Rabu, 08 Juli 2009

KOMUNIKASI PADA ANAK

KOMUNIKASI PADA ANAK

A. Definisi

Komunikasi adalah suatu proses di mana terjadi pengiriman pesan dari seseorang kepada orang lain.
. Komunikasi yang baik adalah mengetahui kapan berbicara dan kapan untuk diam. Sebagaimana ketrampilan interpersonal, kemampuan untuk berkomunikasi dibentuk pertama kali oleh hubungan seorang anak dengan orang tuanya. Ketrampilan komunikasi dipelajari dirumah yaitu di masa bayi.
Anak-anak mengalami masa-masa dimana mereka sangat terbuka mengenai perasaan mereka. Dan ada kalanya, mereka lebih pendiam dan menyimpan sendiri pikiran-pikiran dan emosi mereka sendiri. Akan tetapi berkomunikasi setiap waktu dengan anak-anak adalah penting. Mempunyai hubungan baik yang terpelihara baik, tergantung pada komunikasi yang baik.
Anak-anak merupakan komunikator yang baik. Mereka akan berbicara, mendengarkan sehingga mereka akan mendapatkan teman-teman,pendidikan,pekerjaan dan lain-lain. Cara anda berbicara dan mendengarkan anak-anak anda sangat mempengaruhi bagaimana mereka berkomunikasi dengan orang lain. Karena anak ini mengetahui hampir setiap naluri, bahwa komunikasi bukan hanya sekedar kata-kata yang keluar dari mulut anda.

B. Tujuan
Tujuan komunikasi adalah untuk mengungkapkan keinginan, mengekspresikan perasaan, dan bertukar informasi
Anak akan banyak menyerap nilai-nilai dari kata-kata yang diucapkan dan sikap yang ditampilkan orang tuanya. Hal ini berarti, komunikasi punya andil yang sangat penting dalam pertumbuhan dan perkembangan anak. Dengan demikian, orang tua perlu memiliki ketrampilan komunikasi yang efektif dengan anak. Ada baiknya, di tengah kesibukan sebagai orang tua, kita mulai mengintrospeksi diri kembali, bagaimana kualitas komunikasi dengan anak-anak. Apakah sudah efektif ? Jika belum, selalu ada kesempatan untuk memperbaikinya
C. Beberapa prinsip dasar dalam membangun komunikasi yang efektif.
Buatlah anak mengetahui bahwa anda sebagai orang tua selalu bersedia terlibat dan menolong saat anak memerlukan. Anak akan mengetahui keseriusan anda dengan melihat sikap dan perkataan orang tua :
 Luangkan waktu untuk anak sekalipun mereka sudah memasuki usia remaja. Meskipun remaja lebih tertarik dengan teman-temannya, bukan berarti tidak tertarik dengan keluarganya.
 Ketika anak ingin berbicara dengan anda, berikan perhatian penuh. Sebaiknya, tinggalkan sejenak aktivitas yang anda lakukan (misalnya, membaca koran, nonton TV dll)
 Ketika anak ingin mengatakan sesuatu yang penting, lebih baik berbicara di ruang yang terpisah dari orang lain. Komunikasi akan berjalan lebih efektif jika tidak terdapat orang lain di sekitarnya.
 Jadilah pendengar yang aktif meskipun anda lelah. Hal ini memang sulit dan perlu usaha.
 Berikan kesempatan untuk anak berbicara sampai selesai. Hargailah dia seperti sahabat anda yang sedang berbicara, maka anak akan menghargai anda sebagai orang tua.
 Hindari tindakan yang mempermalukan anak di depan orang banyak (umum).
 Jika anda tidak setuju dengan pendapat anak, sampaikanlah ketidaksetujuan itu dengan tetap menghargainya.
 Hargailah perasaan anak. Tanyakan apa perasaannya bila tampak ada perubahan emosi dan berikan kesempatan pada anak untuk mengungkapkannya.
 Tundalah berkomunikasi dengan anak jika anda sedang marah dengannya karena suatu perilaku atau peristiwa, sampai anda tenang kembali. Apabila berkomunikasi dalam keadaan marah akan kesulitan melihat masalah dengan obyektif.
 Jika anak melakukan kesalahan, koreksilah perilakunya bukan dengan merendahkan anak. Misalnya, “Mami/papi kecewa karena kamu tidak mengerjakan PR”, bukan “Kamu malas sekali, tidak mengerjakan PR.”
 Ajarkan anak bertanggung jawab dengan perbuatannya, terutama jika ia berbuat salah. Seberapa besar tanggung jawab anak perlu disesuaikan dengan usianya. Ada baiknya orang tua berperan sebagai pembimbing anak dalam menyelesaikan masalahnya.
 Jika anak melakukan sesuatu yang kurang tepat, tanyakan “apa yang terjadi?” bukan “mengapa terjadi?”, sehingga anda memahami latar belakang serta membantu anak mencari solusinya.
 Nasehat yang diberikan pada saat yang tepat, akan lebih diperhatikan anak.
 Hindari menggunakan kata-kata yang merendahkan anak, misalnya: “malas”, “bodoh” dan sebagainya.
 Tunjukkan bahwa anda menerima diri anak dengan apa adanya. Tanpa dipengaruhi suatu kondisi atau syarat. Misalnya, “Kamu anak papi/mami, kalau nilai ulangannya 9 atau 10”.
 Berikan hadiah jika anak berani berbicara terbuka atau mengakui kesalahan, pujilah usahanya. Reward bisa berupa kata pujian, tepukan di bahu dan lain-lain. Hal ini, bisa menjaga agar komunikasi tetap terbuka.
 Berikan pujian pada usaha/proses yang baik, bukan hanya pada keberhasilan saja. Misalnya, “Papi/mami senang, kamu mau membantu membersihkan rumah.”
 Jika anda mempunyai pengalaman yang sama, ada baiknya anda berbagi pengalaman dengan anak. Misalnya, anak tidak suka pelajaran matematika, cerita pengalaman anda pada waktu sekolah, bagaimana anda jadi suka pelajaran matematika.
 Jika anda menemui kesulitan berkomunikasi secara langsung dengan anak (terutama yang berusia remaja). Cobalah berkomunikasi dengan surat atau media lainnya
Jika tetap menemui kesulitan dalam berkomunikasi dengan anak atau masalah perilaku anak yang bertambah kompleks, sebaiknya anda menemui ahli yang kompeten di bidangnya misalnya psikolog atau konselor anak-anak





D. Penyebab terjadinya masalah komunikasi
Penyebab terjadinya masalah ini bermacam-macam, antara lain:
 Anak yang tidak puas dengan keputusan orang tua dan tidak diberi kesempatan berbicara akan menjadi anak yang suka melawan;
 Anak yang suka berbohong, karena anak tidak menerima penguatan positif ketika ia mengakui kesalahannya;
 Anak yang lebih banyak menerima tanggapan negatif daripada positif, akan mudah kurang percaya diri.
 Orang tua memiliki sejumlah alasan yang kuat, umumnya ialah kesibukan dalam pekerjaan.
Jadi, salah satu akar penyebab masalah perilaku adalah komunikasi yang kurang tepat antara anak dan orang dewasa yang berperan penting, dalam hal ini orang tua.
Sering terjadi komunikasi dengan anak hanya berjalan “ala kadarnya” atau “asal ada waktu” tanpa memperhatikan kualitas komunikasinya. Bahkan mungkin juga komunikasi dengan anak hanya dilakukan oleh salah satu orang tua saja (ayah atau ibu), padahal anak membutuhkan komunikasi dari kedua orang tuanya. Pada saat orang tua berkomunikasi dengan anak, proses pembelajaran dan pembentukan harga diri (self-esteem) sedang terjadi dalam diri anak.
E. Komunikasi pada anak autis
Keluhan utama dari orang tua tidak bisa berkomunikasi dengan anak karena memiliki anak autis.Orangtua beranggapan bila anak bisa bicara maka 99 persen masalah anak akan terselesaikan.
ciri-ciri austistik adalah :
 Keterlambatan perkembangan bicara atau
 Bahkan belum bicara sama sekali.
 Mampu bicara, namun sebenarnya mereka belum memiliki pemahaman yang baik tentang apa yang mereka ucapkan dan diucapkan orang lain
Banyak anak autis. yang bisa lancar mendeskripsikan sesuatu, menghafal lagu, meniru jingle iklan, membaca dengan baik, tetapi tetap gagal bila diajak tanya jawab mengenai kejadian sehari-hari,
Dengan kata lain, anak autis yang bisa bicara belum tentu memiliki pemahaman bahasa yang baik serta dapat berkomunikasi dengan benar. Oleh karena itu, orangtua dan pendidik seharusnya tidak hanya melatihkan kemampuan bicara saja, tetapi juga menekankan pada pemahaman dan kemampuan komunikasi,
Cara Orangtua dan pendidik berkomunikasi dengan anak autis :
 Menggunakan ekspresi wajah,
 Gerak isyarat,
 Mengubah nada suara,
 Menunjuk gambar,
 Menunjuk tulisan,
 Menggunakan papan komunikasi
 Menggunakan simbol-simbol.














Daftar pustaka




http://www.bayisehat.com/child-development/keterampilan-komunikasi-pada-anak.html

http://www.ipeka.org/counseling.asp?id=1001566

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar