang. Cengeng dan rewel serta lebih sering disertai diare kronik atau konstipasi / susah buang air, serta penyakit kronik dan Tekanan darah, detak jantung dan pernafasan berkurang

D. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
Pemeriksaan fisik:
Penurunan antropometri
Perubahan ramput (depigmentasi, kusam, kering, halus, jarang dan mudah dicabut)
Gambaran wajah seperti orang tua (kehilangan lemak pipi), edema palpebra
Tanda-tanda gangguan sistem pernapasan (batuk, sesak, ronchi, retraksi otot, intercostal)
Perut tamapk buncit, hati teraba membesar, bising usus dapat meningkat bila terjadi diare
Edema tungkai
Kulit kering, hiperpigmentasi, bersisik.
Pemeriksaan laboratorium; albumin, creatinin dan nitrogen. Elektrolit, Hb, Ht, transferin

E. PENATALAKSANAAN TERAPEUTIK
Diit tinggi kalori tinggi protein, mineral dan vitamin
Pemberian terapi cairan dan elektrolit
Penanganan diare bila ada; ciran, antidiare dan antibiotik

F. PENATALAKSANAAN PERAWATAN
Pengkajian
Riwayat status sosial-ekonomi
Kaji riwayat pola makan
Pengkajian antropometri
Kaji manifestasi klinis
Monitor hasil laboratorium
Timbang BB
Kajia TTV
G. DIAGNOSA KEPERAWATAN
Gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan
Kurang volume cairan
Gangguan integritas kulit
Resiko Infeksi
Kurang pengetahuan
Ekonomi (kemiskinan)


Intake in adekuat

Nutrisi kurang


Defisiensi kalori defisiensi protein


Energi berkurang G3 pembentukan < asam amino essensial
lipoprotein u/ sintesis

Atropi otot lemak bawah kulit hilang pembentukan albumin
Perlemakan hati o/ hepar <

Kelemahan fisik kulit kriput terg3-nya transp. lemak osmotik vaskular
Intoleransi aktivitas dr hati ke depot hati
G3. Integritas kulit turgor kulit jelek edema
akumulasi lemak dlm hati
G3 keseimbangan cairan: < dari kebutuhan
hepatomegali

mal absorbsi lemak

mal nutrisi
G3 Nutrisi < kebutuhan
pertahanan tubuh
Resti infeksi

















H. INTERVENSI
a) Gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan
Lakukan pengaturan makanan dengan berbagai tahap salah satunya adalah tahap penyesuaian yang dimulai dari pemberian kalori sebanyak 50 kal/kg bb/hari dalam cairan 2000 ml/kg bb/hari pada kwasiokor dan 250 ml/kg bb/hari pada marasmus
Berikan makanan tinggi kalori (3-4g/kgbb/hari) dengan tinggi protein (160-175 g/kg bb/hari) pada kekurangan energi dan protein berat, serta berikan mineral dan vitamin.
Pada bayi berat badan kurang dari 7 kg berikan susu rendah laktosa (low lactose milk-LLM) dengan cara LLM ditambah glukosa 10% tiap 100 ml susu ditambah 5 gr glukolin untuk mencegah hipoglikemia selama 1-3 hari kemudian, pada hari berikutnya.
Apabila BB lebih dari 7 kg maka pemberian makanan dimulai dengan makanan bentuk cair selama 1-2 hari, lanjutkan bentuk lunak, tim, dst. Dan lakukan pemberian kalori mulai dari 50 kal/kg bb/hari.
Lakukan evaluasi pola makna, BB tanda perubahan kebutuhan nutrisi seperti turgor, nafsu makan, kemampuan absorpsi, bising usus dn tanda vital.
b) Kurang volume cairan
Berikan cairan tubuh yang cukup melalui rehidrasi jika terjadi dehidrasi.
Monitor keseimbangan cairan tubuh dengan mengukur asupan dan keluaran, dengan cara mengukur berat jenis urin.
Pantau terjadinya kelebihanh cairan serta perubahan status dehidrasi.
Berikan penjelasan terhadap makanan yang dianjurkan untuk membantu proses penyerapan, seperti tinggi kalori, tinggi protein, memgandung vitamin, mineral.
c) Gangguan integritas kulit
Pertahankan agar kulit tetap bersih dan kering dengan cara memandikan 2 kali sehari dengan air hangat dan apabila kotor atau basah segera ganti pakaian. Keringkan daerah basah dengan memberikan bedak (krim kulit)
Lakukan pergantian posisi tidur setiap 2-3 jam dengan dan lakukan pembersihan pada daerah yang tertekan dengan air hangat, jika perlu gunakan alat matras yang lembut.
Berikan suplemen vitamin.
Berikan penjelasan untuk menghindari penggunaan sabun yang dapat mengiritasi kulit.
Monitor keutuhan kulit setia 6-8 jam.
d). Resiko infeksi
Gunakan standar kehati-hatian umum (universal precaution) seperti dalam mencuci tangan, menjaga kebersihan, cara kontak dengan pasien, dan menghindarkan anak penyakit infeksi.
Berikan imunisasi pada anak yang belum diimunisasi sesuai jadwal imunisasi.
pantau adanya tanda lanjut dari infeksi seperti mengkaji suhu, nadi, leukosit, atau tanda infeksi lainya.
e). Kurang pengetahuan
Ajarkan pada keluarga tentang cara pemenuhan kebutuhan nutisi dengan gizi yang seimbang dengan mendemonstrasikan atau memberikan contoh bahan makanan. Cara memilih dan memasak, serta tunjukkan makanan pengganti protein hewani apabila dirasakan mahal seperti tempe, atau makanan yang dibuat dari kacang-kacangan.
Anjurkan untuk aktif dalm kegiatan posyandu agar pemantauan status gizi dan pemberian makanan tambahan dapt diatasi.





























Kasus 2
An. S (laki-laki) usia 2 tahun dirawat di Ruang anak RSUD Kebumen karena kurang gizi (KKP). Klien tampak lemah, belum bisa berjalan, duduk harus dibantu, bicara belum jelas. Tampak edema di ekstremitas atas dan bawah, wajah tampak pucat, keriput, mukosa bibir kering. Ibu klien mengatakan An. S hanya minum ASI tanpa susu formula karena tidak punya uang untuk membeli dan tidak mau makan nasi.

Analisa data:
1. DS: Ibu klien mengatakan klien hanya minum ASI tanpa susu formula karena tidak
punya uang untuk membeli dan tidak mau makan nasi.
DO: Wajah tampak pucat, klien tampak lemah
DX: Gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan b.d malnutrisi (intake nutrisi inadekuat)
Tujuan: agar nutrisi tercukupi, pasien dapat beraktifitas
KH : BB tidak turun
Intervensi:
Kaji antropometri
Kaji pola makan
Beri intake makanan TKTP, mineral dan vitamin
Frekuensi makan ditingkatkan setiap 3-4 jam
Berikan makan porsi sedikit tapi sering
Timbang BB setiap hari
Tingkatkan pemberian ASI dengan pemasukan intake nutrisi yang adekuat pada ibu
Kaji pitting edema atau ukur lingkar edema.

2. DS: Ibu klien mengatakan klien hanya minum ASI tanpa susu formula karena tidak
punya uang untuk membeli
DO: Kulit keriput, mukosa bibir kering
DX: Kurang volume cairan b.d intake cairan in adekuat; kemiskinan
Tujuan: memperthanakan perubahan keseimbangan cairan, dibutikan oleh haluaran
urin adekuat, TTV stabil, membran mukosa lembab, turgor kulit baik
KH: tidak dehidrasi lagi, TTV normal, BAK lancar
Intervensi:
Berikan cairan yang adekuat sesuai kondisi
Berikan cairan per oral
Berikan nutrisi parenteral
Ukur intake & output 2-3 ml/kg/jam
Ukur berat jenis urin
Auskultasi bising usus
Kaji tanda-tanda dehidrasi
Pantau adanya overload cairan
Kurangi garam dalam makanan untuk mengurangi edema

3. DS: -
DO: - Klien tampak lemah belum bisa berjalan duduk harus dibantu
- Belum bisa bicara
DX: Resiko Gangguan: Perkembangan b.d kemiskinan; mal nutrisi
Tujuan: pencegahan keterlambatan tumbuh kembang anak
KH: Pasien menunjukkan peruabahan motorik kasar dan motorik halus
Intervensi:
Bantu pasien untuk mencapai tingkat perkembangan selanjutnya melalui penguasaan tugas-tugas spesifik yang sesuai dengan tingkatnya
Berikan aktivitas bermain yang sesuai, dukung beraktivitas dengan anak lain atau dengan mainan
Berkomunikasi dengan pasien sesuai dengan kognitif pada perkembanganya
Ajaran perilaku yang sesuai dengan usia anak
Dajarkan kepada orang tua tenatng hal-hal penting dalam perkembangan normal
Berikan asupan nutrisi yang adekuat agar tubuh anak sehat dan bisa tumbuh dengan baik

DAFTAR PUSTAKA
Zain. B.H, Cermin Dunia Kedokteran No. 134, 2002, Jakarta
A. Azis Alimul Hidayat, Pengantar Ilmu keperawatan Anak, Salemba Medika, 2006, Jakarta
Ngastiyah, Asuhan Keperawatan Pada Anak, EGC, Jakarta















KEKURANGAN KALORI DAN PROTEIN
( K K P )

A@SOIM

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar