Rabu, 08 Juli 2009

Katarak

KONSEP DASAR


1. DEFINISI
Katarak adalah suatu keadaan patologik lensa dimana lensa menjadi keruh akibat hidrasai cairan lensa atau denaturasi protein lensa.
(Ilyas, S .1998 :84)
Katarak adalah setiap keadaan kekeruhan pada lensa yang dapat terjadi akibat hidrasi ( penambahan cairan ) lensa, denaturasi protein lensa atau akibat keduanya.
( Mansjoer, A . 1999 :62 )
Katarak adalah penurunan progresif kejernihan lensa.
( Corwin . 2000: 219 )
Katarak adalah suatu opasaifikasi dari lensa yang normalanya transparan seperti kristal, jernih.
(Baughman, D. C. 2000:319 )
Katarak adalah kekeruhan (bayanagan seperti awan) pada lensa tanpa nyeri yanag berangsur – angsur penglihatan kabur dan akhirnya tidak dapat menerima cahaya.
(Doengoes, 1999 : 414)

2. ETIOLOGI
Katarak dapat timbul pada usia berapa saja setelah trauma lensa, infeksi mata, pejanan radiasi, atau obat tertentu. Janin yanag terpajan virus rubela dapat mengalami katarak. Pada pengidap diabetes militus sering mengalami katarak.
(Corwin, 2000: 219)
Katarak disebabkan oleh beberapa faktor :
☺ Fisik
☺ Kimia
☺ Faktor predisposisi
☺ Genetik dan gangguan perkembangan
☺ Infeksi virus dimasa pertumbuhan janin
☺ Usia
(Ilyas, 1998 : 85 )
Kelainan sistemik atau metabolik misalya : DM , galaktosemi, distrofi, miotonik, ttraumatik, kortikosteroid sistemik dsb.Konsumsi alkohol dan merokok akan menaikkan resiko katarak.
(Mansjoer, 1998 : 62 )

3. KLASIFIKASI KATARAK
☺ Katarak kongenital
Yaitu katarak yanag mulai terjadi sebelum atau segera setelah lahir dan bayi berusia kurang dari satu tahun. Katarak ini ditemukan pada bayi yang dilahirkan oleh ibu yang menderita rubela, galaktosemia, hemosisteinuri, DM, dan histoplasmosis. Pada pupil mata bayi yang menderita katarak kongenital akan terlihat bercak putih. Katarak kongenital merupakan penyebab kebutan pada bayi yang cukup berarti terutam apabila penanganan yang kurang tepat.
☺ Katarak juvenil
Merupakan katarak yang terlihat setelah usia satu tahun. Katarak juvenil biasanya merupakan kelanjutan dari katarak kongenital. Katarak ini juga merupakan penyulit penyakit sistemik / metabolik seperti : DM, hipokalsemik, defisiensi besi dan penyakit lainnya misalkan : uveitis anterior, glukoma, dan ablasi retina.
☺ Katarak senilis
Merupakan suatu kekeruhan lensa yang terdapat pada usia lanjut yaitu diatas 50 tahun.Penyebabnya sampai sekarang belum diketahui. Katarak senilis dibagi beberapa stadium:
• Katarak insipien : kekeruhan mulai dari ekuator berbentuk jeriji menuju kortek anterior dan posterior
Katark insumesen : kekeruhan lensa yang disertai pembengkakan lensa akibat lensa yang degeneratif menyerap air.
• Katarak imatur : sebagian lensa keruh atau katarak yang belum mengenai seluruh lapisan lensa.
• Katarak matur : kekeruhan telah mengenai seluruh lapisan lensa.
• Katarak hipermatur : katarak yang mengalami proses degenerasi lanjut menjadi lebih keras, lembek dan cair.
• Katarak morgagni : katarak yang disertai kapsul yang tebal pada kortek yang berdegenerasi dan cair tidak dapat keluar.
☺ Katarak diabetes
Katarak yang terjadi sebagai akibat dari penyakit Diabetes Militus. Keadaan hiperglikemia terdapat penimbunan sorbitol dan fruktosa didalam lensa.
☺ Katarak Sekunder
Katarak sekunder terjadi akibat terbentuknya jaringan fibrosis ada sisa lensa yang tertinggal.
☺ Katarak Komplikata
Merupakan katarak akibat penyakit mata lain seperti radang dan proses degenerasi seperti : ablasi retina, retinitas, pigmentosa, glaukoma dll.

4. MANIFESTASI KLINIS
 Silau bila melihat
 Penglihatan kabur dan redup
 Penglihatan ganda
 Keabuan pada pupil
 Pasien melaporkan penurunan ketajaman
 Lensa mata kelihatan keruh
 Penglihatan berangsur-angsur turun tanpa disertai rasa sakit dan dapat berakhir dengan kebutaan

5. ANATOMI PATOLOGI
Lensa berbentuk lempeng cakram bikonveks dan terletak didalam bilik mata belakang. Lensa dibentuk oleh sel epitel lensa yang berbentuk membentuk serat lensa didalam kapsul lensa. Bagian sentral lensa merupakan serat lensa yang paling awal dibentuk. Dibagian luar nukleus terdapat serat lensa yang disebut korteks lensa. Nukleus lensa mempunyai konsistensi lebih keras dibandingkan konteks lensa. Disekitar serat lensa terdapat kapsul lensa. Secara fisiologik lensa mempunyai sifat:
- kenyal atau lentur karena mempunyai peranan terpenting dalam akomodasi untuk menjadi cembung
- jernih atau transparan
- berada pada tempatnya
Keadaan patologik lensa dapat berupa :
- tidak kenyal pada orang dewasa yang akan mengakibatkan presbiopi
- keruh atau yang disebut katarak
- tidak berada pada tempatnya atau sublukasi dan dislokasi
( Ilyas,1998 : 69 )

6. PATOFISIOLOGI
Lensa berisi 65 %, 35% proteindan mineral lain. Katarak merupakan kondisi penurunan ambilan oksigen, penuurunan air, dan peningkatan kandungan kalsium serta berubahnya protein yang dapat larut menjadi tidak dapat larut. Pada proses penuaan, lensa secara bertahap kehilangan air dan mengalami peningkatan dalam ukuran dan densitasnya. Peningkatan densitas diakibatkan oleh kompresi sentral serat lensa yang lebih tua. Saat serat lensa yang baru diprpoduksi dikorteks,serat lensa ditekan menuju sentral. Serat-serat lensa yang padat lama-lama menyebabkan hilangnya transparansi lensa yang tidak tersa nyeri. Selain itu berbagai penyebab katrak menyebabkan gangguan metabolisme pada lensa yang kemudian menyebabkan perubahan kandungan bahan-bahan didalam lensa yang pada akhirnya menyebabkan kekeruhan lensa. Pada gangguan ini sinar yang masuk melalui kornea terhalangi oleh kornea yang keruh. Kondisi ini mengaburkan bayangan semu yang sampai pada retina. Akibatnya otak menginterpretasikan sebagai bayangan yang berkabut. Pada katarak yang tidak diterapi lensa mata menjadi putih susu kemudian berubah kuning bahkan menjadi coklat atau hitam dan klien mengalami kesulitan dalam membedakan warna.

7. PENATALAKSANAAN
Pembedahan dilakukan bila ketajaman penglihatan sudah menurun sehingga mengganggu pekerjaan. Jenis pembedahan untuk katarak :
1. Extracapsular Cataract Extractie (ECCE )
Isi lensa dikeluarkan setelah pembungkus depan dibuat lubang sedang pembungkus belakang ditinggalkan. Dengan tekhnik ini terdapat ruabg bebas ditempat bekas lensa sehingga memungkinkan menempatkanlensa pengganti yang disebut sebagai lensa tanam bilik mata belakan ( posterior chamber intraocular lens ). Dengan yekhnik ini sayatan lebih kecil ( 10-11 mm ), sedikit jahitan dan waktu penyembuhan lebih pendek. ( Ilyas, 1999 : 24-26 )
2. Intra Capsular Cataract Extractie ( ICCE )
Adalah mengeluarkan lensa dalam keadaan lensa utuh. Dilakukan dengan membuka / menyayat selaput bening dan memasukan alat melalui pupil, kemudian menarik lensa keluar. Seluruh lensa dengan pembungkus atau kapsulnya dikeluarkan dengan lidi ( probe ) beku ( dingin ). Pada operasi ini dibuat sayatan selaput bening yang cukup luas, jahitan yang banyak ( 14-15 mm ) sehingga penyembuhan lukanya memakan waktu yang lama.

Setelah pembedahan pasien segera diberi obat untuk mengurangi rasa sakit karena operasi katarak adalah suatu tindakan yang menyayat . Antibiotik diperlukan atas dasar kemungkinan terjadinya infeksi karena kebersihan yang tidak sempurna. Pasien diberi obat tetes mata steroid untuk mengurangi reaksi radang akibat tindakan bedah dan diberikan obat tetes mata yang mengandung antibiotik untuk mencegah infeksi.
Tujuan Perawatan post operasi katarak adalah mencegah :
1. Peningkatan Tekanan Intra Okular ( TIO )
2. Tegangan pada jahitan
3. Perdarahan pada ruang anterior
4. Infeksi

Pasca operasi Komplikasi yang mungkin setelah dilakukan pembedahan misalnya, glaukoma, ablasi retina, perdarahan vitreus, infeksi dll. Penatalaksanaan setelah operasi terutama ditujukan untuk mencegah infeksi dan terbukanya luka operasi. Pasien diminta tidak banyak bergerak dan menghindari mengangkat beban berat selama satu bulan. Mata ditutup selama beberapa hari atau dilindungi dengan kaca mata atau pelindung pada siang hari selama beberapa minggu harus dilindungi dengan pelindung logam pada malam hari. Kaca mata permanen diberikan 6 sampai 8 minggu setelah operasi.

8. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
• Pengukuran tonometri : mengkaji intraokuler (TIO) normalnya 12-25 mmHg
• Pemeriksaan oftalmoskop: mengkaji stuktur intraokuler, mencatat atrofi lempeng optik, papil edema, perdarahan retina.Dilatasi dan pemeriksaan belahan lampu memastikan diagnosa katarak.
• Pemeriksaan darah lengkap, LED: menunjukan anemia sistemik / infeksi
• Testoleransi glukosa : menentukan adanya atau kontrol diabetes.

9. PENGKAJIAN
Anamnesis
• Umur katarak terjadi pada semua umur tetapi umumnya pada lanjut usia
• Riwayat trauma, trauma tumpul atau tidak tembus dp merusak kapsul lensa
• Riwayat pekerjaan pada pekerja yang berhubungan dengan bahan kimia atau terpapar sinar radioaktif/ sinar X
• Riwayat penyakit misalnya penyakit mata yang lain dan penyakit sistemik.
• Riwayat penggunaan obat- obatan
Pemeriksaan Fisik
• Klien mengeluhkan penurunaa pandangan bertahap dan tidak nyeri.
• Pandangan kabur, berkabut atau pandangan ganda
• Klien juga memberikan keluhan bahwa warna menjadi kabur atau tampak kekuningan
• Jika klien mengalami kekeruhan sentral klien mungkin melaporkan dapat melihat lebih baik pada cahaya suram dari pada terang karena pada saat dilatasi klien dapat melihat dari sekeliling kekeruhan
• Kaji visus, terdapat penurunan signifikan
• Inspeksi dengan penlight menunjukkan pupil putih susu dan pada katarak lanjut terdapat area putih keabu-abuan
Pada pengkajian ini akan didapatkan kecemasan dan ketakutan kehilangan pandanga






PATHWAY


10. DIAGNOSA KEPERAWATAN & FOKUS INTERVENSI

a) Nyeri b.d terputusnya kontinuitas jaringan post op katarak
KH: nyeri pasien berkurang, pasien merasa lebih rileks
Intervensi :
 Pantau skala nyeri
Ras: untuk menentukan intervensi selanjutnya
 Pantau TTV
Ras: Untuk mengenal indikasi kemajuan atau penyimpangan dari hasil yang diharapkan
 Bantu pasien menentukan posisi yang nyaman
Ras: membantu mengurangi rasa nyeri
 Kolaborasi dalam pemberian analgetik
Ras: membantu pasien menurunkan rasa nyeri
 Dorong pasien menggunakan manajemen stress
Ras: mendorong pasien untuk mengurangi nyeri sendiri
b) Gangguan persepsi sensori:penglihatan b.d gangguan penerimaan sensori
KH : -Meningkatkan ketajaman penglihatan dalam batas situasi individu
-Mengenal gangguan sensori dan berkompensasi terhadap perubahan
-Mengidentifikasi atau memperbaiki potensial bahaya dalam lingkungan
Intervensi :
 Tentukan ketajaman penglihatan, catat apakah satu atau kedua mata terlibat
Ras: kebutuhan intervensi dan tindakan bervariasi sebab kehilangan penglihatan dapat etrjadi lambat atau cepat
 Orientasikan pasien terhadap lingkungan, staf dan orang lain dissekitaranya
Ras: Memberikan peningkatan kenyamanan dan kekeluaragaan, menurunkan kecemasan dan disorientasi post op
 Pendekatan dari sisi yang tidak dioperasi, bicara dan menyentuh sering dorong orang terdekat tinggal dengan pasien
Ras: memberikan rangsangan sensori tepat terhadap isolasi dan menurunkan bingung
 Ingatkan pasien menggunaan kaca mata katarak
Ras: mengurangi kerusakan mata pasca operasi katarak
 Letakkan barang barang yang digunakan pada tempat yang konsisten
Ras: menguatkan atau mendorong penggunaan memori sebagai pengganti penglihatan
 Berikan pencahayaan yang paling sesuai bagi klien
Ras: meningkatkan penglihatan klien
c) Resiko tinggi cidera b.d penurunan visus pasca pembedahan
KH: Klien tidak mengalami cidera atau gangguan visual:
Klien mampu mengidentifikasi hal-hal yg meningkatkan resiko cidera
Klien melaporkan tidak mengalami cidera
Intervensi :
 Beritahukan klien bahwa menutup mata dengan bebat atau shield menyebabkan penyempitan lapang pandang
Ras: meningkatkan kepatuhan klien
 Kurangi resiko bahaya dari lingkungan klien
Ras: mencegah cidera
 Beritahu klien untuk mengubah posisi secara perlahan
Ras: mencegah pusing
 Dorong klien untuk menggunakan alat bantu adaptif untuk ambulasi sesuai kebutuhan
Ras: memberikan sumber stabilitas
 Tekankan pentingnya menggunakan pelindung mata saat melakukan aktivitas
Ras: mencegah cidera
d) Resiko tinggi infeksi b.d adanya jalan masuk mikroorganisme( bedah pengangkatan katarak)
KH: - Meningkatkan penyembuhan luka tepat waktu, bebas drainasi purulen,erythema dan demam
- Mengidentifikasi intervensi untuk mencegah menurunkan resiko infeksi
Intervensi :
 Tekankan pentingnyatidak menyentuh / menggarukmata yang baru dioperasi
Ras: mencegah kontaminasi dan kerusakan sisi operasi
 Diskusikan pentingnya cuci tangan sebelum menyentuh atau mengobati mata
Ras: menurunkan jumlah bakteri pada tangan dan mencegah kontaminasi area operasi
 Observasi atau diskusikan tanda terjadinya infeksi contoh kemerahan, kelopak bengkak, drainase purulen
Ras: infeksi mata terjadi 2 – 3 hari setelah prosedur dan memerlukan tindakan operasi
 Gunakan tehnik yang tepat untuk membersihkan mata
Ras: tehnik aseptic menurunkan resiko penyebaran bakteri dan kontaminasi silang
 Kolaborasi dengan pemberian antibiotic
Ras: menurunkan resiko infeksi
e) Kurang pengetahuan tentang kondisi prognosis, kondisi, dan pengobatan b.d kurang informasi
KH: klien mengetahui tentang kondisi dan pengobatan/aktifitas yang boleh dan tidak boleh dilakukan yang berhubungan dengan post op katarak.
Intervensi:
 Kaji informasi tentang kondisi individu, prognosis, tipe prosedur / lensa`
 Tekankan pentingnya evaluasi perawatan rutin
 Informasikan pasien untuk menghindari tetes mata yang dijual bebas
 Jelaskan aktifitas yang diperbolehkan seperti:
- menonton TV dan membaca tetapi tidak terlalu lama.
- Tidak boleh membungkuk pada wastavel atau bak mandi.
- Mengurangi aktifitas seperti biasa
- Mandi dengan waslap.
- Melakukan aktifitas dengan duduk
Ras: mengurangi resiko komplikasi lebih lanjut.
 Jelaskan aktifitas yang tidak boleh dilakukan ( pling tdk 1 minggu), seperti :
- tidur pada posisi yang sakit
- menggosok mata, menekan kelopak untuk menutup mata.
- Memakai sabun mendekati mata,
- Mengejan saat defekasi, mengangkat beban berat
- Batuk, bersin dan muntah serta menundukkan kepala.
ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN
PASCA OPERASI KATARAK












Disusun oleh:
Retno Fitri Asih
Rico Fajar Setiawan
Riski Setiasih






STIKES MUHAMMADIYAH GOMBONG
PRODI DIII KEPERAWATAN
2006


DAFTAR PUSTAKA


Baughman, D.C. 2000.Keperawatan Medikal Bedah. EGC: Jakarta.
Corwin. 2000. Buku Saku Patofisiologi. EGC: Jakarta.
Doenges. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan. EGC: Jakarta.
Ilyas, S. 1998. Ilmu Penyakit Mata. FKUI : Jakarta.
Indriana.N. I. 2005. Asuhan Keperawatan Klien Gangguan Mata. EGC: Jakarta.
Mansjoer.1999. Kapita Selekta Kedokteran. Media Aesculapius: Jakarta.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar