Rabu, 08 Juli 2009

TRAUMA VESIKA URINARIA

TRAUMA VESIKA URINARIA


1. PENGERTIAN
Trauma buli-bulu atau trauma vesika urinaria merupakan keadaan darurat bedah yang memerlukan penatalaksanaan segera, bila tidak ditanggulangi dengan segera dapat menimbulkan komplikasi seperti perdarahan hebat, peritonitis dan sepsis. Secara anatomic buli-buli terletak di dalam rongga pelvis terlindung oleh tulang pelvis sehingga jarang mengalami cedera.
Rupture kandung kemih:
A. Ruptur intraperitoneal: peritoneum pariental, simfisis, promantorium, cedera dinding perut yang mengakibatkan rupture intraperitoneal kandung kemih yang penuh, tidak terdapat perdarahan retroperitoneal kandung kemih yang penuh, tidak terdapat perdarahan retroperitoneal kecuali bila disebabkan patah tulang pinggul.
B. Ruptur retroperitoneal: peritoneum parietal, simfisis, promantorium, cedera panggul yang menyebabkan patah tulang sehingga terjadi rupture buli-buli retro ataiu intraperitoneal. Darah dan urin di jaringan lunak di luar rongga perut, perut terbebas darah dan urin. (R. Sjamsuhidayat, 1998)

2. ETIOLOGI
Ruptur kandung kemih terutama terjadi sehingga akibat trauma tumpul pada panggul, tetapi bisa juga karena trauma tembus seperti luka tembak dan luka tusuk oleh senjata tajam, dan cedera dari luar, cedera iatrogenik dan patah tulang panggul. Pecahan-pecahan tulang panggul yang berasal dari fraktur dapat menusuk kandung kemih tetapi rupture kandung kemih yang khas ialah akibat trauma tumpul pada panggul atas kandung terisi penuh. Tenaga mendadak atas massa urinaria yang terbendung di dalam kandung kemih yang menyebabkan rupture. Perforasi iatrogen pada kandung kemih terdapat pada reseksi transurethral sistoskopi atau manipulasi dengan peralatan pada kandung kemih.

3. TANDA DAN GEJALA
a. Fraktur tulang pelvis disertai perdarahan hebat
b. Abdomen bagian tempat jejas/hemato
c. Tidak bisa buang air kecil kadang keluar darah dari uretra.
d. Nyeri suprapubik
e. Ketegangan otot dinding perut bawah
f. Ekstravasasi kontras pada sistogram
g. Trauma tulang panggul
4. PATOFISIOLOGI
Trauma vesikaurinaria terbanyak karena kecelakaan lalu lintas/kecelakaan kerja yang menyebabkan fragmen patah tulang pelvis mencederai buli-buli. Trauma vesika urinaria tumpul dapat menyebabkan rupture buli-buli terutama bila kandung kemih penuh atau terdapat kelainan patelegik sepetrti tuberculosis, tumor atau obstruksi sehingga menyebabkan rupture. Trauma vesikaurinaria tajam akibat luka trusuk atau luka tembak lebih jarang ditemukan. Lua dapat melalui daerah suprapubik ataupun transperineal dan penyebab lain adalah instrumentasi urologic.
Fraktur tulang panggul dapat menimbulkan kontusio atau rupture kandung kemih, pada kontusio buli-buli hanya terjadi memar pada dinding buli-buli dengan hematuria tanpa eksravasasi urin. Ruptur kandung kemih dapat bersifat intraperitoneal atau ekstraperitoneal. Rupture kandung kemih ekstraperitoneal biasanya akibat tertusuk fragmen fraktur tulang pelvis pada dinding depan kandung kemih yang penuh. Pada kejadian ini terjadi ekstravasasi urin dari rongga perivesikal.

5. ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN MASALAH TRAUMA
VESIKA URINARIA
1. Pengkajian
a. Data Subyektif
• Rasa nyeri pada kandung kemih (nyeri abdomen bawah atau nyeri di daerah suprapubik) dapat disebabkan oleh distensi yang berlebihan atau infeksi kandung emih. Perasaan ingin kencing, tenesmus nyeri ketika mengejan) dan disuria terminal (nyeri pada akhir urinary) sering dijumpai.
• Pasien mngatakan kadang tidak bisa buang air kecil dan keluar darah dari uretra.
• Pasien selalu menanyakan tindakan yang akan dilakukan
b. Data Obyektif
• Pada saat urin dipantau kadang terdapat darah dan hematuria/perdarahan segar bisa terjadi
• Gelisah, cemas
• Espresi wajah ketakutan
• Takikardi
• Tekanan darah meningkat






c. Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan Kandung Kemih
TEKHNIK TEMUAN
• Inspeksi:
Perhatikan abdomen bagian bawah, kandung kemih adalah organ berongga yang mampu membesar u/ mengumpulkan dan mengeluarkan urin yang dibuat ginjal

• Perkusi
- Pasien dalam posisi terlentang
- Perkusi dilakukan dari arah depan
- Lakukan pengetukan pada daerah kandung kemih, daerah suprapubis

• Palpasi
Lakukan palpasi kandung kemih pada
daerah suprapubis
• Normalnya kandung kemih terletak di bawah simfibis pubis tetapi setelah membesar meregang ini dapat terlihat distensi pada area suprapubis


• Bila kandung kemih penuh akan terdengar dullness atau redup





• Pada kondisi yang berarti urin dapat dikeluarkan secara lengkap pada kandung kemih. Kandung kemih tidak teraba. Bila ada obstruksi urin normal maka urin tidak dapat dikeluarkan dari kandung kemih maka akan terkumpul. Hal ini mengakibatkan distensi kandung kemih yang bias di palpasi di daerah suprapubis


b. Pemeriksaan pembantu
Tes buli-buli :
• Buli-buli dikosongkan dengan kateter, lalu dimasukkan 500 ml larutan garam faal yang sedikit melebihi kapasitas buli-buli.
• Kateter di klem sebentar, lalu dibuka kembali, bila selisihnya cukup besar mungkin terdapat rupture buli-buli.




2. Diagnosa Keperawatan
a. Nyeri akut b.d trauma saluran perkemihan
b. Perubahan pola eliminasi BAK:retensi urin b.d kurang pengetahuan tentang teknik
pengosongan kandung kemih
c. Defisit perawatan diri b.d kelemahan fisik
d. Kurang pengetahuan b.d kurang informasi tentang penyakitnya.

3. Intervensi
No Tujuan dan criteria hasil Intervensi Rasionalisasi
1


























2































3










4 Setelah dilakukan perawatan 2X24 jam, pasien mengatakan tidak nyeri waktu berkemih dan tidak nyeri waktu perkusi daerah panggul, dengan KH:
- Pasien mengatakan nyerinya berkurang/hilang
- Pasien dapat istirahat dengan tenang
- Pasien tidak nyeri waktu berkemih
















Setelah dilakukan perawatan selama 5-7 hari, pasien tidak mengalami inkontinensia urin, dengan KH:
- Pasien dapat BAK dengan
teratur, bebas dari distensi
kandung kemih

























Setelah dilakukan perawatan selama 30 menit, pasien dapat melakukan aktifitas secara bertahap, dengan KH: berpartisipasi dalam perawatan diri & beraktifitas serta melakukan perawatan secara mandiri




Setelah dilakukan perawatan selama 2X24 jan, pasien diharapkan dapat mengetahui tentang penyait & perawatanya, dengan KH:
- Secara verbal pasien mngerti dan mampu mengungkapkan dan mendmonstrasikan perawatan




a. Pantau haluaran urin terhadap perubahan warna, pola dan bau urine
b. Kaji intensitas, lokasi dan area serta penjalran dari rasa sakit, frekuensi & durasi nyeri
c. Ajarkan teknik destraksi relaksasi
d. Jelaskan kepada klien penyebab rasa sakit
e. Berikan posisi senyaman mungkin
f. Observasi tanda-tanda non verbal nyeri (gelisah, kening mengkerut, peningkatan tekanan darah, denyut nadi)
g. Beri kompres hangat pada abdomen terutama perut bagian bawah
h. Kolaborasi pemberian antibiotic


a. Melakukan irigasi kateter secara berkala/terus-menerus dengan teknik steril
b. Atur posisi selang kateter& urin bag sesuai gravitasi sesuai dengan keadaan tertutup
c. Observasi adanya tanda-tanda shock/hemoragi (hamaturia, dingin, kulit lembab, takikardi, dispnea)
d. Mempertahankan kesterilan system drainage cuci tangan sebelum dan sesudah menggunakan alat dan observasi aliran urin serta adanay bekuan darah/jaringan
e. Monitor urin setiap hari (pertama operasi) dan setiap 2 jam (mulai hari kedua post op)
f. Ukur intake output cairan
g. Beri tindakan asupan/ pemasukan oral 2000-3000 ml/hari, jika tidak ada kontraindikasi

a. Kaji factor yang dapat menyebaban keletihan
b. Tingkatkan kemandirian dalam aktifitas perawatan diri, Bantu jika kelebihan terjadi
c. Anjurkan aktifitas alternative bersama dengan istirahat
d. Anjurkan istirahat

a. Motivasi pasien/keluarga u/ mengungkapkan pernyataan tentang penyakitnya
b. Berikan pendidikan pada pasien/keluarga tentang pemberian nutrisi, cairan irigasi dan kateter
a. U/ mengidentifikasi indikasi kemajuan/ penyimpanan dari hasil yang diharapkan
b. U/ mengetahui besar ringanya tingkat nyeri

















h. U/ mengurangi nyeri



































a. Menyediakan informasi tntang indikasi
b. Mningkatkan aktifitas yang sedang dan ringan
c. Mendorong latihan dalm braktifitas dan perawatan diri
d. Istirahat yang adekuat









































REFERENSI

1. Sabiton, David, Buku Ajar Bedah, Edisi ke-2, EGC, 1995
2. Marylin E. Doenges, Rencana Asuhan Keperawatan, Edisi 3, EGC
3. Safrudin Agus Nursalim & Makdan Anis, Saluran Perkemihan, Gombong

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar