Rabu, 08 Juli 2009

P P O K

P P O K
PPOK itu singkatan dari Penyakit Paru Obstruktif Kronis. Penyakit ini intinya adalah adanya hambatan pada saluran napas yang bersifat permanen atau progresif.
PPOK adalah penyakit obstruksi jalan napas karena bronchitis kronik atau emfisema ( Mansjoer, 1999:480 )
PPOK adalah kondisi dimana aliran udara pada paru tersumbat terus menerus (Engram, 1999:31)
PPOK adalah penyakit paru yang peogresif, artinya penyait ini berlangsung seumur hidup an makin memburuk secara lambat dari tahun ke tahun (FKUI, 1992:155)
Dua bentuk utama ialah Bronkhitis kronis dan Emfisema, Pada kenyataannya kedua bentuk itu sering bersamaan dan disebut sebagai Bronkhitis – Emfisema
1. BRONKITIS
A. DEFINISI
Secara harfiah bronkitis adalah suatu penyakit yang ditandai oleh inflamasi bronkus. (Ngastiyah,1997)
Bronitis kronik secara fisiologis ditandai oleh hipertropi dan hipersekresi kelenjar mukosa bronchial, dan perubahan structural bronchi serta bronkhiales
(Niluh Gede Yasmin dan Christantie Effendi, 2004)
Bronkitis berarti infeksi bronkus. Bronkitis dapat dikatakan penyakit tersendiri, tetapi biasanya merupakan lanjutan dari infeksi saluran pernapasan atas atau bersamaan dengan penyakit saluran pernapasan atas lain seperti Sinobronkitis, Laringotrakeobronkitis, Bronkitis pada asma dan sebagainya (Gunadi Santoso, 1994)
Bronkitis ialah sejenis peradangan pada saluran pernafasan didalam paru-paru. Terdapat 2 bentuk bronkitis.
 Bronkitis Akut (tejadi dalam waktu 3 hari hingga 3 minggu)
Bronkitis akut pada bayi dan anak biasanya juga bersama dengan trakeitis, merupakan penyakit saluran pernapasan akut (ISPA) yang sering dijumpai.
 Bronkitis Kronik
Bronkitis Kronik dan atau berulang adalah keadaan klinis yang disebabkan oleh
berbagai sebab dengan gejala batuk yang berlangsung sekurang-kurangnya
selama 2 minggu berturut-turut dan atau berulang paling sedikit 3 kali dalam 3
bulan dengan atau tanpa disertai gejala respiratorik dan non respiratorik lainnya
(KONIKA, 1981).
2. ETIOLOGI
Penyebab utama penyakit Bronkitis Akut adalah adalah virus. Sebagai contoh Rhinovirus Sincytial Virus (RSV), Infulenza Virus, Para-influenza Virus, Adenovirus dan Coxsakie Virus. Bronkitis Akut selalu terjadi pada anak yang menderita Morbilli, Pertusis dan infeksi Mycoplasma Pneumonia. Belum ada bukti yang meyakinkan bahwa bakteri lain merupakan penyebab primer Bronkitis Akut pada anak. Di lingkungan sosio-ekonomi yang baik jarang terdapat infeksi sekunder oleh bakteri. Alergi, cuaca, polusi udara dan infeksi saluran napas atas dapat memudahkan terjadinya bronkitis akut.
Sedangkan pada Bronkitis Kronik dan Batuk Berulang adalah sebagai berikut :
a.Spesifik
1)Asma
2)Infeksi kronik saluran napas bagian atas (misalnya sinobronkitis).
3)Infeksi, misalnya bertambahnya kontak dengan virus, tuberkulosis, fungi/jamur.
4) Penyakit paru yang telah ada misalnya bronkietaksis.
5) Sindrom aspirasi.
6) Penekanan pada saluran napas
7) Benda asing
8) Kelainan jantung bawaan
9) Kelainan sillia primer
10) Defisiensi imunologis
11) Kekurangan anfa-1-antitripsin
12) Fibrosis kistik
13) Psikis
b. Non-spesifik
1. Asap rokok
2. Polusi udara
3. PATOFISIOLOGI
Dua perubahan patologis yang membuat BK menjadi khas adalah hipertrofi kelenjar pensekresi mucus dan adanya perubahan inflamasi kronis pada jalan napas kecil
a. Terdapat hipertofi glandular
Hipertofi dan hiperplasia kelenjar mukosa akibat iritasi kronis menyebabkan pembentukan lendir. Lendir yang berlebihan dan kerusakan gerakan siliaris yang berkaitan dengan BK meningkatkan kerentanan terhadap infeksi. Bakteri berkembang biak dalam sekresi pada lumen bronkhi. Penyebab infeksi yang paling umum adalah Streptococcus pneumoniae dan haaemophilus influenzae. Dengan berkembang biaknya bakteri, mereka mengeluarkan netrofilik kemotaksis, dan sel-sel pus bermigrasi diantara sel-sel epitel bronchial untuk menghasilkan eksudat mukopurulen dalam lumen, atau berkembang menjadi ulserasi dan destruksi diding bronchial. Adanya jaringan granulasi dan fibrosis peribronkial mengakibatkan stenosis obstruksi jalan napas.
b. Individu BK mengalami peningkatan resistensi jalan napas sebagai akibat perubahan jaringan dinding bronchial, edema mukosa dan pembentukan lendir yang berlebihan. Mucus yang berlebihan dalam jalan napas tidak saja menyumbat aliran udara, tetapi sering menyebabkan spasme bronkus.
c. Terjadi perubahan pertukaran oksigen dan karbondioksida. Obstruksi jalan napas yang diakibatkan oleh semua perubahan patologis yang meningkatkan resisten jalan napas dapat merusak kemampuan paru-paru untuk melakukan pertukaran oksigen/karbondioksida. Jalan napas yang tersumbat menyebabkan ketidaksesuaian V/Q pada membran alveokapiler dengan penurunan jumlah udara teroksigenasi yang mencapai alveoli. Selain itu, jalan napas yang tersumbat dapat mengarah pada atelektasis, yang lebih jauh mengurangi daerah permukaan yang tersedia untuk pernapasan. Hal ini menyebabkan hiperkapnea, hipoksemia dan asidosis respiratori.
d. Dapat terjadi dekompensasi ventrikel kanan (kor-pulmonal). Hiperkapnea dan hipoksemia yang berkaitan dengan BK menyebabkan vasokontriksi vaskuler pulmonary, peningkatan resitensi vaskuler pulmonary mengakibatkan hipertensi pembuluh pulmonary yang meningkatkan tekanan vaskuler ventrikel kanan.

4. PATHWAY
Kebisaan merokok, polusi udara
Paparan udara berpolutan
Riwayat infeksi sal pernapasan

Mengiritasi sal pernapasan

Menginfeksi sal napas Resti penyebaran infeksi

Peradangan bronkus

Peradangan bronkiolus aktivasi sel globet Merangsang reflek mual muntah

Peradangan alveolus produksi sputum Mual muntah

Kerusakan alveolus kelemahan reflek batuk anoreksia
& epligotis

Penumpukan secret
di sal napas

sesak napas




Kurang informasi

5. MANIFESTASI KLINIK
- Batuk yang lama
- Batuk siang dan malam terutama pada pagi hari yang menyebabkan klien kurang
istirahat
- Sesak nafas timbul setelah batuk-batuk produktif bertahun-tahun
- Gemuk karena adanya edema
- Daya tahan tubuh klien yang menurun
- Anoreksia
- Sianotik (biru)
- Hipoksemia/hiperkapnia
- Dada normal
- Pekak jantung dan hepar jelas.
- Suara nafas kasar.
- Rhonchi basah/kering pada ekspirasi inspirasi yang berubah dengan batuk
- Gagal jantung kanan sering terdapat dan penyebab kematian.
Gejala yang perlu diperhatikan
Bronkitis Akut Bronkitis kronik
 Batuk mengandung sedikit dahak atau tidak
 Demam ringan (kurang 38.30C)
 Sakit tenggorokan
 Sakit otot
 Kelesuan  Penyebab utamanya ialah merokok
 Batuk yang terus-menerus dan mengeluarkan dahak yang semakin lama semakin banyak sepanjang hari dan malam. Biasanya batuk semakin terus di waktu pagi .
 Sukar bernafas dan dada teras sesak
 Kadang berbunyi ronkhi ( nafas berbunyi seperti siulan)

6. PEMERIKSAAN PENUNJANG
a. Foto Thorax : Tidak tampak adanya kelainan atau hanya hyperemia
b. Laboratorium : Leukosit > 17.500.
c. Tes fungsi paru: untuk menentukan penyebab dispnea
d. TLC: untu mengetahui peningkatan luasnya bronchitis.
e. Bronkogram: menunjukkan dilatasi silindris bronkus pada inspirasi
f. BTA: Menetukan adanya infeksi, beradasarkan warna, bau, banyaknya sputum






7. PENGKAJIAN FOKUS
a. Aktivitas/Istirahat:
Gejala : keletihan, kelelahan malaise; tidak mampu melakukan aktivitas sehari-
hari; gangguan pola tidur.
Tanda : keletihan, gelisah, insomnia.
b. Sirkulasi
Gejala : pembengkakan pada ekstremitas bawah
Tanda : peningkatan TD, peningkatatan frekuensi jantung/takikardi berat,
disritmia, anemia, adanya sianosis pada membran mukosa dan kuku.
c. Integritas ego
Gejala : penigkatan faktor resiko, perubahan pola hidup
Tanda : ansietas, ketakutan
d. Makanan/cairan
Gejala : mual muntah, anoreksia, peningkatan BB karena adanya edema
Tanda : turgor kulit, edema dependen, berkeringat
e. Hygene
Gejala : penurunan kemampuan tubuh melakukan aktivitas sehari-hari
Tanda : kebersihan buruk, bau badan
f. Pernapasan
Gejala : napas pendek, lapar udara, batuk menetap dengan produksi sputum setiap
hari selama 3 bulan berturut-turut, faktor keturunan
Tanda : pernapasan cepat, bunyi napas krekels, bunyi pekak di daerah paru,
sianosis pada membran mukosa dan kuku
g. Keamanan
Gejala : kemerahan, berkeringat, infeksi berulang
h. Seksualitas
Gejala : penurunan libido
i. Interaksi sosial
Gejala : kegagalan dukungan dari keluarga/orang terdekat
Tanda : keterbatasan mobilitas fisik
j. Penyuluhan/pembelajaran
Gejala : penggunaan obat pernapasan secara berlebihan, perokok berat
8. DIAGNOSA KEPERAWATAN
a. Bersihan jalan napas tidak efektif b.d akumulasi sekret
b. Kerusakan pertukaran gas b.d obstruksi jalan napas
c. Gangguan pola tidur b.d batuk dan sesak napas
d. Ketidakseimangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d anoreksia, produksi sputum yang meningkat
e. Resiko tinggi infeksi b.d pintu masuk mikroorganisme
f. Kurang pengetahuan b.d kurang informasi
9. INTERVENSI & RASIONAL
a. Bersihan jalan napas tidak efektif b.d akumulasi sputum
Tujuan : Jalan napas efektif dan bersih
Intervensi :
a. Auskultasi bunyi napas
Rasional: untuk mengetahui obstruksi jalan napas
b. Kaji frekuensi jalan napas dan RR
Rasional: untuk mengetahui adanya takipnea
c. Posisikan pasien senyaman mungkin, semifowler
Rasional: mempermudah fungsi pernapasan dengan gravitasi
d. Berikan minum hangat
Rasional: untuk mengencerkan dahak
e. Bantu melakukan batuk efektif dan napas dalam
Rasional: untuk mengeluarkan dahak
f. Bantu latihan pernapasan perut/bibir
Rasional: cara untuk membantu pasien untu mengatasi dan mengontrol dispnea.
g. Observasi karakteristik batuk
Rasional: untuk menentukan batuk karena sakit akut atau kelemahan.
h. Kolaborasi: Berikan bronkodilator dan antitusif (mukolitik)
Rasional: Merilekskan otot halus dan menurunkan kongesti local
Menurunkan kekentalan secret

b. Kerusakan pertukaran gas b.d obstruksi jalan napas
Tujuan: menunjukkan perbaikan ventilasi dan oksigenasi dalm rentang normal dan bebas gejala distress pernapasan
Intervensi:
a. Kaji frekuensi, kedalaman pernapasan, RR
Rasional: untuk mengetahui derajat distress pernapasan dan kronisnya penyakit
b. Kaji adanya sianosis
Rasional: untuk mengetahui adanya indikasi hipoksia
c. Auskultasi bunyi napas
Rasional: bunyi napas mungkin redup karena adanya penurunan aliran udara atau
area konsolidasi
d. Dorong pengeluaran sputum
Rasional: kental, tebal dan banyaknya sekresi adalah sumber utama gangguan
pertukaran gas
e. Kolaborasi: berikan oksigenasi tambahan
Rasional: mencegah memburuknya hipoksia
c. Gangguan pola tidur b.d batuk dan sesak napas
Tujuan: Pasien dapat beristirahat dengan nyaman
Intervensi:
a. Pemberian oksigenasi
Rasional: sesak napas berkurang dan pasien dapat beristirahat
b. Ciptakan suasana yang nyaman
Rasional: dengan suasana yang nyaman diharapkan pasien dapat istirahat.
c. Minum air hangat sebelum tidur
Rasional: dengan air hangat sputum dapat dikeluarkan
d. Ketidakseimangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d produksi sputum dan
anoreksia
Tujuan: BB normal/stabil, nafsu makan meningkat, intake adekuat
Intervensi:
a. Kaji kebiasaan diet dan makanan yang disukai.
Rasional: Meningkatkan nafsu makan pasien
b. Auskultasi bunyi usus
Rasional: penurunan/hipoaktif bising usus menunjukkan motilitas gaster dan
konstipasi
c. Berikan makan porsi kecil tapi sering
Rasional: memberikan kesempatan untuk meningkatkan masukan kalori total
e. Resiko tinggi infeksi b.d tidak adekuatnya kerja silia, menetapnya secret.
Tujuan: mengidentifikasi menurunkan resiko infeksi
Intervensi:
a. Awasi suhu
Rasional: demam merupakan gejala adanya infeksi
b. Observasi warna dan karakter sputum
Rasional: secret berbau, kuning, atau kehijauan menunjukkan adanya infeksi
c. Batasi jumlah pengunjung
Rasional: menurunkan potensial terpajan pada penyakit infeksius
d. Diskusikan kebutuhan masuan nutrisi adekuat
Rasional: malnutrisi dapat mempengaruhi kesehatan umum dan menurunkan
tahanan terhadap infeksi
f. Kurang pengetahuan b.d kurang informasi
Tujuan: menyatakan pemahaman kondisi/proses penyakit dan tindakan
Intervensi:

a. Penkes tentang proses penyakit pasien
Rasional: menurunkan ansietas dan merncanakan program pengobatan
b. Diskusikan obat pernapasan, termasuk efek samping dan kontra indikasinya
Rasional: penting bagi pasien memahami perbedaan antara efek samping yang
mengganggu dan efek samping merugikan sehingga obat tersebut bisa
dilanjutkan atau tidak
c. Tekankan pentingnya perawatan oral
Rasional: menurunan pertumbuhan bakteri pada mulut dimana dapat
menimbulkan infeksi saluran napas atas
d. Diskusikan menghindari orang yang sedang terinfesksi saluran pernapasan
Rasional: menurunan pemajanan dan insiden mendapatkan infeksi saluran napas
atas
2. EMFISEMA
1. DEFINISI
Emfisema adalah suatu kelainan anatomik paru yang ditandai oleh pelebaran secara abnormal saluran napas bagian distal bronkus terminalis, disertai dengan kerusakan dinding alveolus yang ireversibel
Berdasarkan tempat terjadinya proses kerusakan, emfisema dapat dibagi menjadi tiga 1.Sentri-asinar (sentrilobular/CLE)
Pelebaran dan kerusakan terjadi pada bagian bronkiolus respiratorius, duktus alveolaris,
dan daerah sekitar asinus.
2.Pan-asinar (panlobular)
Kerusakan terjadi merata di seluruh asinus. Merupakan bentuk yang jarang, gambaran
khasnya adalah tersebar merata di seluruh paru-paru, meskipun bagian-bagian basal
cenderung terserang lebih parah. Tipe ini sering timbul pada orang dengan defisiensi
alfa-1 anti tripsin.
3. Iregular
Kerusakan pada parenkim paru tanpa menimbulkan kerusakan pada asinus.
Emfisema dapat bersifat kompensatorik atau obstruktif :
1.Emfisema kompensatorik
Terjadi di bagian paru yang masih berfungsi, karena ada bagian paru lain yang tidak
atau kurang berfungsi, misalnya karena pneumonia, atelektasis, pneumothoraks.
2.Emfisema obstruktif
Terjadi karena tertutupnya lumen bronkus atau bronkiolus yang tidak menyeluruh,
hingga terjadi mekanisme ventilasi.
2. ETIOLOGI
Beberapa hal yang dapat menyebabkan terjadinya emfisema paru yaitu rokok, polusi, infeksi, faktor genetik, obstruksi jalan napas.
1. Rokok
2. Polusi
3. Infeksi
4. Faktor genetik
5. Obstruksi jalan napas
3.PATOFISIOLOGI
Emfisema paru merupakan suatu pengembangan paru disertai perobekan alveolus-alveolus yang tidak dapat pulih, dapat bersifat menyeluruh atau terlokalisasi, mengenai sebagian atau seluruh paru
Pengisian udara berlebihan dengan obstruksi terjadi akibat dari obstruksi sebagian yang mengenai suatu bronkus atau bronkiolus dimana pengeluaran udara dari dalam alveolus menjadi lebih sukar dari pada pemasukannya. Dalam keadaan demikian terjadi penimbunan udara yang bertambah di sebelah distal dari alveolus. Pada Emfisema obstruksi kongenital bagian paru yang paling sering terkena adalah belahan paru kiri atas.
Hal ini diperkirakan oleh mekanisme katup penghentian.
Pada paru-paru sebelah kiri terdapat tulang rawan yang terdapat di dalam bronkus-bronkus yang cacat sehingga mempunyai kemampuan penyesuaian diri yang berlebihan. Selain itu dapat juga disebabkan stenosis bronkial serta penekanan dari luar akibat pembuluh darah yang menyimpang.
Mekanisme katup penghentian : Pengisian udara berlebihan dengan obstruksi terjadi akibat dari obstruksi sebagian yang mengenai suatu bronkus atau bronkiolus dimana pengeluaran udara dari dalam alveolus menjadi lebih sukar dari pemasukannya. Penimbunan udara di alveolus menjadi bertambah di sebelah distal dari paru.
Pada emfisema paru penyempitan saluran nafas terutama disebabkan elastisitas paru yang berkurang. Pada paru-paru normal terjadi keseimbangan antara tekanan yang menarik jaringan paru ke laur yaitu disebabkan tekanan intrapleural dan otot-otot dinding dada dengan tekanan yang menarik jaringan paru ke dalam yaitu elastisitas paru.
Bila terpapar iritasi yang mengandung radikal hidroksida (OH-). Sebagian besar partikel bebas ini akan sampai di alveolus waktu menghisap rokok. Partikel ini merupakan oksidan yang dapat merusak paru. Parenkim paru yang rusak oleh oksidan terjadi karena rusaknya dinding alveolus dan timbulnya modifikasi fungsi dari anti elastase pada saluran napas. Sehingga timbul kerusakan jaringan interstitial alveolus.


Partikel asap rokok dan polusi udara mengendap pada lapisan mukus yang melapisi mukosa bronkus. Sehingga menghambat aktivitas silia. Pergerakan cairan yang melapisi mukosa berkurang. Sehingga iritasi pada sel epitel mukosa meningkat. Hal ini akan lebih merangsang kelenjar mukosa. Keadaan ini ditambah dengan gangguan aktivitas silia. Bila oksidasi dan iritasi di saluran nafas terus berlangsung maka terjadi erosi epital serta pembentukanjaringan parut. Selain itu terjadi pula metaplasi squamosa dan pembentukan lapisan squamosa. Hal ini menimbulkan stenosis dan obstruksi saluran napas yang bersifat irreversibel sehingga terjadi pelebaran alveolus yang permanen disertai kerusakan dinding alveoli .
4. PATHWAY
Kebiasaan merokok, paparan udara
Riwayat infeksi saluran napas

Daya tahan tubuh menurun

Sal cerna sal pernapasan luka terbuka

Mengiritasi sal cerna Mengiritasi sal napas bakteri masuk

Fungsi lambung inflamasi bonkhiolus

Mual inflamasi obstruksi
Saluran napas
Anoreksia
hipoventilasi dinding bronkhiolar
alveolar melemah dan g3 alveolar

sesak napas kurang informasi



5. MANIFESTASI KLINIS
a. Sesak nafas lebih dahulu diikuti batuk-batuk dengan / tanpa sputum.
b. Kurus
c. Sianotik (biru)
d. Dada gembung (barel chest)
d. Pekak jantung dan hepar hilang oleh over-distensi.
e. Suara nafas lemah dengan ekspirasi yang memanjang
f. Umumnya tidak ada suara nafas tambahan.
g. Gagal jantung kanan jarang, kematian karena gagal pernafasan.
6. PEMERIKSAAN PENUNJANG
a. Faal Paru
b.Uji bronkodilator, setelah pemberian bronkodilator inhalasi sebanyak 8 hisapan 15-20
menit kemudian dilihat perubahan nilai VEP 1
b. Darah Rutin: Hb, Ht, Leukosit
c. Gambaran Radiologis: Diafragma letak rendah dan datar, ruang retrosternal melebar,
gambaran vaskuler berkurang, jantung tampak sempit memanjang, pembuluh darah
perifer mengecil
d .Pemeriksaan Analisis Gas Darah: Terdapat hipoksemia dan hipokalemia akibat
kerusakan kapiler alveoli
e. Pemeriksaan EKG: Untuk mengetahui komplikasi pada jantung yang ditandai
hipertensi pulmonal dan hipertrofi ventrikel kanan.
f. Pemeriksaan Enzimatik: Kadar alfa-1-antitripsin rendah.

7. PENGKAJIAN FOKUS
a. Aktivitas/Istirahat:
Gejala : keletihan, kelelahan malaise; Tidak mampu melakukan aktivitas sehari-
hari; gangguan pola tidur.
Tanda : keletihan, gelisah, insomnia.
b. Sirkulasi
Gejala : Pembengkakan pada ekstremitas bawah
Tanda : peningkatan TD, peningkatatan frekuensi jantung/takikardi berat,
disritmia, anemia, adanya sianosis pada membran mukosa dan kuku.
c. Integritas ego
Gejala : peningkatan faktor resiko, perubahan pola hidup
Tanda : ansietas, ketakutan
d. Makanan/cairan
Gejala : mual muntah, anoreksia berat, penurunan BB menetap
Tanda : turgor kulit, edema dependen, berkeringat, penurunan berat badan,
penurunan massa otot
e. Hygene
Gejala : penurunan kemampuan tubuh melakuan aktivitas sehari-hari
Tanda : kebersihan buruk, bau badan

f. Pernapasan
Gejala : - Napas pendek ( timbulnya tersembunyi dengan dispnea sebagai gejala
menonjol pada emfisema), lapar udara kronis
- Batuk hilang timbul biasanya tidak produktif pada tahap dini meskipun
dapat menjadi produktif.
- Faktor keturunan dan keluarga (defisiensi alfa-antitripsin)
Tanda : dada berbentuk barrel-chest; sela iga melebar; sternum menonjol; retraksi
intercostal saat inspirasi; penggunaan otot bantu pernapasan; palpasi :
vokal fremitus melemah; perkusi : hipersonor; hepar terdorong ke bawah;
batas jantung mengecil; letak diafragma rendah; pernapasan cepat;
ekspirasi mengi; bunyi pekak di daerah paru, sianosis pada membran
mukosa dan kuku; Inspeksi: Pursed-lips breathing (mulut setengah
terkatup); jari-jari tabuh
g. Keamanan
Gejala : kemerahan, berkeringat, infeksi berulang
h. Seksualitas
Gejala : penurunan libido
i. Interaksi sosial
Gejala : kegagalan dukaungan dari keluarga/orang terdekat
Tanda : keterbatasan mobilitas fisik
j. Penyuluhan/pembelajaran
Gejala : penggunaan obat pernapasan secara berlebihan, perokok berat
9. Diagnosa Keperawatan
a. Kerusakan pertukaran gas b.d kerusakan alveolus
b. Bersihan jalan napas tidak efektif b.d Hipersekresi, keletihan
c. Ketidakseimangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d anoreksia
d. Resiko tinggi infeksi b.d peningkatan sekresi/ penurunan mobilitas paru-paru
e. Kurang pengetahuan b.d kurang informasi
10. Intervensi & Rasional
a. Gangguan pertukaran gas b.d kerusakan alveoli
Tujuan: menunjukkan perbaikan ventilasi dan oksigenasi dalm rentang normal dan
bebas gejala distress pernapasan, dispnea menurun
Intervensi:
a. Kaji frekuensi, kedalamam pernapasan, RR
Rasional: untuk mengetahui derajat distress pernapasan dan kronisnya penyakit
b. Kaji adanya sianosis
Rasional: untuk mengetahui adanya indikasi hipoksia

c. Auskultasi bunyi napas
Rasional: bunyi napas mungkin redup dengan ekspirasi mengi
d. Palpasi fremitus
Rasional: penurunan getaran vibrasi diduga adanya pengumpulan cairan atau
udara terjebak
e. Kolaborasi: berikan oksigenasi tambahan
Rasional: mencegah memburuknya hipoksia
b. Bersihan jalan napas tidak efektif b.d Hipersekresi, keletihan
Tujuan : Jalan napas efektif
Intervensi :
a. Auskultasi bunyi napas
Rasional: bunyi napas mungkin redup dengan ekspirasi mengi
b. Kaji frekuensi jalan napas dan RR
Rasional: untuk mengetahui adanya takipnea
a. Posisikan pasien senyaman mungkin, semifowler
Rasional: mempermudah fungsi pernapasan dengan gravitasi
b. Latihan Relaksasi :
Rasional: Secara individual penderita sering tampak cemas, takut karena sesat napas dan kemungkinan mati lemas. Dalam keadaan tersebut, maka latihan relaksasi merupakan usaha yang paling penting dan sekaligus sebagai langkah pertolongan
c. Bantu latihan pernapasan perut/bibir
Rasional: cara untuk membantu pasien untuk mengatasi dan mengontrol dispnea.
untuk meningkatkan kapasitas latihan pada pasien yang sesak nafas berat
c. Ketidakseimangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d anoreksia
Tujuan: BB tidak turun/stabil
Intervensi:
a. Kaji kebiasaan diet dan makanan yang disukai.
Rasional: Meningkatkan nafsu makan pasien
b. Auskultasi bunyi usus
Rasional: penurunan/hipoaktif bising usus menunjukkan motilitas gaster dan
konstipasi
c. Berikan makan porsi kecil tapi sering
Rasional: memberikan kesempatan untuk meningkatkan masukan kalori total
d. Resiko tinggi infeksi b.d peningkatan sekresi/ penurunan mobilitas paru-paru
Tujuan: mengidentifikasi menurunkan resiko infeksi
Intervensi:

a. Awasi suhu
Rasional: demam merupakan gejala adanya infeksi
b. Batasi jumlah pengunjung
Rasional: menurunkan potensial terpajan pada penyakit infeksius
c. Diskusikan kebutuhan maskuan nutrisi adekuat
Rasional: malnutrisi dapat mempengaruhi kesehatan umum dan menurunkan
tahanan terhadap infeksi
e. Kurang pengetahuan b.d kurang informasi
Tujuan: menyatakan pemahaman kondisi/proses penyakit dan tindakan
Intervensi:
a. Penkes tentang proses penyakit pasien
Rasional: menurunkan ansietas dan merencanakan program pengobatan
b. Diskusikan obat pernapasan, termasuk efek samping dan kontra indikasinya
Rasional: penting bagi pasien memahami perbedaan antara efek samping yang
mengganggu dan efek samping merugikan sehingga obat tersebut bisa
dilanjutkan atau tidak
c. Tekankan pentingnya perawatan oral
Rasional: menurunan pertumbuhan bakteri pada mulut dimana dapat
menimbulkan infeksi saluran napas atas
d. Diskusikan menghindari orang yang sedang terinfesksi saluran pernapasan
Rasional: menurunan pemajanan dan insiden mendapatkan infeksi saluran napas
atas













DAFTAR PUSTAKA

1. Mangunnegoro H, PPOK Pedoman Diagnosis dan Penatalaksanaan di Indonesia,
Perhimpunan Dokter Paru Indonesia, Jakarta, 2001 Hal 1-24.

2. Soemantri S, Bronkhilis Kronik dan Emfisema Paru dalam : Ilmu Penyakit Dalam.
Jilid 2, Balai Penerbit FKUI, Jakarta 1990; Hal 754-61.

3. Niluh Gede Yasmin asih an Cristantie Effendi, keperawatan Medikal Bedah

4. Marylin Doenges, Rencana asuhan keperawatan, Edisi 3, EGC.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar