Rabu, 08 Juli 2009

ANATOMI FISIOLOGI SISTEM MUSKULO SKELETAL

AKHMAD SOIM HIDAYATULLOH 2A
0600948

ANATOMI FISIOLOGI SISTEM MUSKULO SKELETAL

A.PENDAHULUAN
Kerangka terdiri atas tulang, tulang rawan, sendi dan ligament. Dan merupakan sekitar 20% dari massa tubuh. Tulang merupakan bagian terbesar dari kerangka; tulang rawan hanya terdapat pada tempat – tempat tertentu seperti hidung, ujung iga dan sendi, yang memungkinkan gerakan. Sendi, yang merupakan batas antar tulang, memungkinkan kerangka bergerak tanpa mengalami cedera.

B.FUNGSI SISTEM RANGKA
1. Tulang memberikan topangan dan bentuk pada tubuh.
2. Pergerakan. Tulang berartikulasi dengan tulang lain pada sebuah persendian dan berfungsi sebagai pengungkit.
3. Perlindungan. Sistem rangka melindungi organ-organ lunak yang ada dalam tubuh.
4. Pembentukan sel darah (hematopoesis). Sumsum tulang merah, yang ditemukan pada orang dewasa dalam tulang sternum, tulang iga, badan vertebra, tulang pipih pada kranium, dan pada bagian ujung tulang panjang merupakan tempat produksi sel darah merah, sel darah putih dan trombosit darah.
5. Tempat penyimpanan mineral. Matriks tulang tersusun dari sekitar 62% garam anorganik, terutama kalsium fosfat dan kalsium karbonat dengan jumlah magnesium, klorida, florida, sitrat yang lebih sedikit. Rangka mengandung 99% kalsium tubuh.

KOMPOSISI JARINGAN TULANG
1. Tulang terdiri dari sel-sel dan matriks ekstraseluler. Sel-sel tersebut adalah osteosit, osteoblast dan osteoklast.
2. Matriks tulang tersusun dari serat-serat kolagen organic yang tertanam pada substansi dasar dan garam-garam anorganik tulang seperti fosfor dan kalsium.
3. Substansi dasar tulang terdiri dari sejenis proteoglikan yang tersusun terutama dari kondroitin sulfat dan sejumlah kecil asam hialuronat yang bersenyawa dengan protein.
4. Garam-garam tulang berada dalam bentuk kristal kalsium fosfat yang disebut hidroksiapatit.

ANATOMI TULANG PANJANG YANG TIPIKAL
Tulang panjang seperti femur memiliki ciri-ciri sebagai berikut :
1. Diafisis (batang) tersusun dari tulang kompak silinder tebal yang membungkus medulla atau rongga sumsum sentral yang besar. Rongga sumsum berisi sumsum tulang kuning (adipose) atau sumsum merah, bergantung usia individu. Endosteum melapisi rongga sumsum. Jaringan ini terdiri dari jaringan ikat areolar vascular. Periosteum membungkus diafisis. Periosteum adalah lembaran jaringan ikat yang terdiri dari dua lapisan : lapisan luar adalah jaringan ikat fibrosa rapat; lapisan dalam bersifat osteogenik (pembentuk tulang) dan terdiri dari satu lapisan tunggal osteoblas.
2. Epifisis adalah ujung-ujung tulang yang membesar sehingga rongga-rongga sumsum dengan mudah bersambungan. Epifisis tersusun dari tulang cancellus internal yang diselubungi tulang kompak dan dibungkus kartilago artikular (kartilago hialin).

ANATOMI RANGKA AKSIAL
Rangka aksial terdiri dari tulang-tulang dan bagian kartilago yang melindungi dan menyangga organ-organ kepala, leher, dan dada. Bagian rangka aksial meliputi tengkorak, tulang hyoid, osikel auditori, kolumna vertebra, sternum dan tulang iga.

TENGKORAK
Tersusun dari 22 tulang; 8 tulang cranial dan 14 tulang fasial.

KRANIUM
Membungkus dan melindungi otak. Terdiri dari :
1. Tulang frontal membentuk dahi, langit-langit rongga nasal dan langit-langit orbita (kantong mata). Tuberositas frontal adalah dua tonjolan yang berbeda ukuran dan biasanya lebih besar pada tengkorak muda.
Arkus supersiliar adalah dua lengkungan yang mencuat dan menyatu secara medial oleh suatu elevasi halus yang disebut glabela.
2. Tulang parietal membentuk sisi dan langit-langit kranium. Sutura sagital yang menyatukan tulang parietal kiri dan kanan adalah sendi mati yang disatukan fibrokartilago. Sutura koronal menyambung tulang parietal ke tulang frontal. Sutura lumbdoidal menyambung tulang parietal ke tulang oksipital.
3. Tulang oksipital membentuk bagian dasar dan bagian belakang kranium. Foramen magnum adalah pintu oval besar yang dikelilingi tulang oksipital. Foramen ini menghubungkan rongga cranial dengan rongga spinal.
4. Tulang temporal membentuk dasar dan bagian sisi dari kranium. Setiap tulang temporal ireguler terdiri dari 4 bagian yaitu bagian skuamosa, bagian petrous, bagian mastoid dan bagian timpani.
5. Tulang etmoid adalah struktur penyangga penting dari rongga nasal dan berperan dalam pembentukan orbita mata. Tulang ini terdiri dari 4 bagian yaitu : lempeng plate kribform, lempeng perpendicular, massa lateral dan konka nasal superior dan tengah.
6. Tulang sphenoid berbentuk seperti kelelawar dengan sayap terbentang. Tulang ini membentuk dasar anterior kranium dan berartikulasi ke arah lateral dengan tulang temporal dan ke arah anterior dengan tulang etmoid dan tulang frontal.
7. Osikel auditori tersusun dari maleus, inkus dan stapes.
8. Tulang Wormian adalah tulang kecil, yang jumlahnya bervariasi dan terletak dalam sutura.

TULANG WAJAH
Tulang wajah tidak bersentuhan dengan otak. Tulang tersebut disatukan sutura yang tidak dapat bergerak, kecuali pada mandibula atau rahang bawah.
1. Tulang-tulang nasal membentuk penyangga hidung dan berartikulasi dengan septum nasal.
2. Tulang-tulang palatum membentuk bagian posterior langit-langit mulut (langit-langit keras), bagian tulang orbital dan bagian rongga nasal.
3. Tulang-tulang zigomatik (malar) membentuk tonjolan pada tulang pipi. Setiap prosesus temporal berartikulasi dengan prosesus zigomatikus pada tulang temporal.
4. Tulang –tulang maksilar membentuk rahang atas. Prosesus alveolar mengandung soket gigi bagian atas. Prosesus zigomatikus memanjang ke luar untuk bersatu dengan tepi infraorbital pada orbita. Prosesus palatinus membentuk bagian anterior pada langit-langit keras. Sinus maksilar yang ksosong sampai ke rongga nasal, merupakan bagian dari empat sinus paranasal.
5. Tulang lakrimal berukuran kecil dan tipis, serta terletak di antara tulang etmois dan maksila pada orbita.
6. Tulang vomer membentuk bagian tengah dari langit-langit keras di antara palatum dan maksila, serta turut membentuk septum nasal.
7. Konka nasal inferior (turbinatum) .
8. Mandibula adalah tulang rahang bagian bawah. Bagian alveolar berisi soket gigi bawah. Ramus mandibular yang terletak di kedua sisi rahang memiliki dua prosesus yaitu prosesus kandiloid dan prosesus koronoid.

TULANG HIOID
Adalah tulang berbentuk tapal kuda yang unik karena tidak berartikulasi dengan tulang lain. Tulang hyoid ditopang oleh ligament dan otot dari prosesus stiloideus temporal.

SINUS PARANASALIS
Sinus paranasal (frontal, etmoidal, sfenoidal dan maksilar) terdiri dari ruang-ruang udara dalam tulang tengkorak yang berhubungan dengan rongga nasal.


VERTEBRA
1. Kolumna vertebra menyangga berat tubuh dan melindungi medulla spinalis. Kolumna ini terdiri dari vertebra yang dipisahkan discus fibrokartilago intervertebral. Ada 7 tulang vertebra serviks, 12 vertebra toraks, 5 vertebra lumbal, 5 tulang vertebra sacrum yang menyatu menjadi sacrum dan 3- 5 tulang koksigeal yang menyatu menajdi tulang koksiks.
2. Ke 31 pasang saraf spinal keluar melalui foramina intervertebral di antara vertebra yang letaknya bersebelahan.
3. Badan atau sentrum menyangga sebagian besar berat tubuh
4. Lengkung saraf (vertebra) yang terbentuk dari dua pedikel dan lamina membungkus rongga saraf fan menjadi lintasan medulla spinalis.
5. Sebuah prosesus spinosa menonjol dari lamina ke arah posterior dan inferior untuk tempat perlekatan otot.
6. Prosesus transveresa menjorok ke arah lateral.
7. Semua vertebra serviks memiliki foramina transversal untuk lintasan arteri vertebra.

TULANG STERNUM
1. Sternum (tulang dada) terbentuk dalam tiga bagian : manubrium atas, badan (gladiolus) dan prosesus sifoid.
2. Artikulasi manubrium dengan klavicula adalah pada insisura jugular (substernal) yang merupakan salah satu tanda khas tulang yang muda di palpasi.
3. Badan tulang membentuk bagian utama sternum. Takik kostal lateral berartikulasi langsung dengan kartilago kostal tulang iga ke-8 sampai ke-10.
4. Bagian inferior prosesus sifoid adalah jaringan kartilago.

TULANG IGA
1. Ke-12 pasang tulang iga berartikulasi ke arah posterior dengan faset tulang iga pada prosesus transversa di vertebra toraks.
2. 7 pasang tulang yang pertama adalah iga sejati dan berartikulasi dengan sternum di sisi anterior.
3. 3 pasang kemudian (8-10) adalah iga semu. Tulang-tulang ini berartikulasi secara tidak langsung dengan sternum melalui penyatuan kartilago tersebut dengan tulang di atasnya dan kemudian menyatu dalam satu persendian kartilago dengan kartilago kostal ke-7.
4. Tulang iga ke-11 dan ke-12 adalah iga melayang yang tidak memiliki perlekatan di sisi anteriornya.

ANATOMI RANGKA APENDIKULAR
Rangka apendikular terdiri dari girdel pectoral (bahu), girdel pelvis, dan tulang lengan serta tungkai.

GIRDEL PEKTORAL
Setiap girdel pectoral memiliki dua tulang yaitu kalvicula dan scapula dan berfungsi untuk melekatkan tulang lengan ke arah rangka aksial.
1. Scapula adalah tulang pipih triangular dengan tiga tepi ; tepi vertebra (medial, tepi superior dan tepi lateral.
2. Bagian spina pada scapula adalah bubungan tulang yang berawal dari tepi vertebra dan melebar saat mendekati ujung bahu.
3. Spina berakhir pada prosesus akromion yang berartikulasi dengan klavicula; bagian ini menggantung persendian bahu.
4. Klavicula adalah tulang berbentuk S, yang secara lateral berartikulasi dengan prosesus akromion pada scapula dan secara medial dengan manubrium pda takik kalvicular untuk membentuk sendi sternoklavicular.

LENGAN ATAS
Tersusun dari tulang lengan atas dan tulang lengan bawah.
1. Humerus adalah tulang tunggal pada lengan. Humerus terdiri dari bagian kepala membulat yang masuk dengan pas ke dalam rongga glenoid, bagian leher anatomis dan bagian batang yang memanjang ke arah distal. Dua elevasi, tuberkel besar dan tuberkel kecil, terletak di ujung atas tulang dan memberikan tempat untuk perlekatan otot.
2. Tulang-tulang dari lengan bawah adalah ulna pada sisi medial dan tulang radius di sisi lateral (sisi ibu jari) yang dihubungkan dengan suatu jaringan ikat felksibel, membran interoseus.
3. Ujung proksimal ulna tampak seperti pilinan yang terurai. Bagian atas pilinan tersebut adalah prosesus olekranon, yang masuk dengan pas ke dalam fosa olekranon humerus saat lengan bawah berekstensi penuh.
4. Ujung proksimal tulang radius adalah kepala berbentuk discus yang berartikulasi dengan kapitulum humerus dan takik radial tulang ulna.
5. Tulang pergelangan tangan (karpus), pergelangan tangan terbentuk dari delapan tulang karpal ireguler yang tersusun dalam dua baris, setiap baris berisi empat tulang.
6. Barisan tulang karpal proksimal dari sisi ibu jari dalam posisi anatomis terdiri dari : navicular, lunatum, trikuetral dan fisiformis.
7. Barisan tulang karpal distal terdiri dari : Trapezium, Trapezius, Kapitatum dan Hamatum.
8. Tangan (metacarpal) tersusun dari 5 tulang metacarpal. Semua tulang metacarpal sangat serupa, kecuali untuk ukuran panjang metacarpal pertama pada ibu jari.
9. Tulang-tulang jari disebut phalanges; tulang tunggalnya lebih sering disebut falang. Setiap jari memiliki tiga tulang yaitu tulang falang proksimal, medial dan distal. Ibu jari hanya memiliki falang proksimal dan falang distal.

GIRDEL PELVIS
Girdel pelvis mentransmisikan berat trunkus ke nagian tungkai bawah dan melindungi organ-organ abdominal dan pelvis. Bagian ini terdiri dari dua tulang panggul (disebtu juga ossa koksa, tulang tanpa nama atau tulang pelvis) yang bertemu pada sisi anterior simfisis pubis dan berartikulasi di sisi posterior dengan sacrum.
1. Setiap tulang panggul menyerupai bentuk kipas angin listrik dengan sebuah poros pemegang serta dua baling-baling. Poros tersebut adalah suatu kantong seperti cangkir disebut acetabulum yang menerima kepala femur atau tulang paha, dipersendian panggul.
2. Ilium adalah lempeng tulang lebar , yang menjulang ke atas dan ke luar acetabulum. Bagian ini naik posisinya sampai mencapai Krista iliaka tebal yang dapat teraba pada posisi tangan di panggul.
3. Tulang iskium merupakan baling-baling posterior dan inferior dari kipas. Tepi medialnya turut membentuk takik skiatik besar.
4. Tulang pubis melengkapi baling-baling anterior dan inferior tulang panggul. Bagian ini terutama terdiri dari dua batang tulang : ramus pubis superior dan inferior. Foramen obturator adalah pembukaan besar yang dibatasi ramus iskial, ramus pubis inferior dan ramus pubis superior.

TUNGKAI BAWAH
Secara anatomis, bagian proksimal dari tungkai bawah antara girdel pelvis dan lutut adalah paha, bagian antara lutut dan pergelangan kaki adalah tungkai.
1. Femur, adalah tulang terpanjang, terkuat dan terberat dari semua tulang pada rangka tubuh. Ujung proksimal femur meiliki kepala yang membulat untuk berartikulasi dengan asetabulum. Di bawah bagian kepala yang tirus adalah bagian leher yang tebal, yang terus memanjang sebagai batang. Ujung batang atas memiliki dua prosesus yang menonjol, trokanter besar dan trokanter kecil, sebagai tempat perlekatan otot untuk menggerakkan persendian panggul.
2. Tulang tungkai adalah tulang tibia medial dan tulang fibula lateral.
3. Tibia adalah tulang medial yang besar, tulang ini membagi berat tubuh dari femur ke bagian kaki.
4. Fibula adalah tulang yang paling ramping dalam tubuh, panjangnya proporsional dan tidak turut menopang berat tubuh. Bagian kepala fibula berartikulasi dengan faset fibular di bawah kondilus lateral tulang tibia.
5. Pergelangan kaki dan kaki tersusun dari 26 tulang yang diatur dalam tiga rangkaian. Tulang tarsal menyerupai tulang karpal pergelangan tangan, tetapi berukuran lebih besar; tulang metatarsal juga menyerupai tulang metakrpal tangan dan falang pada jari kaki juga menyerupai falang jari tangan.
6. Ada tujuh tulang tarsal yaitu tulang talus, tulang kalkaneus , tulang navicular, 3 tulang kuneiform dan tulang kuboid.
7. Telapak kaki dan arkus longitudinal terbentuk dari lima tulang metatarsal yang ramping. Setiap metatarsal memiliki bagian dasar , batang dan bagian kepala.

PERSENDIAN
KLASIFIKASI UMUM
Suatu artikulasi atau persendian terjadi saat permukaan dari dua tulang bertemu, adanya pergerakan atau tidak tergantung pada sambungannya.

KALSIFIKASI STRUKTURAL
1. Persendian fibrosa tidak memiliki rongga sendi dan diperkokoh dengan jaringan ikat fibrosa.
2. Persendian kartilago tidak memiliki rongga sendi dan diperkokoh dengan jaringan kartilago.
3. Persendian sinovial memiliki rongga sendi dan diperkokoh dengan kapsul dan ligament artikular yang membungkusnya.

KLASIFIKASI FUNGSIONAL
1. Sendi sinartrosis atau sendi mati. Secara structural sendi ini dibungkus dengan jaringan ikat fibrosa atau kartilago. Sutura adalah sendi yang dihubungkan dengan jaringan ikat fibrosa rapat dan hanya ditemukan pada tulang tengkorak. Contohnya adalah sutural sagital dan sutura parietal.
2. Amfiartrosis adalah sendi dengan pergerakan terbatas yang memungkinkan terjadinya sedikit gerakan sebagai respon terhadap torsi dan kompresi. Contohnya adalah simfisis pubis, tulang radius dan ulna, tibia dan fibula.
3. Diartrosis adalah sendi yang dapat bergerak bebas, disebut juga sendi sinovial.


KLASIFIKASI PERSENDIAN SINOVIAL
1. Sendi sferoidal terdiri dari sebuah tulang dengan kepala berbentuk bulat yang masuk dengan pas ke dalam rongga berbentuk cangkir pada tulang lain. Contohnya : sendi panggul serta sendi bahu.
2. Sendi engsel, permukaan konveks sebuah tulang masuk dengan pas pada permukaan konkaf tulang kedua. Contohnya : persendian pada lutut dan siku.
3. Sendi kisar adalah tulang berbentuk kerucut yang masuk dengan pas ke dalam cekungan tulang kedua dan dapat berputar ke semua arah. Contohnya : persendian antara bagian kepala proksimal tulang radius dan ulna.
4. Persendian kondiloid terdiri dari sebuah kondilus oval suatu tulang yang masuk dengan pas ke dalam rongga berbentuk elips di tulang kedua. Contohnya : sendi antara tulang radius dan tulang karpal.
5. Sendi pelana, permukaan tulang yang berartikulasi berbentuk konkaf di satu sisi dan konveks pada sisi lainnya. Contoh : persendian antara tulang karpal dan metatarsal pada ibu jari.
6. Sendi peluru adalah salah satu sendi yang permukaan kedua tulang yang berartikulasi berbentuk datar, sehingga memungkinkan gerakan meluncur antara satu tulang terhadap tulang lainnya. Contoh : persendian intervertebra dan persendian antar tulang karpal dan tulang tarsal.

PERGERAKAN PADA PERSENDIAN SINOVIAL
Merupakan hasil kerja otot rangka yang melekat pada tulang-tulang yang membentuk artikulasi. Otot tersebut memberikan tenaga , tulang berfungsi sebagai pengungkit dan sendi berfungsi sebagai penumpu.
1. Fleksi adalah gerakan yang memeprkecil sudut antara dua tulang atau dua bagian tubuh, seperti saat menekuk siku, menekuk lutut.
2. Dorsofleksi adalah gerakan menekuk telapak kaki di pergelangan ke arah depan (meninggikan bagian dorsal kaki).
3. Plantar fleksi adalah gerakan melurukan telapak kaki pada pergelangan kaki.
4. Ekstensi adalah gerakan memperbesar sudut antara dua tulang atau dua bagian tubuh, seperti meluruskan persendian pada siku dan lutut setelah fleksi.
5. Hiperekstensi mengacu pada gerakan yang memperbesar sudut pada bagian-bagian tubuh melebihi 180  seperti gerakan menekuk ke pala ke arah belakang.
6. Abduksi adalah gerakan bagian tubuh menjauhi garis tengah tubuh, seperti saat lengan berabduksi atau menjauhi aksis longitudinal tungkai.
7. Aduksi, kebalikan dari abduksi, adalah gerakan bagian tubuh saat kembali ke aksis utama tubuh atau aksis longitudinal tungkai.
8. Rotasi adalah gerakan tulang yang berputar di sekitar aksis pusat tulang itu sendiri tanpa mengalami dislokasi lateral, seperti saat menggelengkan kepala untuk menyatakan “tidak”.
9. Pronasi adalah rotasi medial lengan bawah dalam posisi anatomis, yang mengakibatkan telapak tangan menghadap ke belakang.
10. Supinasi adalah rotasi lateral lengan bawah, yang mengakibatkan telapak tangan menghadap ke depan.
11. Sirkumduksi adalah kombinasi dari semua gerakan angular dan berputar untuk membuat ruang berbentuk kerucut, seperti saata mengayunkan lengan membentuk putaran.
12. Inversi adalah gerakan sendi pergelangan kaki yang memungkinkan telapak kaki menghadap ke dalam atau ke arah medial.
13. Eversi adalah gerakan sendi pergelangan kaki yang memungkinkan telapak kaki menghadap ke arah luar.
14. Protraksi adalah memajukan bagian tubuh, seperti saat menonjolkan rahang bawah ke depan.
15. Retraksi adalah gerakan menarik bagian tubuh ke arah belakang, seperti saat merektraksi mandibula.
16. Elevasi adalah pergerakan struktur ke arah superior, seperti saat mengatupkan mulut atau mengangkat bahu.
17. Depresi adalah gerakan suatu struktur ke arah inferior, seperti saat membuka mulut.

SISTEM MUSKULAR

PENDAHULUAN
Jaringan otot yang mencapai 40 – 50% berat tubuh, pada umumnya terdudun dari sel-sel kontraktil yang disebut serabut otot. Melalui kontraksi, sel-sel otot menghasilkan pergerakan dan melakukan pekerjaan.

Fungsi sistem muscular adalah :
1. Pergerakan. Otot menghasilkan gerakan pada tulang tempat otot tersebut melekat dan bergerak dalam bagian-bagian organ internal tubuh.
2. Penopang tubuh dan mempertahankan postur. Otot menopang rangka dan mempertahankan tubuh saat berada dalam posisi berdiri atau saat duduk terhadap gaya gravitasi.
3. Produksi panas. Kontraksi otot secara metabolis menghasilkan panas untuk mempertahankan suhu tubuh normal.

Ciri-ciri otot :
1. Kontraktilitas. Serabut otot berkontraksi dan menegang, yang dapat atau mungkin juga tidak melibatkan pemendekan otot.
2. Eksitabilitas. Serabut otot akan merespons dengan kuat jika distimulasi oleh impuls saraf
3. Ekstensibilitas. Serabut otot memiliki kemampuan untuk meregang melebihi panjang otot saat rilaks.
4. Elastisitas. Serabut otot dapat kembali ke ukurannya semula setelah berkontraksi atau meregang.

JENIS –JENIS OTOT
1. OTOT RANGKA adalah otot lurik, volunter dan melekat pada rangka. Serabut otot sangat panjang, sampai 30 cm, berbentuk silindris, dengan lebar berkisar antara 10 mikron sampai 100 mikron. Setiap serabut memiliki banyak inti yang tersusun di bagian perifer. Kontraksinya cepat dan kuat.
2. OTOT POLOS adalah otot tidak berlurik dan involunter . Jenis otot ini dapat ditemukan pada dinding organ berongga seperti kandung kemih dan uterus, serta pada dinding tuba, seperti pada sistem respiratorik, pencernaan, reproduksi, urinarius dan sistem sirkulasi darah. Serabut otot berbentuk spindel dengan nucleus sentral yang terelongasi. Serabut ini berukuran kecil , berkisar antara 20 mikron (melapisi pembuluh darah) sampai 0,5 mm pada uterus orang hamil. Kontraksinya kuat dan lamban.
3. OTOT JANTUNG adalah otot lurik, involunter dan hanya ditemukan pada jantung. Serabut terelongasi dan membentuk cabang dengan satu nucleus sentral. Panjangnya berkisar antara 85 mikron sampai 100 mikron dan diameternya sekitar 15 mikron. Kontraksi otot jantung kuat dan berirama.












PENGKAJIAN SISTEM MUSKULOSKELETAL


Sebelum dilakukan pengkajian ,yang harus diperhatikan adalah :
a. Minta klien untuk menjelaskan riwayat masalah pada tulang , otot atau fungsi sendi,meliputi riwayat jatuh, trauma, mengangkat benda berat dan penyakit tulang atau sendi dengan serangan tiba-tiba .
b. Kaji gejala dan peningkatan kekakuan atau nyeri ,meliputi lokasi durasi tingkat keparahan,jenih nyeri,dan factor predisposisi,factor penambah dan factor penyembuh.
c. Tanyakan apakah klien pernah melihat suatu peerubahan dalam kemampuan melaksanakan tindakan perawatan diri ,seperti mandi, makan, berpakaian, perkemihan, dan ambulasi,atau fungsi social seperti pekerjaan, rekreasi, dan aktivitas seksual.
d. Periksa penurunan tinggi tubuh pasa wanita berusia diatas 50 tahun dengan mengurangj tinggi saat ini dibandingkan dengan tinggi maksimum dewasa untuk memperkirakan ada tidaknya osteosporosis.

A. PENGKAJIAN:
1. Inspeksi umum
a. Observasi gaya berjalan, berdiri, dan postur saat klien memasuki ruangan,pengkajian dimulai saat klien tampak berada dalam posisi gerakan natural. Perhatikan bagaimana klien berjalan , duduk dan berdiri pada posisi duduknya.minta klien berjalan pada sebuah garis lurus menjauh. Observasi gerakan ekstermitas. Perhatikan adanya penanganan kaki,lekuk, menyeret- menyeret kaki dan perhatikan posisi batang tubuh terhadap tungkai.
Hasil normal:
Klien seharusnya berjalan dengan ke2 lengan bergerak bebas disisinya dan kepala mendahului tubuh. Ke2 ibu jari seharusnya mengarah tepat ke depan
b. observasi klien dari samping, pada posisi berdiri dan kaji lengkung spina servikal, torakal dan lumbal
Hasil normal:
Postur berdiri normal tegak lurus dengan panggul dan bahu berada dalam satu keselarasan.kepala normal tertahan tegak
c. perhatikan juga dasar penyangga dan stabilitas penahannya berat badan
Hasil normal:
Beberapa orang bahunya melengkung saat duduk , hal ini normal. Berat tubuh tuersebar merata klien berdiri diatas jari- jari dan tumit kaki kiri dan kanan.
d. Inspeksi kulit dan jaringan subkutan dibawah otot , tulang dan sendi terhadap adanya warna yang tidak sewajarnya , pembengkakan atau massa.
Hasil normal:
Jaringan cenderung mengikuti bentuk bagian tubuh tanpa oembengkakan atau massa
e. Observasi ekstermitas terhadap ukuran keseluruhan, deformitas kasar, pembesaran tulang , simetrisistas dan keselarasan antara panjang dan posisi tubuh
Hasil normal:
Biasanya terdapat simetrisitas bilateral pada panjang , lingkar, keselarasan dan posisi dan jumlah kelipatan kulit
2. Rentang gerak sendi dan tonus serta kekuatan otot

a. Buatlah tiap sendi mencapai rentang gerak normal penuh. Bandingkan sendi yang sama pada ke2 sisi tubuh terhadap keselarasan. Uji ke2 rentan gerak aktif dan pasif untuk masing- masing kelompok Sendi otot mayor yang berhubungan. Jangan paksa sendi bergerak ke posisi yang menyakitkan. Beri klien cukup ruang untuk menggerakan masing- masing kelompok otot sesuai rentan gerakannnya.
Hasil normal:
Sendi harus bebas dari kekakuan, ketidakstabilan, pembengkakan atau inflamasi.
b. Selama pengkajian terhadap rentan gerak, kekuatan dan ketegangan otot , inspeks juga mengenai adanya pembengkakan deformitas dan kondisi dari jaringan sekitar, palpasi atau observasiterjadinya kekakuan , ketidak stabilan, gerakan sendi yang tidak bia.sanya, sakit, nyeri, krepitasi dan nodul-nodul.Bila sendi tampak bengkak, dan inflamasi,dan palpasi kehangatannya.
Hasil normalnya:
Tak adanya ketidaknyamanan harus terjadi bila dilakukan penekanan pada tulang dan otot.
c. Selama pengukuran rentang gerakan pasif,minta klien agar rilek dan memungkinkan untuk menggerakkan sendi secara pasif sampai akhir rentang gerak terasa.
Hasil normalnya:
Rentang gerakan disbanding dengan gerakan pasif dan aktif harus setara untuk masing masing sendi dan diantra sendi sendi kontra lateral,sendi normal bergerak bebas tanpa sakit atau krepitasi.
d. Bila diduga terjadi penurunan gerakan sendi,gunakan sebuah goniometer untuk pengukuran yang tepat mengenai derajat gerakan. Ukur sudut sendi sebelum rentang gerakan sendi secara penuh atau saat pada posisi netral dan ukur lagi setelah gerakan sendi sejauh mungkin.
e. Tonus dan kekuatan otot dapat diperiksa selama pengukuran rentang gerak sendi, tonus otot dideteksi sebagai tahanan otot saat ekstremitas rilek secara pasif digerakkan melalui rentang geraknya.
Hasil normalnya:
Tonus otot normal menyebabkan tahanan ringan dan datar terhadap gerakan pasif selama rentang gerakannya.
f. Minta klien membentuk suatu posisi stabil. Minta klien untuk memfleksikan otot yang akan diperiksa dan kemudian agar menahan tenaga dorong yang akan dilakukan terhadap fleksinya. Periksa seluruh kelompok mayor.
g. Bandingkan kekuatan otot secara bilateral
Hasil normalnya:
Kekuatan otot secara bilateral simetris terhadap tahanan tenaga dorong,lengan dominant mungkin sedikit lebih kuat dai lengan yang tidak dominan.
h. Bersamaan dengan tiap manufer,minta klien membentuk suatu posisi kuatnya,berikan peningkatan tenaga dorong secara bertahap kelompok otot.
i. Klien menjaga tahanan tersebut agar tetap ada sampai diminta untuk menghentikannya.
j. Sendi seharusnya bergerak saat pemeriksa memberi fariasi kekuatan tenaga dorong terhadap kelompok otot tersebut.
k. Bila kelemahan otot terjadi periksa ukuran otot dengan menempatkan pita pengukur disekitar lingkar otot tubuh dan membandingkannya dengan sisi yang berlawanan.

3. Uji kekuatan otot:
Maksimal:5
Paling rendah:0
0= tidak bisa digerakkan
1= hanya bisa bergerak sedikit
2= bisa bergerak kanan atau kiri tapi tidak bisa menahan grafitasi atau
benda berat.
3=bisa menahan grafitasi tetapi sebentar.
4=bisa menahan grafitasi dan menahan benda ringan.
5= sempurna.











































DAFTAR PUSTAKA

Potter,Patricia,A.Penkajian Kesehatan,Edisi 3, EGC 1996:Jakarta

Syaifudin, H, B.Ac, Drs,1997. Anatomi Fisiologi Untuk Siswa Perawat, Edisi 2 : EGC, Jakarta
Sloane Ethel, 2004. Anatomi dan Fisiologi Untuk Pemula, Edisi I : EGC, Jakarta.
Tambayong Jan,Dr,2001. Anatomi dan Fisiologi Untuk Keperawatan : EGC, Jakarta

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar