Rabu, 08 Juli 2009

SOLUSIO PLASENTA

PERDARAHAN ANTE PARTUM

Selama fase aktif persalinan sering timbul sedikit perdarahan, yang dikenal dengan 'bloody show'. Hal ini disebabkan oleh pendataran dan dilatasi serviks yang menyebabkan robeknya vena-vena kecil. Perdarahan dari tempat di atas servik sebelum melahirkan merupakan hal yang mengkhawatirkan. Perdarahan dapat disebabkan oleh robeknya sebagian plasenta yang melekat dekat kanalis servikalis – Plasenta previa. Perdarahan juga dapat berasal dari robeknya plasenta dari tempat lain dalam rongga uterus – Solusio plasenta. Walaupun jarang perdarahan dapat juga terjadi akibat insersi velamentosa tali pusat disertai rupture dan perdarahan dari pembuluh darah janin.

SOLUSIO PLASENTA

Definisi. Terlepasnya plasenta dari tempat implantasinya sebelum janin lahir diberi beragam sebutan; abruption plasenta, accidental haemorage. Beberapa jenis perdarahan akibat solusio plasenta biasanya merembes diantara selaput ketuban dan uterus dan kemudian lolos keluar menyebabkan perdarahan eksternal. Yang lebih jarang, darah tidak keluar dari tubuh tetapi tertahan diantara plasenta yang terlepas dn uterus serta menyebabkan perdarahan yang tersembunyi. Solusio plasenta dapat total atau parsial.

Frekuensi dan Kemaknaan
Frekuensi solusio plasenta adalah sekitar 1 dari 200 pelahiran. Intensitas solusio plasenta sering bervariasi tergantung pada seberapa cepat wanita mendapat pertolongan. Angka kematioan perinatal sebesar 25 %. Ketika angka lahir mati akibat kausa lain telah berkurang secara bermakna, angka lahir mati akibat solusio plasenta masih tetap menonjol.





Etiologi
Kausa primer solusio plasenta belum diketahui tetapi terdapat beberapa kondisi terkait



Ris Relatif
Faktor Risiko (%)

Bertambahnya usia dan paritas NA
Preeklamsia 2.1-4.0
Hipertensi kronik 1.8-3.0
Ketuban pecah dini 2.4-3.0
Merokok 1.4-1.9
Trombofilia NA
Pemakaian kokain NA
Riwayat solusio 10-25
Leiomioma uterus NA
NA = tid ak tersedia
Dikutip dari Cunningham dan Hollier (1997); data risiko dari Ananth dkk. (1999a, 1999b) dan Kramer dkk. (1997).

Patologi
Solusio plasenta di awali perdarahan kedalam desidua basalis. Desidua kemudian terpisah, meninggalkan satu lapisan tipis yang melekat ke endometrium. Akibatnya, proses ini pada tahapnya yang paling awal memperlihatkan pembentukan hematom desidua yang menyebabkan pemisahan, penekanan, dan akhirnya destruksi plasenta yang ada di dekatnya. Pada tahap awal mungkin belum ada gejala klinis.
Pada beberapa kasus, arteri spiralis desidua mengalami rupture sehingga menyebabkan hematom retro plasenta, yang sewaktu membesar semakin banyak pembuluh darah dan plasenta yang terlepas. Bagian plasenta yang memisah dengan cepat meluas dan mencapai tepi plasenta. Karena masih teregang oleh hasil konsepsi, uterus tidak dapat beronntraksi untuk menjepit pembuluh darah yang robek yang memperdarahi tempat implantasi plasenta. Darah yang keluar dapat memisahkan selaput ketuban dari dinding uterus dan akhirnya muncul sebagai perdarahan eksternal, atau mungkin tetap tertahan dalam uterus.


Gambaran Klinis
Solutio plasenta ringan
Terjadi rupture sinus masrginalis. Bila terjadi perdarahan pervaginam warna merah kehitaman, perut terasa agak sakit atau terus menerus agak tegang. Tetapi bagian-bagian janin masih teraba

Solutio plasenta sedang
Plasenta telah terlepas seperempat sampai duapertiga luas permukaan. Tanda dan gejala dapat timbul perlahan seperti pada solution plasenta ringan atau mendadak dengan gejala sakit perut terus menerus, nyeri tekan, bagian janin sukar di raba., BJA sukar di raba dengan stetoskop biasa. Sudah dapat terjadi kelainan pembekuan darah atau ginjal.

Solutio plasenta berat
Plasenta telah lepas lebih duapertiga luas permukaannya, terjadi tiba-tiba, ibu syok janin meningggal. Uterus tegang seperti papan dan sangat nyeri. Perdarahan pervaginam tidak sesuai dengan keadaan syok ibu. Besar kemungkinan telah terjadi gangguan pembekuan darah dan ginjal.

▪ Diagnosa
Kehamilan yang lebih dari 22 minggu yang disertai dengan gejala-gejala
▪ Sakit perut terus menerus
▪ Nyeri tekan pada uterus
▪ Uterus tegang terus menerus
▪ Perdarahan pervaginam
▪ Syok
▪ BJA tidak terdengar
▪ Palpasi janin sukar karena rahin keras
▪ Fundus uteri makin lama makin naik
▪ VT ketuban tegang terus menerus (karena isi rahim bertambah)



Komplikasi
• Perdarahan
Tipe perdarahan :
- Perdarahan keluar
- Perdarahan tersembunyi
- Perdarahan keluar dan tersembunyi
• Kelainan pembekuan darah
Terjadi 10 % pada solusio plasenta dengan hipofibrinogenemia. Kadar fibrinogen normal wanita hamil adalah berkisar antara 300 – 700 mg %. Apabila kadar fibrinogen < 100 mg % maka akan terjadi gangguan pembekuan darah.
• Koagulopati konsumtif
Mekanisme utama yang hampir pasti berperan adalah induksi koagulasi intravaskular.
• Gagal ginjal
Ganguan serius pada perfusi ginjal adalah konsekuensi perdarahan massif. Terapi perdarahan secara dini dan agresif dengan darah dan kristaloid sering dapat mencegah disfungsi ginjal secara klinis.
• Uterus Couvelair
Mungkin terjadi ektravasasi luas darah kedalam otot uterus dn dibawah lapisan serosa otot uterus. Efusi darah semacam ini kadang juga ditemukan di bawah serosa tuba, jaringan ikat ligamentum latum serta bebas di rongga peritoneum. Perdarahan miometrium ini jarang sampai mengganggu kontraksi uterus dan bukan merupakan indikasi histerektomi.
• Syok
Syok pada solusio plasenta tidak sebanding dengan jumlah perdarahannya. Diperkirakan bahwa tromboplastin dari desidua dan plasenta masuk ke sirkulasi ibu dan memicu koagulasi intravascular serta gambaran lain sindrom emboli cairan amnion termasuk hipotensi.


Penatalaksanaan
1. Konservatif
Menunda pelahiran mungkin bermamfaat pada janin masih imatur serta bila solusio plasenta hanya berderajat ringan. Tidak adanya deselerasi tidak menjamin lingkungan intra uterine aman.Harus segera dilakukan langkah-langkah untuk memperbaiki hipovolemia, anemia dan hipoksia ibu sehingga fungsi plasenta yang masih berimplantasi dapat dipulihkan. Tokolisis harus di anggap kontra indikasi pada solusio plasenta yang nyata secara klinis
2. aktif
Pelahiran janin secara cepat yang hidup hampir selalu berarti seksio caesaria. Seksio sesaria kadang membahayakan ibu karena ia mengalami hipovolemia berat dan koagulopati konsumtif. Apabila terlepasnya plasenta sedemikian parahnya sehingga menyebabkan janin meninggal lebih dianjurkan persalinan pervaginam kecuali apabila perdarahannya sedemikian deras sehingga tidak dapat di atasi bahkan dengan penggantian darah secara agresif atau terdapat penyulit obstetric yang menghalangi persalinan pervaginam.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar