Rabu, 08 Juli 2009

BATU SALURAN EMPEDU

BATU SALURAN EMPEDU
(KOLEDOKOLITIASIS)


I. Pengertian :
a. Batu saluran empedu : adanya batu yang terdapat pada sal. empedu (Duktus Koledocus ).
b. Batu Empedu(kolelitiasis) : adanya batu yang terdapat pada kandung empedu.
c. Radang empedu (Kolesistitis) : adanya radang pada kandung empedu.
d. Radang saluran empedu (Kolangitis) : adanya radang pada saluran empedu.

II. Penyebab:
Batu di dalam kandung empedu. Sebagian besar batu tersusun dari pigmen-pigmen empedu dan kolesterol, selain itu juga tersusun oleh bilirubin, kalsium dan protein.
Macam-macam batu yang terbentuk antara lain:
1. Batu empedu kolesterol, terjadi karena :kenaikan sekresi kolesterol dan penurunan produksi empedu.
Faktor lain yang berperan dalam pembentukan batu:
• Infeksi kandung empedu
• Usia yang bertambah
• Obesitas
• Wanita
• Kurang makan sayur
• Obat-obat untuk menurunkan kadar serum kolesterol
2. Batu pigmen empedu , ada dua macam;
• Batu pigmen hitam : terbentuk di dalam kandung empedu dan disertai hemolisis kronik/sirosis hati tanpa infeksi
• Batu pigmen coklat : bentuk lebih besar , berlapis-lapis, ditemukan disepanjang saluran empedu, disertai bendungan dan infeksi
3. Batu saluran empedu
Sering dihubungkan dengan divertikula duodenum didaerah vateri. Ada dugaan bahwa kelainan anatomi atau pengisian divertikula oleh makanan akan menyebabkan obstruksi intermiten duktus koledokus dan bendungan ini memudahkan timbulnya infeksi dan pembentukan batu.

III. Pathofisiologi :
Batu empedu hampir selalu dibentuk dalam kandung empedu dan jarang pada saluran empedu lainnya.
Faktor predisposisi yang penting adalah :
• Perubahan metabolisme yang disebabkan oleh perubahan susunan empedu
• Statis empedu
• Infeksi kandung empedu
Perubahan susunan empedu mungkin merupakan faktor yang paling penting pada pembentukan batu empedu. Kolesterol yang berlebihan akan mengendap dalam kandung empedu .
Stasis empedu dalam kandung empedu dapat mengakibatkan supersaturasi progresif, perubahan susunan kimia dan pengendapan unsur tersebut. Gangguan kontraksi kandung empedu dapat menyebabkan stasis. Faktor hormonal khususnya selama kehamilan dapat dikaitkan dengan perlambatan pengosongan kandung empedu dan merupakan insiden yang tinggi pada kelompok ini.
Infeksi bakteri dalam saluran empedu dapat memegang peranan sebagian pada pembentukan batu dengan meningkatkan deskuamasi seluler dan pembentukan mukus. Mukus meningkatkan viskositas dan unsur seluler sebagai pusat presipitasi. Infeksi lebih sering sebagai akibat pembentukan batu empedu dibanding infeksi yang menyebabkan pembentukan batu.

IV. Perjalanan Batu

Batu empedu asimtomatik dapat ditemukan secara kebetulan pada pembentukan foto polos abdomen dengan maksud lain. Batu baru akan memberikan keluhan bila bermigrasi ke leher kandung empedu (duktus sistikus) atau ke duktus koledokus. Migrasi keduktus sistikus akan menyebabkan obstruksi yang dapat menimbulkan iritasi zat kimia dan infeksi. Tergantung beratnya efek yang timbul, akan memberikan gambaran klinis kolesistitis akut atau kronik.







DUKTUS HEPATUKUS KANAN



KANDUNG EMPEDU




HEPAR













DUKTUS HEPATIC KIRI




CYSTIC
DUCT


 BATU

DUKTUS
KOLEDUK








DEODENUM

Batu yang bermigrasi ke duktus koledokus dapat lewat ke doudenum atau tetap tinggal diduktus yang dapat menimbulkan ikterus obstruktif.



V. Gejala Klinis
Penderita batu saluran empedu sering mempunyai gejala-gejala kronis dan akut.
GEJALA AKUT GEJALA KRONIS

TANDA :
1. Epigastrium kanan terasa nyeri dan spasme
2. Usaha inspirasi dalam waktu diraba pada kwadran kanan atas
3. Kandung empedu membesar dan nyeri
4. Ikterus ringan
TANDA:
1. Biasanya tak tampak gambaran pada abdomen
2. Kadang terdapat nyeri di kwadran kanan atas
GEJALA:
1. Rasa nyeri (kolik empedu) yang
menetap
2. Mual dan muntah
3. Febris (38,5C) GEJALA:
1. Rasa nyeri (kolik empedu), Tempat : abdomen bagian atas (mid epigastrium), Sifat : terpusat di epigastrium menyebar ke arah skapula kanan
2. Nausea dan muntah
3. Intoleransi dengan makanan berlemak
4. Flatulensi
5. Eruktasi (bersendawa)

VI. Pemeriksaan penunjang
Tes laboratorium :
1. lekosit : 12.000 - 15.000 /iu (N : 5000 - 10.000 iu).
2. Bilirubin : meningkat ringan, (N : < 0,4 mg/dl).
3. Amilase serum meningkat.( N: 17 - 115 unit/100ml).
4. Protrombin menurun, bila aliran dari empedu intestin menurun karena obstruksi sehingga menyebabkan penurunan absorbsi vitamin K.(cara Kapilar : 2 - 6 mnt).
5. USG : menunjukkan adanya bendungan /hambatan , hal ini karena adanya batu empedu dan distensi saluran empedu ( frekuensi sesuai dengan prosedur diagnostik)
6. Endoscopic Retrograde choledocho pancreaticography (ERCP), bertujuan untuk melihat kandung empedu, tiga cabang saluran empedu melalui ductus duodenum.
7. PTC (perkutaneus transhepatik cholengiografi): Pemberian cairan kontras untuk menentukan adanya batu dan cairan pankreas.
8. Cholecystogram (untuk Cholesistitis kronik) : menunjukkan adanya batu di sistim billiar.
9. CT Scan : menunjukkan gellbalder pada cysti, dilatasi pada saluran empedu, obstruksi/obstruksi joundice.
10. Foto Abdomen :Gambaran radiopaque (perkapuran ) galstones, pengapuran pada saluran atau pembesaran pada gallblader.

VII. Pengkajian
1. Aktivitas dan istirahat:
• subyektif : kelemahan
• Obyektif : kelelahan
2. Sirkulasi :
• Obyektif : Takikardia, Diaphoresis
3. Eliminasi :
• Subektif : Perubahan pada warna urine dan feces
• Obyektif : Distensi abdomen, teraba massa di abdomen atas/quadran kanan atas, urine pekat .
4. Makan / minum (cairan)
Subyektif : Anoreksia, Nausea/vomit.
• Tidak ada toleransi makanan lunak dan mengandung gas.
• Regurgitasi ulang, eruption, flatunasi.
• Rasa seperti terbakar pada epigastrik (heart burn).
• Ada peristaltik, kembung dan dyspepsia.
Obyektif :
• Kegemukan.
• Kehilangan berat badan (kurus).
5. Nyeri/ Kenyamanan :
Subyektif :
• Nyeri abdomen menjalar ke punggung sampai ke bahu.
• Nyeri apigastrium setelah makan.
• Nyeri tiba-tiba dan mencapai puncak setelah 30 menit.
Obyektif :
Cenderung teraba lembut pada klelitiasis, teraba otot meregang /kaku hal ini dilakukan pada pemeriksaan RUQ dan menunjukan tanda marfin (+).
6. Respirasi :
Obyektif : Pernafasan panjang, pernafasan pendek, nafas dangkal, rasa tak nyaman.
7. Keamanan :
Obyektif : demam menggigil, Jundice, kulit kering dan pruritus , cenderung perdarahan ( defisiensi Vit K ).
8. Belajar mengajar :
Obyektif : Pada keluarga juga pada kehamilan cenderung mengalami batu kandung empedu. Juga pada riwayat DM dan gangguan / peradangan pada saluran cerna bagian bawah.
Prioritas Perawatan :
a. Mengurangi nyeri dan meningkatkan istirahat.
b. Pertahankan keseimbangan cairan dan elektrolit.
c. Cegah komplikasi.
d. Berikan imformai tentang proses penyakit, prognosa dan pengobatan yang dibutuhkan.
Tujuan Asuhan Perawatan :
a. Mengurangi nyeri.
b. Pencapaian keseimbangan (Homeostasis).
c. Mencegah komplikasi seminimal mungkin.
d. Proses penyakit, ramalan dan proses pengobatan.
VIII. Diagnosa Perawatan:
A. Nyeri (akut) sehubungan dengan :
Trauma biologi obstruksi/spasme saluran proses peradangan, iskhemi/nekrosis jaringan, ditandai dengan :
• keluhanon nyeri, colik billiary (frequensi nyeri ).
• Ekspresi wajah saat nyeri, prilaku yang hati-hati.
• Respon autonomik (perubahan pada tekanan darah ,nadi).
• Fokus terhadap diri yang terbatas.
B. Potensial Kekurangan cairan sehubungan dengan :
• Penigkatan kehilangan cairan lambung : muntah, distensi dan hipermolity gaster.
• Pengobatan yang mempunyai efek mengurangi cairan.
• Proses pembekuan yang ditandai dengan :
Tanda dan gejala yang tidak stabil tidak dapat diaplikasikan pada diagnosa yang aktual.
C. Potensial gangguan Nutrisi : Kurang dari yang dibutuhkan tubuh, sehubungan dengan: Faktor-faktor resiko yang mempengaruhi :
• Dibebankan pada diri sendiri dan dibatasi makanan yang diberikan, mual, muntah, dispepsia, kesakitan.
• Kehilangan nutrisi, mempengaruhi pencernaan yang disebabkan karena gangguan/penyempitan saluran empedu.
D. Kurangnya pengetahuan tentang prognosa dan kebutuhan pengobatan, sehubugan dengan :
• Menanyakan kembali tentang imformasi.
• Mis Interpretasi imformasi.
• Belum/tidak kenal dengan sumber imformasi.

Daftar Pustaka :
1. Soeparman, Ilmu Penyakit Dalam, Jilid II, Balai Penerbit FKUI 1990, Jakarta, P: 586-588.
2. Sylvia Anderson Price, Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit. Alih Bahasa Adji Dharma, Edisi II.P: 329-330.
3. Marllyn E. Doengoes, Nursing Care Plan, Fa. Davis Company, Philadelpia, 1993.P: 523-536.
4. D.D.Ignatavicius dan M.V.Bayne, Medical Surgical Nursing, A Nursing Process Approach, W. B. Saunders Company, Philadelpia, 1991.
5. Sutrisna Himawan, 1994, Pathologi (kumpulan kuliah), FKUI, Jakarta 250 - 251.
6. Mackenna & R. Kallander, 1990, Illustrated Physiologi, fifth edition, Churchill Livingstone, Melborne : 74 - 76.


































NAMA KLIEN : ASUHAN KEPERAWATAN


BANGSAL/TEMPAT: MATA AJARAN : NAMA MAHASISWA :

No DIAGNOSA PERAWATAN TUJUAN INTERVENSI RASIONAL IMPLEMENTASI EVALUASI
1. Potensial kurangnya vo lume cairan, sehubu ngan dengan :
• Peningkatan kehilangan cairan lambung : muntah, distensi, hipermolity gaster.
• Pengobaan yang mengurangi cairan.
• Proses pembekuan.
Data Subyektif :
Klien merasa mual.
Data Obyektif :
• Muntah
• Turgor kulit menurun.
• Selaput membran kering.
Menunjukkan keseimba ngan cairan yg adeku at, ditandai dengan :
• Selaput membran yg lembab.
• turgor kulit baik.
• Capillary refil,
• Out put normal, tdk ada muntah.
1. Mempertahankan intek dan out put yang tepat tdk melebihi, peningka tan BJ urine. Mengkaji kulit & selaput mem bran, nadi perifer & capi llary refil.

2. Monitor tanda-tanda / gejala yang meningkat / terus - menerus ,kram perut, kelelahan,kejang, serangan denyut jan tung yg tidak teratur, parasthesia, bising usus kurang dr normal, penu
runan respirasi.
3. Menghindari bau dari lingkungan .

4. Gunakan spued kecil utk melakukan injeksi & lakukan penekanan yg lebih dr biasanya sete
lah pemasukan vena.
5. Melakukan oral higiene dan kumur-kumur sese ring mungkin, berikan pe lumas.
6. Kaji perdarhan yg tdk biasa, seperti yg keluar dr bekas suntikan, epista ksis, perdarahan pada gusi, petekia, hemato mesis atau melena.
7. Memberikan obat-obat anti muntah : Prochorpenazine.
8. Mencek kembali hasil-hasil lab : HB, Hct, Elektrolit, ABG, titik beku.


9. Memberikan cairan IV, elektrolit dan Vit K.
Memberikan imformasi tentang status cairan, volume sirkulasi & kebutuhan yang diperlukan.





Muntah yang terus menerus, aspirasi gaster & pembatasan intake cairan dpt menyebab kan kekurangan Na , K ,Cl-.





Membantu mengurangi rang sangan pada pusat muntah.

Mengurangi trauma hematum/ reiko perdarahan.



Mengurangi kekeringan pada selaput mukosa mulut, me ngurangi resiko perdarahan.

Protrombin darah berkurang dan waktu pembekuan ber tambah ketika aliran empedu mengalami obstruksi hal ini meningkatkan resiko perdara han.
Mengurang mual & mencegah muntah.

Membantu dlm mengeva luasi volume sirkulasi, identifikasi kekurangan/defisit dan penga ruh pemilihan intervensi utk koreksi/ penggantian.
Menjaga pengaturan volume sirkulasi & memperbaiki ketidak seimbangan
• Mencatat intake dan out put cairan selama 24 jam :
intake : 2500 cc
Output : 1900 cc
IWL : 600 cc
T Tube : 200 cc
Balance: - 200 cc

• Kaji tanda-tanda gejala yg mungkin timbul:
Kram perut,
Kelemahan,
Serangan denyut jantung,
Bising usus,
Penurunan respirasi.

• Menciptakan lingkungan yg segar dan bersih.
• Mengganti alat tenun tiap pagi.
• Mengambil darah intra vena (HB,HMT,HCT) dgn menggunakan spuit yang terkecil.( No: 23 ).
• Menganjurkan pada klien dan kelurganya utk meng gosok gigi.
• Memperhatikan luka tusu kan setelah pengambilan darah intra vena/infus yang terpasang serta tanda-tanda perdarahan lain yang mungkin timbul.
• Kolaborasi, berikan obat anti emitik jika perlu.
• Telah diperiksakan ulang pemeriksaan laboratorium dan mencatatnya :
HMT : 31
HB : 10,7
Leuko : 154.00
Trombo : 328.00

• Klien telah terpasang infus RL dan NaCl 30 tts/mt. Tgl 1 Mei 1996
S : Klien masih me rasa mual , sang- gup mengosok gigi dan berkumur.
O : Kliem muntah 50 cc , turgor kulit agak membaik, balans cairan - 200 cc, TD: 120/80, Nadi : 88x, Suhu: 37 C, R : 20x, Capillary refil, ple bitis pada ta ngan kiri bekas pengan bilan darah.
A: Klien masih me merlukan penga wasan dalam ke seimbangan cai ran
P: Intervensi tetap diteruskan sambil observasi intake dan out put dan tanda-tanda vital.
2. Potensial perubahan nutrisi : kurang dari yang dibutuhkan sehubungan dengan faktor resiko yang berpengaruh. Menunjukkan keseimbangan nutrisis yang adekuat. 1. Menilai perut kembung, melilit, terjaga, enggan untuk berpindah.
2. Mengkalkulasi kalori yg diperlukan, menjaga per mintaan makanan kesukaan.

3. Diskusikan tentang ma kanan yang beresiko dan membuat jadwal makanan yang disukai.

4. Memberikan ketenangan pada saat makan, menghilangkan stimulasi yg membaha yakan.
5. Memberikan higiene oral sebelum makan.
6. Bejalan-jalan &mengem bangkan aktivitas bila memungkinkan.


Tanda-tanda yg bukan verbal dr kegelisahan yg dihubung kan dg gangguanpencernaan.
Mengidentifikasi kebutuhan-2 difisiensi nutrisi : memfokos pd maslah yg menyebabkan tekanan osmosfir negatif & meng ganggu pemasukan.
Bersama pasien merencana kan yg memungkinkan pasien diikutsertakan utk mengontrol diri sendiri dan mendorong utk makan.
Memanfaatkan dorongan naf su makan/ mereduksikan mual.



Membersihkan mulut mening katkan nafsu makan.
Membantu dlm flatus,menga tasi masalah yg berkaitan dgn kurang gerak. • Memeriksa abdomen, kem bung melilit, terganggu, ak tifitas/tidak.
• Telah doberikan diit cair ren dah lemak & habis dima kan.


• Diskusi dengan klien ttg ke biasaan makan dirumah termasuk makanan yang disukai.

• Memberikan suasana ten ang dan nyaman/santai pada saat makan : mis makan sambil duduk.

• Klien dianjurkan berkumur dulu sebelum makan.
• Mengajak klien beraktivitas duduk, terutama waktu ma kan.
Tgl 1 mei 1996
S: klien merasa sa kit bila diubah posi si, Klien menyata kan senang maka nan yg disediakan dan se lalu habis, menya takan ma kanan yg disukai adalah supermie.
O: Diit yang disaji kan habis,klien te lah melakukan ku mur, klien duduk pada saat ma kan.(mobilisasi du duk).
A: Intervensi telah dilaksakan sesuai dg diit.
P: Konsul ke Gizi utk makanan cair ke lunak, intervensi dilanjutkan.
3. Kurang pengetahuan tentang prognosa dan kebutuhan pengoba tan, sehubungan dgn : pertanyaan- pertanya an, menanyakan kem bali informasi. • Secara verbal me ngerti akan proses penyakit, pengoba tan dan prognosir.
• Kebutuhan menilai pola hidup & ber peran dlm pengo batan. • Memberikan penjelasan antara prosedur utk pe meriksaan, persiapan - persiapannya.
• Ulangi proses penyakit, Prognosa & kemungki nan pengobatan.

• Ulangi kebiasaan pema kaian obat dan kemung kinan efek sampingnya.
• Instruksikan pd klien utk menghindari makanan atau minuman tinggi le mak (susu, eskrim, men tega, gorengan, ka cang - kacangan.
• Jaga makanan yg me ngandung gas atau yg menimbulkan iritasi lam bung.(makan pedas).
• Kaji tanda-tanda yg me merlukan tindakan me dis spt demam beru lang, mual & muntah, nyeri, kering pd kulit atau mata gatal, urine gelap, feses spt dempul
• Anjurkan utk istirahat dlm posisi semifowler se telah makan.
• Anjurkan klien utk me ngurangi menghisap rokok. • Imformasi dpt menurunkan kecemasan, hal ini mere duksi stimulus Simpatik.

• Memberikan pengetahuan dasar agar pasien dapat memilih unit-unit yg diguna kan.
• Komunikasi yang efektif dpt menurunkan kecemasan & meningkatkan kesehatan.
• Batu empedu sering kam buh, memerlukan waktu terapi yg lama. Berkem bang menjadi deare, kram antara terapi cherodiol pd dosis relatif atau tepat.
• Mencegah/ membatasi da ri serangan/ kekambuhan batu empedu.

• Indikasi dalam proses pe nyembyuhan penyakit/ per kembangan komplikasi me merlukan tindakan yg le bih cepat.


• Mempercepat aliran empe du & relaksasi umum sela ma proses pencernaan.
• Meningkatkan distensi gas trik/ketidak nyamanan ka rena meningkatnya gas.





• Mendiskusikan dg klien ttg prosedur yg dilaksanakan di RS dgn penjelasan seper lunya.
• Memberikan alternatif ke mungkinan penyembuhan & proses penyakitnya.
• Memberikan rasa aman & nyaman pada pasien.
• Memberi dukungan yg po sitif pd klien.
• Mengkaji pemakaian obat & kemungkinan efek sam pingnya.
• Mendiskusikan dg klien ttg makanan yg harus dihindari (mengandung lemak) & mengurangi kebiasaan me rokok.

• Mengkaji tanda & gejala demam, mual muntah, nye ri, kulit kering (+), urine ge lap.



• Menganjurkan klien utk po sisi semifowler setelah ma kan.
• Menganjurkan klien utk me ngurangi menghisap rokok.
Tgl 1 mei 1996
S : Klien tlah me mahami ttg prose dur & pemeriksa an di RS, klien me ngungkapkan rasa aman & nyaman di RS, Klien sang gup makan yg rendah lemak/ ren dah gas & yg dpt merusak gas ter, & mau mengurangi rokok.
O: Demam (-), uri ne : kuning, Mun tah: (-), Hasil T Tu be : kuning, sete lah makan posisi semifowller.
A: Pengetahuan kli en ttg. peny, pe nyebab, prognosa , faktor yg terjadi.
P : Intervensi tetap diteruskan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar